Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 November 2015

Bekerja dan Menunggu

"Kapan yah dapat mengaktualisasikan diri di bidang yang saya idam-idaman..?"

Sebuah tanya yang jelas hanya mampu dijawab oleh diri sendiri dengan kerja, sekeras serta secerdasnya kita bekerja. Tiga tahun lebih saya berpetualangan di dunia karier yang merupakan wujud dari sebuah kerja. Namun, saya merasa ada saja yang mengganjal dan kurang mengaktualisasikan diri dalam karier tersebut. What's wrong?

         Dalam kurun waktu 3 tahun, saya sudah berganti 2 profesi pekerjaan yang cukup bertolak belakang satu sama lain. Setahun pertama fokus dalam target-target penjualan serta belajar ilmu obat dan kesehatan. Di tahun berikutnya hingga saat ini fokus terhadap pengembangan karakter anak, kedisiplinan administratif pengajaran, serta belajar sabar dalam memberikan materi pengajaran plus pendidikan ke anak-anak. Dua profesi yang sama-sama mulia (semoga :D) dan memberi kesan pembelajaran yang unik bagi saya. Lantas, apa pula yang mengganjal? Semua kembali ke "niat".

         Niat itu secara rukun memang terletak di awal atau sebelum kita melakukan sesuatu. Akan tetapi, secara aplikatif, niat dapat diperbaharui di tengah, bahkan di detik menjelang akhir kegiatan kita, supaya berakhir husnul khatimah. Uniknya saya, saya jarang mengkhususkan niat pada awal sebelum memulai pekerjaan atau tepatnya saat berkarier. Ingat, khusus berkarier dalam 3 tahun ini.

         Niat awal saya pada profesi pertama  adalah mencari pengalaman dengan segera, tidak jadi pengangguran lama-lama pascasidang skripsi, dan berpenghasilan biar tidak merepotkan orangtua. Di tengah perjalanan menghadapi krisis semangat di profesi pertama yang memang sangat bertolak belakang dengan jurusan kuliah saya, datanglah seseorang membawa tawaran. Yaaps.. tawaran itu berisi ajakan bergabung alias alih pekerjaan ke profesi kedua. Jelas bahagialah saya yang sedang "patah hati" terhadap profesi pertama setelah ditawarkan pekerjaan baru itu.

         Demi profesionalitas, profesi pertama saya jalani setahun full sesuai kontrak. Menjelang resign, saya menemukan satu titik kenyamanan dalam bekerja di sana. Walaupun ada hal-hal yang kurang berkenan, saya merasa ada titik yang menunjukkan secercah harapan untuk mengaktualisasikan diri, next time, di dunia karier selanjutnya. Alhamdulillah, saya belajar banyak dari profesi pertama ini, tetap bersyukur agar kedepan lebih baik.

         Satu hari resign dari profesi di dunia kesehatan, saya pun langsung menuju profesi kedua. Sebelum menyeburkan diri dalam pekerjaan baru ini, angan-angan indah telah terbayang. Wajar, karena tawaran datang dari orang yang terpercaya, baik, dan sholehah. Tambahan lain, pekerjaan ini memang lebih sesuai dengan jurusan saya dan saya cinta dunia pendidikan. Niat awal bergabung memang hanya ingin segera  "pergi" dari profesi yang lama menuju hal yang lebih berhubungan dengan studi saya dan lebih aman saat weekend, maksudnya ada waktu untuk menuju ladang ilmu agama setiap akhir pekan. Lantas setelah dua tahun bergabung?

         Satu pekan bergabung di profesi kedua, saya merasa stress teramat dahsyat. Tidak terlintas kenyamanan saat itu. Saya pun segera ingin beranjak pergi atau mengundurkan diri. Beberapa lowongan menjadi pegawai negeri membuat saya makin semangat untuk keluar. Namun, niat untuk tetap profesional di hadapan Allah serta ketakutan mengembang amanah rakyat jika sebagai pegawai negeri terus terngiang. Yuups, akhirnya saya bertahan sesuai kontrak pada profesi kedua dan terus menerus diperpanjang. Kenyamanan timbul tenggelam, tepatnya sekali timbul, berpuluhan kali tenggelam. Saya tahu begitu mulia pekerjaan saya ini, tapi... aaah... ya Allah, saya belum beraktualisasi, belum menjadi seutuhnya jiwa yang bekerja, jiwa yang menyertakan kecintaan menjadi khaira ummah.

