Selasa, 13 Desember 2016

Grup Emak-Emak Positif

Allah Maha Mengetahui apa yang hamba-Nya butuhkan. Sekalipun bertemu sepintas dengan seseorang pun bisa menjadi rahmat dari Allah untuk kita. Yakin? Sangat bagi saya.

         Awal mula saya senang mengikuti perkembangan postingan FB dari seorang "mba" penjual buku online. Menurut saya, si "mba" itu tidak hanya sekadar penjual buku dan ternyata memang bukan. Ada satu profesi kekinian yang bernama book advisor. Mungkin saya saja yang kurang gaul sampai menyebut itu profesi kekinian.  Nah, bukan saya jika melihat ada postingan buku terus diam saja, apalagi sekarang punya bayi dan sadar hampir tidak punya buku bacaan anak. Mulailah saya tanya harga dan menjalin komunikasi lebih intens dengan sang "mba" tersebut.

         Ada peribahasa dunia tak selebar daun kelor, maksudnya dunia itu sempit. Si "mba" book advisor itu ternyata alumni dari SMA yang dekat banget dengan SMA saya, satu wilayah sebutlah. Ketika saya sudah ketok palu untuk ikut program arisan buku di bawah kendali si "mba" itu, diajaklah saya bergabung pula di grup yang anggotanya pernah dan atau sedang ikut arisan.

         Luar biasa, Masya Allah! Dalam sehari, grup tersebut percakapannya bisa sampai 100 atau pun lebih (seringnya lebih, hehe). Usut punya usut percakapannya seputar keibu-ibuan beserta pernak-pernik emak-emak, misalnya resep masakan, seputar hamil-menyusui, dagangan, diskon, prakarya anak, dll. Saya merasa tidak ada satu chat pun yang sia-sia. Bayangkan, peserta grup berasal dari berbagai daerah yang saya pun tidak tahu secara keseluruhan, tetapi membahas permasalahan yang sama. Walau kadang dari satu permasalahan pindah ke permasalahan lain, tanpa pakai lampu sen dulu, hehehe, alias random. Saya sih agak maklum secara emak-emak emang gitu tuntutannya: multitasking.

         Niat di awal saya hanya membeli buku, tetapi Allah memberi lebih, yaitu pengetahuan dan persaudaraan. Dari grup tersebut, saya tidak merasa was-was sendiri terhadap berat badan anak, saya lebih perhatian terhadap tumbuh kembang anak secara fisik dan psikologis, serta bersyukur terhadap perkembangan si bayi saya saat ini, alhamdulillah. Positif banget pokoknya. Rada tutup mata terhadap memori yang penuh serta kuota yang tersedot, biarkanlah. Semoga si "mba" itu makin keren dan keluarganya selalu dirahmati Allah, begitupun para emak-emak di dalam grup.
(Si "mba": Widi Astuti)

@ruang
14Des'16 _11.45

Selasa, 06 Desember 2016

Pengalaman IMBEX 2016

        Beberapa hari sebelum tanggal 26 November 2016 saya menemukan iklan sponsor di Facebook terkait pameran bernama "Indonesia Maternity, Baby, and Kids Expo 2016" disingkatnya IMBEX 2016. Dasar saya orangtua baru dan kebetulan sedang mencari kursi makan untuk bayi, kayaknya saya mesti betul datang, nih! Sebenarnya IMBEX itu acara tahunan yang sudah lama diselenggarakan di sekitar bulan November, tapi saya memang kurang gaul tentang pameran, terlebih lagi yang ga gratis masuknya, hehehe, secara bertempat di JCC Senayan. Baiklah, saya lobi-lobi suami yang pas banget sudah gajian di tanggal itu. Setelah menjelaskan singkat aja tentang IMBEX, hore, disetujui.

         Kami datang di hari kedua pameran IMBEX, tepatnya hari Sabtu. Niatnya setelah sholat dzuhur baru jalan karena saya ada tamu pagi sampai siang, eeh, ternyata di-cancel sama si calon tamu. Entah kenapa, kami pun jadi sangat bersemangat memajukan jadwal pergi, tentu saja naik motor dengan si bayi. Estimasi saya, perjalanan lancar jaya dan tidak sampai 30 menit, ternyata saya baru merasakan kemacetan Jakarta yang luar biasa di weekend pagi menjelang siang itu. Alhasil, hampir satu jam perjalanan kami. Untung alhamdulillah ketika sampai, saya masih bersemangat meski abis macet-macetan.

         Kalau boleh jujur, saat itu adalah pertama kalinya saya masuk ke JCC, biasanya di depannya aja. Tiket masuknya Rp 20.000 per orang, si bayi tentu gratis. Okelah dapat tiket plus tambahan satu buah diapers keren per orang di dalan plastik. Kondisi saat itu ramai, tapi belum seramai IBF, jauhlah perbandingannya. Dari penampilan pengunjung, sudah pasti nih, untuk kalangan menengah ke atas. Dalam hati saya, tiba-tiba ada keraguan bakal nemu yang  diinginkan serta dengan harga miring pula.

       Saya sudah observasi harga di berbagai online shop untuk perbandingan terhadap barang yang mau dibeli. Brand yang jadi incaran adakah "Pliko". Setelah ke stand yang bersangkutan, tarraa, di sana hanya memajang stroller tidak ada selain itu. Niat saya, hanya membeli kursi makan dengan harga murah serta hadiah untuk bayi dari teman suami. Selain itu? Tidak ada pembelian. Beda niat, beda kenyataan, hehehe.