         Di setiap niatan, sertakan Allah: karena Allah, cukup bagi kita Allah, biarkan Allah yang menentukan hasil dari kerja-kerja kita. Allah yang membuka jalan bagi doa-doa kita. Allah. Minta saja kekuatan dari Allah, ikhlaskan bekerja di jalan-Nya. Bukan menjadi yang biasa bekerja, tapi jadilah pekerja yang luar biasa karena Allah.

NB: pekerja itu bukan hanya yang digaji    : -D

Wallahu'alam



@ruang
7 Nov'15_ 09.17      

Selasa, 16 September 2014

Berjalan Terus Menuju Mimpi

Seumpama jalan tol di ibukota Jakarta, macet di pertengahan jalan, tak mungkin ambil jalur keluar sampai benar-benar tiba di batas yang ditentukan. Menunggu. Sabar di tempat, cukup maju perlahan saja. Ambil selalu jarak aman.

Jika memang ingin berhenti, tentu tidak bisa seenak hati
Jalanan ini bukan hanya milik sendiri
Segala aturan sarat syarat  harus terpenuhi

Teruslah berjalan meski langkah makin gontai
Yakinlah pertolongan akan datang berantai
Bukan semata karena kesaktian diri,
Melainkan belas kasihan Sang Maha Pemberi

Hadapi, hadapi, hadapi!
Walau terpaan virus-virus penyakit mengintai,
Meski kualitas hidup bobrok perlu diperbaiki
Cobalah beresi dan benahi

Tiada pilihan untuk bergegas pergi tanpa permisi
Hadapi, sampai kebosanan lelah mencari..

Jadilah pribadi terhormat
Yang sudi bersusah penat
Hingga jejak kebaikan jelas terpahat
Saat itulah kau tenang berbalik berangkat,
... menuju hal-hal ajaib yang ingin kaudapat

Bismillah


@ruang
16 Sept'14_ 21.05

Kamis, 07 Agustus 2014

Asal Mula Kelegaan

Tenang sekali di malam Jumat penuh rahmat ini. Tumben!

Bukan berhubungan dengan hari apa ini sebenarnya, melainkan momen hari esok yang biasanya saya "benci" sekali. Momen apakah itu?

Taraaaaaaaaah....
Back to school with many of tasks administration not finish yet!
Maaf jika penulisan sok bener bahasa Inggris saya keliru.

Datang dari mana sih ketenangan saya itu. Mungkin dari penemuan saya terkait masa depan, passions, harapan, yang semoga saja berkah dari kesakitan saya di dua hari akhir Ramadhan kemarin. Harapan itu bukan terletak di rumah para bintang yang mulai hari Senin akan saya temui memang, namun, saya merasa lebih "plong". Plong karena mengetahui, menyetujui kemudian akan mempertahankan gairah serta aroma masa depan itu.

Jalan kebaikan itu banyak sekali, salah satunya menjadi pendidik di rumah para bintang. Akan tetapi, saya ingin melipatgandakan jalan kebaikan dengan kebermanfaatan, serta gairah kebahagiaan terhadap mimpi saya. Proses menuju mimpi itu masih panjang. Oleh karena itu, saya harus menyelesaikan program, kewajiban, tantangan di tempat saya berkreasi sekarang hingga 2 tahun mendatang. Harus segera selesai dengan sebaik-baiknya dengan niat jihad (kebersungguhan) sebenar-benarnya karena Allah. Sungguh, dengan itulah saya berharap Allah memudahkan serta mempercepat jalan untuk mencapai mimpi yang saya idamkan. 