         Keliling dan observasi, ternyata tidak menemukan barang yang diinginkan serta diskon yang ditawarkan kurang poooooll. Rada kecewa sih, cuma lumayan jadi ada pengalaman. Tapi, bagi yang mencari stroller lumayan recommanded karena banyak pilihan dan agak miring harganya dibandingkan toko. Hadiah untuk teman suami juga rada biasa diskonnya. Gapapa, barangnya lumayan kece. Alhamdulillah, kekecewaan sedikit terkubur dengan dikasih gratisan dari "baby scotts" karena kami menggunakan produknya plus difoto ala model gitu bertiga. Setelah capek berkeliling, suami sudah kelaparan dan tergiur dengan aroma dari panggangan sosis. Tidak perlu ditanya yah, terkait harga, bocorannya untuk "jajan" ternyata lebih mahal dari hadiah, beeeuuh.

Poin pentingnya, online shop lebih jadi pilihan untuk orang seperti kami yang ga nahan untuk jajan setelah jalan-jalan. Hihi.

        

@ruang
6 Des'16_ 18.25

Sabtu, 26 November 2016

Ceriakan Weekend

Weekend...

         Bagi full mommy kayak saya, mau akhir pekan, awal pekan, atau tengah pekan itu hampir sama saja. Ngomong-ngomong, ternyata sudah lama juga saya tidak update blog sampai tiba-tiba jadi mommy. Halaaah.. gaya sekali saya dengan penyebutan "mommy" biasanya juga emak, hehehe. Kembali ke pembahasan tentang akhir pekan. Sepemantauan saya terhadap kebanyakan orang, mereka banyak menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan, kulineran, dan bersenang-senang bareng keluarga serta wefie di outdoor. Sering dalam sanubari ini ingin dapat menikmati hal yang sama. Eeiits, ini bukan berarti saya beserta suami dan si bayi tidak pernah hangout pas akhir pekan. Akan tetapi, saya merasa ada saja hal yang salah sepulang dari aktivitas tersebut.

         Dasar saya terlalu irit dan agak pelit, saya selalu perhitungan setelah jalan-jalan atau kulineran. Saat perhitungan selesai, saya tidak lagi merasa gembira. Nah, "kebebasan" saya keluar rumah pun berubah menjadi sedikit penyesalan. Kenapa seperti itu? Selidik punya selidik mungkin karena saya hanya kepengen ikut-ikutan gaya orang elite atau elite-elite-an, bukan berdasarkan manfaat yang akan kami dapatkan setelah aktivitas di akhir pekan.

         Saya lebih merasa nyaman dan gembira ketika akhir pekan dipakai untuk bersilaturrahim dengan keluarga besar atau bertatap muka dengan kawan seperjuangan. Ada pun aktivitas belajar Islam dan Qur'an di akhir pekan lebih berlipat ganda kebahagiaannya. Seandainya pun, secara ekonomi, ada materi yang keluar dari dua kegiatan tersebut, tapi yang didapatkan lebih indah dan tidak sebanding nilainya. Kalau suami saya, ada lagi aktivitas akhir pekan yang gratis dan bikin dia bahagia: bobo.

         Yuk..yuk.. cerdas beraktivitas di akhir pekan. Jangan sampai hari ini sama dengan kemarin bahkan lebih buruk dari hari kemarin. Umat Rasulullah itu selalu berusaha menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin. Bismillah.

Noted to myself >_<

@ruang
27 Nov'16_ 07.15

Senin, 01 Agustus 2016

First Love in First Step

1 Agustus 2015

         Selesailah pertanggungjawabanmu atas diriku. Entah maksud apa yang ingin kau tampakkan dari air mata dan suara gemetarmu. Haru atau sedihkah? Atau mungkin gabungan antara keduanya. 25 tahun bukan waktu yang sebentar untuk berjuang "menghidupkan"ku. Dalam rentang waktu tersebut pula kebersamaanmu dalam menjagaku tak dapat terukur hanya dengan harta, walau ku tahu jutaan rupiah telah kau habiskan demi kehidupanku. Sikap sederhana, ramah, dan tegar dirimu sungguh berkesan, itulah sebab dirimu akan menjadi pria pertama teristimewa bagi diriku.

(Papa)

♡♡♡

Perjalanan ini masih panjang serta tidak mulus dan syukurku karena itulah Allah mengirimkanmu di hidupku. Setahun belumlah lama, bahkan terasa berlalu begitu cepat, sedangkan kita masih belum menentukan rute terbaik meraih ridho-Nya.
Keegoisan kita belum rukun saling bergandengan. Oleh karena itu, genggaman kita perlu dieratkan agar dalam perbedaan kita tetap saling memaklumkan.
Putaran waktu kita semakin sedikit, sedangkan amanah kita makin bertambah. Tiada kata kecewa karena dengan adanya amanah, berarti Allah memberi rasa percaya kepada kita. Semoga kita dapat menyelesaikan perjalanan dan mengembalikan titipan-Nya dengan sempurna. Pimpin dan arahkan langkahku karena aku masih tertatih berdiri tanda dirimu. Karena kitalah "sepasang kaki" yang menopang bersamaan.

(Aay, cintahku)

♡♡♡

Semoga satu tahun ini memberi banyak arti dan pelajaran bagi kita berdua.
Kamu yang bukan sosok romantis, tetaplah memberi perhatian manis, dan bersabarlah atas istrimu yang sering menangis tanpa alasan logis. ;P



@ruang
1 Agustus'16 _ 15.17
Bersama dengkuran Valide

Sabtu, 26 Maret 2016

WAIT!

Akhlak seorang muslim adalah tepat waktu. Kenapa? Karena muslim sejati harusnya mengerti betapa berharganya waktu bahkan melebihi harta sekalipun. Lalu sekarang lihatlah para penghambur waktu yang kebanyakan di Indonesia adalah seorang muslim. Yah, salah satunya: saya.

         Al 'asr..