That's it! Bismillah
Jika tantangan itu mudah dilalui, pasti syurga kehilangan aroma nikmatnya.
Nikmatilah perjalanan, mintalah Allah untuk menguatkan.

Fighting!!!



@ruang
7 Agustus 2014_ 19.04

Sabtu, 05 Oktober 2013

Banyak Jalan Untuk Berjuang

Senang rasanya membaca blog para pemuda-pemudi (teenagers) yang mampu menjadikan blognya sebagai catatan. Catatan training, catatan kuliah, catatan dauroh, catatan kajian, dan catatan lainnya yang diolah dengan runut dan ciamik sehingga pembaca  mendapat pembelajaran pula. Luar biasa!
         Seandainya saya pun dapat seperti itu pula sedari dulu. Ah.. bukan saatnya berandai-andai yah. Saya, anda, dan kita mampu untuk melakukan perubahan tanpa pengandaian. Terlambat itu bukan alasan untuk "angkat-tangan" tanda menyerah dan pasrah pada kenyataan serta merta. Allah Maha Mengetahui niat-niat yang kita usahakan untuk terealisasikan. Keinginan saya pun tidak hanya satu itu, banyak. Jadi, marilah bersungguh-sungguh dalam berjuang. Berjuang dengan cara yang kita kuasai: karya tulis, blog, gambar, organisasi, harta-benda, jiwa raga, dan lainnya. Berjuang untuk memantaskan diri sebagai umat terbaik-Nya.

Dimulai dari diri sendiri, dari yang terkecil, dan mulailah saat ini. Now or never. Bismillah.


@ruang
_5 okt'13_ 20.42

Selasa, 23 Juli 2013

Tentang Mimpi (lagi?)

Dua hari yang lalu, seorang teman menyinggung seputar mimpi (baca: harapan) di sebuah grup sosial media. Kami menyebutnya mimpi bersama di kala kuliah, terutama ketika skripsi. Saya hanya tertegun, antara mengiyakan dan mempertanyakan. Dalam hal ini saya tidak mempermasalahkan tentang kesanggupan karena semua hal positif memang selayaknya kita sanggupkan. Akan tetapi, satu hal yang mengganjal: benarkah mimpi di kala kuliah itu adalah suatu yang benar untuk dipertahankan hingga nanti?

Hampir setahun saya mengecap dunia profesional atau karier menjadikan mata dan hati lebih terbuka. Dari sanalah saya mengenal lebih banyak sudut pandang dalam memilih, kemudian menilai dan selanjutnya menentukan langkah. Bukan hanya itu, kejujuran dan toleransi pun semakin terasah. Jika begitu, masih layakkah saya mempertahankan mimpi di kala kuliah? Pertanyaan ini pun mnggantung di "keraguan" jiwa.

Tulisan ini bukan ingin menjawab keraguan saya, melainkan mempermainkan pikiran saya perihal mimpi. Mungkin saya sedang tidak mencari jawaban, tetapi sedang berusaha menemukan kesungguhan. Kali ini saya tidak boleh salah dalam mengungkap sekecil apa pun sebuah harapan. Segalanya harus dengan kesungguhan penuh. Mengapa? Karena saya tahu Allah Maha Mendengar sebisik-bisiknya sebuah mimpi dan harap.

Sekarang, izinkan hamba menemukan kesungguhan untuk menuju-Mu, Rabb. Sebaik-baiknya cara untuk menuju-Nya, itulah satu mimpi yang pasti memiliki banyak jalan. Lalu peta manakah yang harus saya pakai agar jalan yang saya ambil tidak buntu serta tepat tujuan? Wallahu'alam

@ruang_ 23Juli'13

Sabtu, 01 Desember 2012

Menulis (lagi)