Allah menjadikan masa atau waktu sebagai yang diabadikan dalam sebuah nama di dalam surat cinta-Nya. Begitu berharganya. Teramat pentingnya. Namun sayang, kita teramat sibuk dengan urusan kita sehingga tak lagi mempedulikan arti dari "masa" itu.

         Jikalau masa kita telah habis dan Allah mempertunjukkan episode kehidupan kita selama hidup, pasti kita akan mengiba pada Allah untuk dapat mengembalikan masa yang dahulu kita siakan. Begitulah, masa akan terus berjalan tanpa peduli hal-hal yang kita abaikan. Mana muslim sejati yang menjadikan masa selalu bermakna?

@somewhere
26Mar'16_ 21.23

Senin, 22 Februari 2016

Mereka yang Luar Biasa

Sejak saya mengajar, tiap tahunnya ada saja cerita tentang sang bintang yang saya dokumentasikan dalam blog ini. Tahun ini? Belum atau mungkin tidak. Ada apa?

         Setiap bintang dan angkatan di sekolah saya khususnya, punya cita rasa masing-masing. Inilah puncak saya tanpa rasa. Mungkin karena saking banyak tugas atau kedekatan hati dengan anak-anak yang kurang baik. Setiap muncul ide untuk cerita, tiba-tiba lenyap tergerus kesibukan sampai kelupaan.

         Nah, kan, saya lupa apa yang mau diungkapkan. Kelas saya ini luar biasa hingga membuat saya kehabisan kata-kata. Sebab mereka sangat luar biasa itulah, tidak cocok disejajarkan dengan saya, seorang pendidik yang biasa di luar.  :-P


@ruang
22Feb'16_ 18.10

Kapan Siap?


Pada waktu yang tepat, in sya Allah saya siap.
Tenang, saya sedang bersiap-siap.
Segala persiapan telah terjajarkan.
Pintu-pintu akan dibukakan dengan beberapa anak kunci.

Sambil di hati kecil ini berujar,
"Larilah!,"
"Persiapan sematang apa pun, tidak akan membuatmu siap,"
"Semoga anak kunci yang dibawa semua salah dan bom segera meledakkan yang terjajarkan"

Menunggu-nunggu ketetapan apa yang digariskan takdir.
Mencoba menerka dengan takut dan  terus menyakinkan keresahan.
Siapa sangka, siap atau tidak bukan perkara kapan.

Karena ia berupa
: keputusan!




@ruang
22Feb'16_ 18.00

Sabtu, 13 Februari 2016

Long Time to Cook

Alhamdulillah... setelah sekian lama sang suami minta pepes, akhirnya baru terkabulkan hari ini. Bukan karena bertepatan dengan Valentxxxx atau ada momen khusus apa pun, hanya takdirnya memang masak pepes hari ini. Berbeda dengan hari minggu sebelumnya, entah kenapa hari ini setelah bangun tidur moodnya sudah bagus, makasih ya Allah. Berawal dari mood yang bagus itulah saya berani coba-coba hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu masak "pepes".

         Memasak itu memang menyenangkan, apalagi jika hasilnya enak, wuuiiiih double bahagianya. Terus terang dalam memasak saya pernah gagal beberapa kali, tapi alhamdulillah lebih banyak suksesnya, hehehe... Hal lain yang saya syukuri adalah punya suami yang selalu menyemangati sang istri untuk mencoba masakan baru. Kata beliau siih, karena saya punya bakat masak (semoga jujur yah, suami saya). Ketika menu masakan baru saya gagal, menurut saya, suami saya tetap saja mau makan, mengharukan kan?

         Dua pekan lalu, saya mencoba menu masakan western dan agak luar negeri-lah, alhamdulillah berhasil. Nah, minggu ini, kami dapat oleh-oleh ikan peda dari kampung suami, dan dari kemarin-kemarin suami request untuk dipepes saja. Secara teori resep, saya sudah nanya ke mertua, hanya saja aplikasinya belum. Akhirnya, mumpung lagi libur dan bisa mengeksplorasi pasar plus mood yang oke, hari ini terwujudnya masak pepes.

         Mulai dari jam setengah delapan pagi sampai jam 12, saya sibuklah mengolah bahan-bahan, mulai dari belanja ke pasar dan proses memasak. Bahkan sampai saya menulis blog ini pun, masih proses masak dua pepes ikan lagi. Ternyata, rempong yaah. Saya belum tahu rasanya bagaimana, yang penting matang dulu, hihihi. Pengalaman yang baru banget bagi saya adalah menggunakan berbagai macam dedaunan dan bumbu dapur secara berbarengan saat memasak pepes ini. Wah, masakan ini Indonesia sekali yah.

         Saya menarik kesimpulan bahwa orang Indonesia itu telaten dan sabar banget dalam hal memasak. Coba saja lihat dari menu masakan Indonesia yang membutuhkan proses masak yang lama. Bukan hanya itu, masakan Indonesia juga khas bumbu masak yang beragam, seberagam budaya serta masyarakat Indonesia. Seharusnya saya lebih banyak belajar masak Indonesian food niih. Semoga lain kali jika ada waktu dan mood yang bagus bisa coba masakan yang lebih ribet dan menantang.

@ruang
14 Feb'16_ 13.25
         

Minggu, 29 November 2015

Solidaritas Palestina

Tanah Palestina adalah milik umat muslim di seluruh dunia. Kelak, malaikat israfil akan meniupkan sangkakala di Palestina dan kita akan bangkit dari kubur kemudian dihimpun di sana. (Syeikh Palestina)

       Seharusnya kita mengirimkan banyak-banyak hal kepada saudara kita di  Palestina, Gaza, Suriah, dan tanah Islam lain yang terjajah oleh musuh Islam. Bukan hanya doa, tapi uluran motivasi berupa donasi yang akan disalurkan. Luar biasa acara tadi di Istora Senayan terkait hari solidaritas Palestina. Ribuan orang memadati Istora dengan sepenuh rasa cinta terhadap saudara seiman.

         Saya pun tidak hadir full dari awal sampai akhir, tapi bagi saya ruh kebersamaan di sana cukup kuat. Acara klimaks dari acara itu adalah penggalangan dana bagi Palestina. Ada fashion show yang penjualan bajunya didonasikan untuk Palestina, pembelian novel kang Abik seharga 1 juta,  sampai lelang donasi tanpa barang dimulai dari 20 juta sampai 1 juta. Masya Allah... ada 2 orang yang melelangkan uang 20 juta tanpa barang, sekitar 6 orang melelangkan 10 juta, dan semakin banyak untuk 5 juta dan 1 juta. Semoga yang mendonasikan hartanya tadi ditambahkan dan diberkahi rizkinya oleh Allah. Aamiin...

         Solidaritas kita berasal dari aqidah. Kecintaan kita kepada Allah dan Rasulullah bermuara dalam ukhuwah. Hal ini pun karena kerinduan serta harapan agar dapat solat berjama'ah di Masjidil Aqsa bersama.

Allahu Akbar!


@ruang
29 Nov'15_ 23.52

Trik, Sembunyi, dan Strategi

Bersembunyi butuh strategi, tapi ketika bukan karena kebenaran pasti akan ada cara untuk segera diketahui.

Penasaran dan senang bisa aktif membaca novel detektif lagi. Pengarangnya masih sama, Conan Doyle, karena belum sempat atau memberanikan diri membeli novel detektif karangan pengarang lain. Biasa, masalah keuangan menjadi salah satu alasan juga, hehe. Berhubung ada obral buku Rp 10.000,00 di salah satu acara di istora senayan. Nah, acaranya nanti semoga sempat saya share juga yaah di mari ;-D.

         Kembali ke novel, genre yang saya senangi selain travel, keagamaan, yaah detektif. Dari bocah memang sudah rajin baca komik detektif Conan, bahkan koleksi sampai nomor 50-an. Semenjak akhir kuliah akhirnya berhenti langganan karena kasusnya tidak selesai-selesai, bosen juga. Ternyata setelah nemu kasus perdetektifan dalam bentuk novel, seru juga dan lebih puas bacanya.

         Selesai baca satu bab dalam novel, selalu membuat saya terperangah dan takjub. Karena hebat banget tuh Sherlock Holmes memecahkan kasus yang tidak disangka trik pelakunya. Sehebat-hebatnya seorang menyembunyikan sesuatu, pasti ketahuan juga pada akhirnya, yaah. Sosok si detektif serta rekan karibnya, Dr Watson, juga kuat sehingga bikin sensasi deg-degan juga saat mereka terlibat kasus. Cerdas, Doyle!

         Sudah malam, saatnya bersiap membuka tirai misteri hidup kita masing-masing. Jangan pernah menyerah, kita semestinya bisa menjadi detektif bagi diri sendiri. Fungsinya adalah menyadarkan jika ada "perbuatan-perbuatan aneh" kita yang melenceng, dapat segera kita tangkap dan memperbaikinya. Karena hakim kita kelak bukan manusia, melainkan Allah.




@ruang
29 Nov'15_ 23.30

Jumat, 06 November 2015

Bekerja dan Menunggu

"Kapan yah dapat mengaktualisasikan diri di bidang yang saya idam-idaman..?"

Sebuah tanya yang jelas hanya mampu dijawab oleh diri sendiri dengan kerja, sekeras serta secerdasnya kita bekerja. Tiga tahun lebih saya berpetualangan di dunia karier yang merupakan wujud dari sebuah kerja. Namun, saya merasa ada saja yang mengganjal dan kurang mengaktualisasikan diri dalam karier tersebut. What's wrong?

         Dalam kurun waktu 3 tahun, saya sudah berganti 2 profesi pekerjaan yang cukup bertolak belakang satu sama lain. Setahun pertama fokus dalam target-target penjualan serta belajar ilmu obat dan kesehatan. Di tahun berikutnya hingga saat ini fokus terhadap pengembangan karakter anak, kedisiplinan administratif pengajaran, serta belajar sabar dalam memberikan materi pengajaran plus pendidikan ke anak-anak. Dua profesi yang sama-sama mulia (semoga :D) dan memberi kesan pembelajaran yang unik bagi saya. Lantas, apa pula yang mengganjal? Semua kembali ke "niat".

         Niat itu secara rukun memang terletak di awal atau sebelum kita melakukan sesuatu. Akan tetapi, secara aplikatif, niat dapat diperbaharui di tengah, bahkan di detik menjelang akhir kegiatan kita, supaya berakhir husnul khatimah. Uniknya saya, saya jarang mengkhususkan niat pada awal sebelum memulai pekerjaan atau tepatnya saat berkarier. Ingat, khusus berkarier dalam 3 tahun ini.

         Niat awal saya pada profesi pertama  adalah mencari pengalaman dengan segera, tidak jadi pengangguran lama-lama pascasidang skripsi, dan berpenghasilan biar tidak merepotkan orangtua. Di tengah perjalanan menghadapi krisis semangat di profesi pertama yang memang sangat bertolak belakang dengan jurusan kuliah saya, datanglah seseorang membawa tawaran. Yaaps.. tawaran itu berisi ajakan bergabung alias alih pekerjaan ke profesi kedua. Jelas bahagialah saya yang sedang "patah hati" terhadap profesi pertama setelah ditawarkan pekerjaan baru itu.

         Demi profesionalitas, profesi pertama saya jalani setahun full sesuai kontrak. Menjelang resign, saya menemukan satu titik kenyamanan dalam bekerja di sana. Walaupun ada hal-hal yang kurang berkenan, saya merasa ada titik yang menunjukkan secercah harapan untuk mengaktualisasikan diri, next time, di dunia karier selanjutnya. Alhamdulillah, saya belajar banyak dari profesi pertama ini, tetap bersyukur agar kedepan lebih baik.