Saya memang bukan penulis profesional. Akan tetapi, saya sangat menggemari tulisan dan bercita-cita punya tulisan mandiri. Jika tulisan saya yang tercecer dari beberapa tahun lalu disatukan, mungkin sekarang sudah jadi beberapa jilid buku (tentu saja harus diedit plus-plus dulu sebelumnya, hahai). Menulis itu sebaiknya memang tidak ada tuntutan macam-macam. Kenapa? Ya karena dengan begitu akan memudahkan kita untuk menulis dan tidak menjadikan aktivitas "menulis" sebagai beban. Oleh karena itu, untuk jadi penulis kayaknya harus punya ke-PEDE-an yang tinggi. Menulislah sesuai kemampuan kita, seenaknya kita menyampaikan ide, tanpa harus mengingat rambu-rambu penulisan. Bagi saya inti menulis itu cuma butuh satu sikap, yaitu jujur, selebihnya akan ngikut nantinya. 

Kok saya agak sok tahu tingkat dewa gini ya? Ah, tidak masalah, yang penting saya selalu menikmati tulisan saya seburuk apa pun itu. Ciri-ciri menikmati tulisan sendiri adalah ketika kita baca ulang tulisan kita di kemudian hari, terdengar sayup-sayup hati kecil berkata, "Kok gue bisa nulis kayak begini yah?", atau jika yang kita tulis sebuah karya sastrawi (puisi sih kebanyakan), hati kecil kita akan berkata, "Ini maksudnya apaan siy, kok gue yang bikin aja ga ngerti. Beneran nih, puisi ini gue yang nulis?"

Nah, jadi nulis aja deh dulu dengan kejujuran, resapi tiap huruf yang berbaris rapi membentuk bangunan-bangunan kalimat serta paragraf. Menulislah maka kita ada. Menulislah untuk menciptakan jejak-jejak sejarah hidup kita, walau itu sederhana. 



oleh Fitri Apriliani Lestari
Alumni Prodi Indonesia UI 
yang sekarang hanya karyawan biasa penggemar sastra
_2 Desember 2012

Ketika Kembali

Ternyata...
menjauh darimu tidak memerlukan banyak waktu
pikirku dapat bertahan sejenak untuk menjaga jarak,
malah kudapati hatiku kian menjadi retak.
Mimpi-mimpi, impian, serta harap
lama kelamaan semakin hilang menguap,
seiring adanya diriku di sini menetap.

Segala kehampaan jiwa bukan tanpa sebab
tidakkah kau tahu hanya ada satu jawab,
yaitu: engkau!
Tubuhmu yang tak lagi dapat kudekap
Harum aromamu yang semakin sulit kuhisap
Teduh matamu yang jauhlah 'tuk kutatap

Aku ingin kembali,
telah kusiapkan segenap kekuatan untuk berlari
memeluk erat dirimu dan tak rela kulepas lagi
Aku tahu segalanya itu penuh konsekuensi
karena akulah yang pertama bergegas pergi
lalu sekarang aku pula yang merengek 'tuk kembali
meski kau hujaniku dengan umpatan kecewa serta caci maki,
senyuman sinis, dan juga sejumput rasa benci,
yakinlah aku tetap setia di hadapanmu menanti,
menanti untaian kata yang kau ucap dengan hati-hati
: "Dirimu pergi memang untuk kembali karena akulah yang kau cintai."


2 Desember 2012
_bukan tentang siapa

Aku = Pilihanmu

Pasti kamu menyangka aku berubah ya?
Setelah terbawa emosi sesaat untuk menjauh darimu serta dengan keras kepala berjanji sanggup bertahan tanpa dirimu, lalu sekarang apa?

Tiba-tiba.. menjauh sebentar saja darimu, satu per satu bagianku menghilang.
Dalam beberapa hari aku terbakar, segera ingin berlari seolah dikebiri oleh kenyataan yang jauh dari mimpi.
Sebulan setelah itu, aku merasa mulai terbiasa dan segala hal dapat kuhadapi sempurna.
Bulan berikutnya tantangan semakin tak ternikmati, mencoba sekuat hati berdiri walau jiwaku habis tanpa isi.
Ya, aku bertahan dengan tambalan-tambalan hati yang aku pun tiada dapat mengerti
Mungkin inilah buah dari pengharapan atau azab dari kekecewaan?
Mulailah aku kian tersesat dengan berbagai arti.
Haruskah kutampung sementara semua hasrat agar mampu memperhatikanmu di sini dengan cermat
atau lebih baik kuberlari meluapkan hasrat terdalam 'tuk menggapaimu sampai dapat?