         Satu hari resign dari profesi di dunia kesehatan, saya pun langsung menuju profesi kedua. Sebelum menyeburkan diri dalam pekerjaan baru ini, angan-angan indah telah terbayang. Wajar, karena tawaran datang dari orang yang terpercaya, baik, dan sholehah. Tambahan lain, pekerjaan ini memang lebih sesuai dengan jurusan saya dan saya cinta dunia pendidikan. Niat awal bergabung memang hanya ingin segera  "pergi" dari profesi yang lama menuju hal yang lebih berhubungan dengan studi saya dan lebih aman saat weekend, maksudnya ada waktu untuk menuju ladang ilmu agama setiap akhir pekan. Lantas setelah dua tahun bergabung?

         Satu pekan bergabung di profesi kedua, saya merasa stress teramat dahsyat. Tidak terlintas kenyamanan saat itu. Saya pun segera ingin beranjak pergi atau mengundurkan diri. Beberapa lowongan menjadi pegawai negeri membuat saya makin semangat untuk keluar. Namun, niat untuk tetap profesional di hadapan Allah serta ketakutan mengembang amanah rakyat jika sebagai pegawai negeri terus terngiang. Yuups, akhirnya saya bertahan sesuai kontrak pada profesi kedua dan terus menerus diperpanjang. Kenyamanan timbul tenggelam, tepatnya sekali timbul, berpuluhan kali tenggelam. Saya tahu begitu mulia pekerjaan saya ini, tapi... aaah... ya Allah, saya belum beraktualisasi, belum menjadi seutuhnya jiwa yang bekerja, jiwa yang menyertakan kecintaan menjadi khaira ummah.

         Di setiap niatan, sertakan Allah: karena Allah, cukup bagi kita Allah, biarkan Allah yang menentukan hasil dari kerja-kerja kita. Allah yang membuka jalan bagi doa-doa kita. Allah. Minta saja kekuatan dari Allah, ikhlaskan bekerja di jalan-Nya. Bukan menjadi yang biasa bekerja, tapi jadilah pekerja yang luar biasa karena Allah.

NB: pekerja itu bukan hanya yang digaji    : -D

Wallahu'alam



@ruang
7 Nov'15_ 09.17      

Minggu, 11 Oktober 2015

Kepusingan

Berat sekali memejamkan mata saat malam akhirnya berefek pada keberadaan saya di rumah hari ini. Ya, seharusnya saya sekarang sedang bersama anak-anak di sekolah. Rumah kontrakkan kami memang mungil, tapi ternyata menyimpan angin yang cukup banyak. Kemungilan rumah kami juga ternyata berperan serta pada pening yang tersimpan di kepala saya. Aaah...

         Hampir dua setengah bulan berstatus istri dan hampir sebulan mencoba mandiri dengan tinggal terpisah dari orangtua belum cukup bagi saya untuk beradaptasi. Benarkah? Hingga semua pikiran, perasaan, bersatu padu mengalahkan diri saya: menaklukkan kekuatan vitalitas, menggoyahkan imunitas, memerosotkan spiritualitas. Iyakah? Aaah..

         Bukan. Semua hanya alasan untuk bersiasat mundur ke belakang. Keberkahan memang kasat mata, sedangkan amanah nyata di muka. Semua itu bentuk ketidaksabaran dan kurangnya ikhtiar serta tawakal di diri saya.

         Seringkali kita menjadikan masalah kehidupan  sebagai pelegalan rasa keluh kesah. Padahal, masalah hidup mengajarkan kita untuk kembali, kembali kepada Allah. Rasa sakit fisik memang salah satu efek yang bisa terjadi saat kita tidak berpasrah kepada Allah atas pikiran kita tentang masalah hidup.

         Saya salah satu pelaku sekaligus korban dari mindset yang salah terhadap masalah hidup. Saya harus segera kembali. Walaupun waktu tidak bisa dikembalikan seperti semula, saya yakin bisa memperbaiki takdir saya atas izin Allah. Takdir yang belum bisa saya raba dan terka. Oleh karena itu, saya harus berusaha saja dengan kesungguhan tanpa perlu susah payah mengatur akhir dari usaha tersebut. Cukup Allah yang bertindak atas hasil.

"Ya Allah.. kuatkanlah punggung kami dalam memikul amanah. Sungguh kebodohan, jika kami yang telah berakad sanggup melalui amanah-amanah tersebut namun enggan menjalani dengan kesungguhan. Semua atas izin-Mu, ampunilah kami"

@ruang
12 Okt'15_ 08.51

Kamis, 24 September 2015

Lelakiku Cintaaah

Kepadamu yang tertampan...

Tidak perlu momen khusus untuk menyampaikan pesan
Untukmu yang telah kuberi penuh kepercayaan
Karena terhadapku, hal itu pula yang kau lakukan
Saat pertama kali jumpa, dirimu sudah membuatku terkesan
Berbagai rasa senang dan sedih mewarnai perjalanan
Belumlah panjang memang, tapi kutahu kan banyak tantangan
Semoga mimpi-mimpi besar kita bukan sekadar angan:
   yang hilang ketika cobaan       mengguncang
   yang tertanam malas dan kecewa ketika kertergesa-gesaan menerpa

Cinta...
Aku bahagia karena Allah mempertemukan kita
Syukurku karena Allah menyambungkan ikatan kita
Kini, doakan aku setia bertahan di belakangmu dalam ketaatan
Bersama berjuang meraih keberkahan
Katamu, dengan langkah yang istimewa; bukan yang biasa-biasa saja, agar Allah terpana

Semoga cinta kita diridhai Allah ; -)




@ruangkami
25Sept'15_ 09.44
Jumat berkah indah

Kaum Muslimin . . .

Innalillahi wa innailaihi roji'un..

Begitu banyak tragedi yang menimpa kaum muslimin di dunia saat ini. Tragedi teranyar yang sedang marak-maraknya disorot media internasional adalah tragedi haji di Arab Saudi. Belum lama karena adanya badai, crane jatuh dan menimpa beberapa jamaa'ah haji sampai meninggal. Selang waktu kemudian (baru-baru ini), tragedi Mina menewaskan ratusan jama'ah haji. Dosa kami terlalu banyak, ya Allah.. astaghfirullah.

         Tragedi di Arab terkait haji semoga hanyalah kecelakaan tak disengaja. Adapun selain itu, lebih banyak tragedi penyiksaan terhadap kaum muslimin yang sangat jarang disorot media. Penyiksaan di Suriah, Iraq, Iran, Palestina, dan negeri muslimin lainnya yang jumlah korban jiwanya lebih banyak. Lebih banyak karena telah bertahun-tahun kaum muslimin disiksa oleh penguasa kafir di negara-negara tersebut.

         Saya masih jauh pemahaman tentang itu, tapi saya selalu mencoba membuka penglihatan mata serta hati untuk mengetahui lebih lanjut kondisi umat Islam di dunia. Harus! Karena sesungguhnya sesama umat Islam adalah bersaudara, disaudarakan dengan aqidah. Kelak, di akhirat, kita semua akan ditanyakan tentang kepedulian kita terhadap sesama muslim. Jika memang kondisi umat muslim seperti ini (tertindas), sudah saatnya kita menolong. Menolong dengan strategi dan kemampuan terbaik kita serta doa-doa terkhusus kita bagi keselamatan dan kejayaan umat Islam. Bismillah...




@ruangkami
25Sept'15 _ 07.30

Jumat, 11 September 2015

Komunikasi Efektif versi Parenting

Komunikasi itu penting. Penting pula jika kita memahami makna di balik komunikasi serta cara terbaik dalam mengemasnya, terutama kepada anak. Komunikasi tidak selamanya melulu berhubungan dengan lisan (sebutlah verbal) karena banyak sekali komunikasi non-verbal yang ternyata dibaca oleh anak.

         Saya mulai dari komunikasi yang mainstream atau dikenal baik dengan sebutan cakapan. Anak-anak diciptakan oleh Allah dengan kecerdasan luar biasa. Sedari bayi pun, sang anak memiliki daya tangkap komunikasi yang diberikan dari sang ibunda, misalnya melalui sentuhan atau percakapan. Menurut penuturan ibu Siska, trainer parenting, bayi dari 0-3 tahun harusnya distimulus dengan berbagai kata. Dengan sikap rajin ibu, ayah, dan orang-orang di sekitar bayi dalam berbahasa, secara tidak langsung mempengaruhi struktur otak sang bayi. Masya Allah, keren yaah. Oleh karena itu, pesan bu Siska adalah jangan pernah meninggalkan bayi sendirian dalam keadaan bayi sedang sadar. Sang bayi sebaiknya diajak bicara atau diskusi untuk mengembangkan kecerdasan berbahasa serta menyusunkan struktur otak bayi tersebut. 

          Lalu, apakah cukup sampai dengan anak usia 3 tahun sikap rajin berbahasanya dimunculkan? Ternyata menurut bu Siska, tidak cukup. Anak usia sekolah SD pun (6-12 tahun), ketika ingin tidur sangat penting untuk ditemani orang tua atau orang dewasa lainnya. Hal ini penting untuk menjalin komunikasi yang efektif terhadap anak, terutama bagi ayah ibu yang sama-sama meniti karier sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk anaknya.

         Komunikasi anak di era ini sedikit banyak tercemari oleh perangkat modern. Saat komunikasi tercemar, karakter anak pun sedikit demi sedikit terkikis. Gaya berbahasa anak pun semakin menjurus ke cakapan yang kurang bermanfaat ketika tercemari gadget. Akan lebih baik dan idealnya, anak-anak tidak diberikan gadget sampai usia mereka 9 tahun demi membentuk karakter yang baik. Ajarkan anak bermain dengan alam, kegiatan olahraga, musik, kesenian, kerajinan tangan, puzzle, untuk mengganti keasyikkannya dalan ber-gadget.

         Lantas, bagaimana dengan komunikasi non-verbal? Dalam hal ini sikap orangtua sangat mempengaruhi anak. Anak dapat mempelajari dengan cepat, lalu meniru berbagai sikap orang dewasa, misalnya gaya berjalan, gaya bicara orang yang dekat dengan mereka. Bahkan, saat orangtua memiliki tatapan mata berbeda akan suatu hal, sang anak dapat mengetahuinya. Itulah mengapa tanpa perlu kita berteriak saat marah, anak sudah mengetahui bahwa kita sedang marah hanya dari tatapan mata kita.


Wallahu'alam..
Hanya mampu merangkai cuplikan ucapan trainer parenting istimewa. (Saat training parenting@ SDIT Al-Kawaakib, 5 Sept'15)



@ruang
10 Sept'15_ 20.32
#aaa manah

        

Kamis, 13 Agustus 2015

Perjalanan Dengan Cinta

Bismillah...

Senangnya, akhirnya saya si penduduk setia Jakarta bisa jalan-jalan ke luar kota (lagi), selain Jabodetabek. Ini bukan yang  pertama kali ke luar kota memang, tapi saya yakin ini yang terindah, aamiin, karena inilah debut awal bagi saya di perjalanan kereta bersama suami tercinta selama 9 jam.

         Hari ke-12 bersuami, dan 12 hari sebelumnya belum full bareng-bareng dengan setumpuk agenda masing-masing dari kita. Semoga perjalanan panjang ini bisa memupuk rasa cinta yang lebih dalam lebih indah, serta lebih berkah. Seyogianya, penting dalam hubungan rumah tangga sesekali melakukan perjalanan panjang berdua, terlebih bagi saya yang senang jalan-jalan keliling. Yaaahh, terutama karena kami masih tergolong pasangan baru juga kali ;-P..

         Awalnya kami rasa cocok jika jalannya ke Bandung atau sekitar sana saja, tapi si "cintaah", suami saya, dalam kurang dari 5 hari sebelum perjalanan mengganti usul untuk ke Yogya. Baiklah, jadi deh ke Yogya. We're coming Yogya.....


@Kereta Api Taksata
13Agust'15_ 16.25

Rabu, 22 Juli 2015

Bosan....Lalu Aku?

Bosan?

Di-enjoy-in aja...

         Apakah krisis aktivitas yang menyebabkan timbulnya rasa jenuh atau bosan? Sering kan, kita merasakan bete, sebel, dan bingung mau berbuat apa ketika teman yang kita tunggu tiada tampak batang hidungnya. Yang paling sering kita lakukan saat menunggu adalah bolak-balik melihat gadget atau sebutlah semisal hape, padahal tidak ada notifikasi apa pun, hiiih, bosan, kan?

         Baiklah, kita sebut saja kejadian di atas sebagai kebosanan tipe pertama. Bosan karena krisis kegiatan: bingung mau berbuat apa. Jika masih punya sekantong kesabaran, kita masih berpositif untuk melakukan aktivitas ringan saat menunggu, misal dari yang paling sholeh mengaji, browsing, atau lihat-lihat sekitar sambil merenungkan tentang hidup (berat yaah). Tetapi hal ringan tersebut, jangan harap bisa mudah dilakukan kalau kita sudah sangat kesal menunggu, bad mood duluan. Ada lagi nih bosan tipe selanjutnya.

         Pagi ini sampai pukul 10.00 ada breifing dan beresin berkas-berkas. Setelah itu, rapat. Pukul 12.00 tepat  menuju restoran atau kantin untuk makan, berbaring di musola sejenak, sholat, dan lanjut deh di depan komputer. Tiba-tiba waktu menunjukkan pukul 16.30 saatnya siap-siap pulang dan memasrahkan diri desak-desakan lagi di KRL. Begitu agenda selama 5 hari berturut-turut dan kemudian diulang lagi selama seminggu, sebulan, setahun, dst. Mungkin banyak orang yang merasa bosan, apalagi tanpa promosi jabatan atau kenaikan gaji selama itu pula. Bete deh. Walaupun tidak menutup kemungkinan ada beberapa orang yang cukup menikmati rutinitas tersebut. Bergantung cara tiap individu memanfaatkan waktu senggang dan liburannya, yah. Bagi saya dan orang-orang unik semacam saya, rutinitas seperti itu bisa banget menjemukan.

         Kita sebut saja peristiwa di atas sebagai kebosanan tipe 2. Bosan terhadap rutinitas. Alhamdulillahnya, kantor dengan pekerjaan seperti itu biasanya menyediakan waktu cuti yang lumayan. Setidaknya bisa dimanfaatkan untuk liburan seminggu full tanpa kerjaan kantor. Lagipula, kebosanan tipe ini bisa pinter-pinter disiasati atau diminimalkan bagi kalangan yang kreatif dan mengenal dirinya dengan baik. Kebosanan selanjutnya, mau tahu?

         Tugas ini untuk besok jadi harus kelar; acara ini minggu depan dan dianggarkan biayanya, harus secepat-cepatnya karena sudah ditunggu bendahara. Perlengkapan untuk mengajar besok juga belum. Oiya, muroja'ah di kelas panjang juga yah, untuk besok. Semuanya untuk besok dan HARUS disiapkan segera hari ini. Yaah, ini mah keseharian saya banget, hehehe, berantakan sangat dan terkesan tidak terstruktur pastinya. Mungkin ini dinamakan bukan kebosanan, melainkan kepusingan. Iya, kalau pusingnya seminggu-dua minggu, bolehlah hanya disebut "kepusingan", tapi kalau sepanjang tahun ajaran? Bagi saya, inilah sejenis kebosanan. Bosan terhadap deadline yang selalu bertumpuk, padahal selalu berusaha dikerjakan sejadi-jadinya. Ya Allah, bosan tipe ini bagi orang-orang semacam saya, bisa banget menyebabkan stress atau depresi jika tidak diolah dengan cantik. Lalu, caranya?

         Peristiwa kebosanan yang baru saya ceritakan, dengan disebut kebosanan tingkat dewa, eeeh, kebosanan tipe 3 adalah kebosanan yang saya pun tidak mengerti lagi harus bagaimana ditangani. Jika saya mampu menangani dengan cantik, tentu saya tidak akan bercurhat panjang tentang aktivitas saya tersebut. Satu-satunya cara adalah berpasrah kepada Allah. Menerima dulu bahwa yang kita lakukan murni sebagai bentuk amanah yang Allah berikan kepada manusia untuk memakmurkan bumi-Nya. Berat kan? Sangat! Kalau mau bilang bosen, yaudah silakan pergi dari bumi Allah ini. Hiks..hiiks.., padahal amalan soleh masih jauh dikerjakan.

         Benarkah hanya saya yang merasakan kebosanan tipe 3 ini? Saya yakin tidak. Pasti banyak teman-teman senasib saya di belahan bumi sana yang juga pernah merasakan hal serupa. Lantas? Yakinkan diri sendiri bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar kesanggupan si hamba tersebut. Ketika Allah ingin menaikkan "harga" serta "kualitas" hamba yang dicintai-Nya, tidak mungkin dengan cara-cara standar.

Bismillah, yuk berhusnudzhan sama Allah. Dibawa asyik aja semua peristiwa yang telah diqadarkan Allah. Jadikanlah itu sebagai bentuk syukur kepada Allah dan tanda bahwa kita sedang dilatih bersabar dengan hal itu.

Ya ampun, beneran saya ngomong begini? Padahal sayalah orang yang paling lemah dan tertatih dalam mempelajari itu. Tidak masalah deh, semoga jadi doa aja.
Wallahu'alam...




@ruang
23Jul'15_ 10.49
Sambil merenungi kebosanan tipe 3


Selasa, 21 Juli 2015

Lebaran Hampir Lewat

H+5

Semoga belum terlambat mengucapkan berbagai doa dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di bulan-bulan berikutnya. Bulan Syawal 1436 H diharapkan menjadi saksi kesungguhan kita dalam beramal sholeh di hadapan Allah, hanya karena Allah, bukan semata menyandarkan diri pada Ramadhan dan setelahnya amnesia.

         Jika pungguk merindukan bulan
         Bukan berarti cinta tak bersambut
         Sadar diri punya banyak kesalahan
         Dimaafkan, ya, kawan berhati lembut

Taqabballahu minna wa minkum
Mohon maaf yah, wahai Ramadhan...

     

~Fitri A.L
@ruang
10.44

Selasa, 14 Juli 2015

Cooking "Freak"

         Sudah dua hari ini saya melakukan "penebusan" dosa terhadap orang-orang di rumah, terutama kakak. Tentu saja bukan berupa sujud mohon ampun, melainkan dengan masakin sahur. Yap..yap..yap.. penebusan yang menyenangkan bagi saya yang seneng kreasi dan seneng icip-icip. Masalah rasa itu urusan belakangan, yang penting berani coba dulu. Lagipula, bagi saya rasa makanan itu mengikuti perasaan  dan suasana hati (deeeuh..gaya euy).

         Yang perlu ditekankan, saya masak bukan karena keadaan yang mepet mau jadi istri orang, kok. Memang saya senang dari dulu. Hanya saja harus sendiri masaknya, biar ga dengar suara sumbang yang mempengaruhi suara hati dengan teriakan, "Kurang tuh bumbunya..", "Jelek banget sih bentuknya...".  Nah, pelajaran bagi diri sendiri, nanti jika ada adik, anak, keponakan, mau bantuin masak, hindari banyak intervensi selayaknya suara-suara sumbang tersebut. Biarkan dulu "si rekan masak" itu tunjukkan kebolehannya dan lakukan apresiasi saja di awal. Jika hasilnya sudah jadi, baru deh kita evaluasi bareng, begitu lebih ademkan?

         Setelah kemarin menghidangkan masakan jenis sayur, yaitu sop jagung campur sosis, hari ini berkreasi dengan dada ayam tepung. Jika masak sop jagung, saya sudah tergolong pakar (hihi, padahal masih nyontek resep) karena sudah lebih dari 2 kali bikin, nah, hari ini mencoba resep dengan saus teriyaki. Baiklah, judul masakannya adalah Katsu Saus Teriyaki. Perdana nih bagi saya, semoga rasanya ga ancur-ancur banget bagi orang rumah walaupun kayaknya tadi keasinan dikit, deh.

Bahan dan bumbu sederhana:

Bawang bombay setengah atau kurang dari itu,
2 siung bawang merah,
1 siung bawang putih,
Cabe rawit,
Merica,
Garam,
Gula,
Saus teriyaki,
Nugget atau Katsu.

Cara bikinnya tinggal iris semua bawang dan cabe, tambahin saus teriyaki dan sedikit air, baru meluncurlah bumbu sejenis garam, gula, dan merica. Aduk. Siram deh ke nugget atau katsu yang sudah digoreng sebelumnya.

Yuk..yuk..mari makan



@ruang
15Jul'15_ 03.57

Selasa, 07 Juli 2015

Sebelum "Hujan" Berhenti

Sekian lama memendam rasa untuk dapat memiliki, sampai akhirnya tertinggallah.

Itulah ungkapan yang tepat bagi saya sekarang. Saat terputar lagi musikalisasi Sapardi Djoko Damono, teringatlah dan terpuncaklah hasrat mempunyai buku sajaknya, walau hanya satu. Padahal, telah lebih dari setahun keinginan itu muncul, yaitu sejak buku kumpulan sajak "Hujan Bulan Juni" dicetak ulang dengan hard cover pula.

Biasanya saya beli buku enaknya di TM Bookstore, Depok. Karena selain didiskon 15% all book, disampulin juga untuk buku seharga di atas dua puluh lima ribu. Kalau sudah ke sana, sayang kalau cuma beli 1 buku, biasanya saya beli lebih dari 2. Nah, itu dia persoalannya, bisa gawat keuangan jika saat-saat ini belanja buku. Terlebih lagi saya keseringan kalap, asal-asal ambil buku yang nampaknya oke.

Jadi, bagaimana ini? Kayaknya mesti menyisihkan uang "dikit" untuk beli buku kumpulan sajak itu. Terpaksa di Gramed, deh.. dan bawa uang ngepas atau pakai kacamata kuda supaya ga naksir beli buka lainnya.

Selayaknya penyakit, kalau lama-lama dipendam bisa menjalarlah racun ke tubuh lainnya. *Haaalah modus aja* Ya Allah, semoga ini bukan berlebih-lebihan atau nafsu semata. Sudah lama kok, ga belanja buku. Karena pasti ga dapat uang lebaran, jika sebelum lebaran belinya lebih bagus. Baiklah, baiklah, "Hai buku, jangan abis dulu yah." :-D



@Ibrahimclass
8Jul'15_ 13.54

Sempet aja ngeblog kala modul masih bolong XP