Katakan, apa yang kaupilihkan untukku, "'Bertahanlah,' atau 'Kembalilah'"?


2 Desember 2012
_ini bukan tentang siapa

Kamis, 13 September 2012

Sepenggalah Wisuda

Seminggu berlalu setelah resmi diwisuda. Lalu menyisakan apa ya momen wisuda itu bagi saya? Entah. 

Saya tidak merasa wisuda seminggu yang lalu sebagai momentum kebahagiaan. Banyak hal yang mendasari ketidakbahagiaan saya. Hal pertama adalah anggota keluarga yang datang sedikit, hanya papa dan kakak sulung. Jika mama bisa ikut aja, mungkin akan berbeda kadar ketidakbahagiaan saya. Selain cuma datang bertiga, ketika sampai di UI pun mepet banget sama jam salat Jumat, sedangkan pukul 13 wisudawan sudah harus baris. Otomatis ga bisa keliling UI buat foto-foto bertiga.

Hal kedua masih berhubungan dengan hal pertama. Sejauh mata memandang orang bertumpuk-tumpuk gitu, lho. Ada yang menyertakan pacar, adik, kakek-nenek, dan mertua mungkin, banyak deh orangnya. Lalu apakah saya iri? Tentu, tapi saya lebih merasa pusing dibandingkan ngiri. Saya memang tipe orang yang suka pening dalam keramaian, sudah ada studi kasus atau pengalaman tentang hal itu. Jadi, tidak bisa terlalu lama dalam tumpukan massa ketika wisuda.

Yang paling membuat saya sedih adalah tidak dapat berkumpul bareng adik-adik alumni SMA yang ternyata  sudah menunggu lama. Nah, kalo yang ini berhubungan dengan hal kedua. Saya sudah berusaha mencari di manakah mereka kumpul, tapi saya keburu pusing duluan. Sedih. Padahal semenjak gladi resik wisuda mereka berencana ketumuan sama saya juga, hiks..hiks..

Wisuda bagi saya hanyalah sebuah ritual ribet yang bisa menyenangkan. Sayangnya,saat itu saya lebih merasa banyak ribet dibandingkan senangnya. No problem, someday we can create the moment again, insya Allah.

Gladi Resik Wisuda, 6 September 2012 @balairung UI Depok

Selasa, 11 September 2012

New Home

Kantor saya memang di Jalan Limo No. 40, Senayan, Jak-Sel. Akan tetapi, keseharian saya di outlet. Gambar di bawah ini adalah unsur terpenting yang harus ada di outlet. That's my home (second home).





Pasti banyak yang kaget, bertanya-tanya, dengan kata pertama, "Kenapa?". Apabila ada orang yang mendapatkan jawaban saya atas pertanyaan tersebut, siapa yang tahu bahwa jawaban saya itu sungguh-sungguh?

Bukan saatnya lagi mempertanyakan, mengasihani, atau apa pun yang berhubungan dengan penyesalan.  Berupaya sebaik-baiknya dan berdoa seikhlas-ikhlasnya, itu saja. Biarlah takdir Allah yang menjawab apa yang terjadi kemudian: sesuatu yang saya yakini jauh lebih saya dambakan dari segala penilaian orang saat ini.

Saya tetaplah saya, apa pun profesi yang saya jalani.
Dan saya selalu jadi penyair cinta bagi dia... (yeah, I have new poem for him, always)

Sabtu, 25 Agustus 2012

It's All about Dream

Film Perahu Kertas mengingatkanku tentang sebongkah mimpi.

Menohok bagiku karena sang tokoh utama diceritakan seorang mahasiswa fakultas Sastra dengan mimpi gilanya. Mimpi itu harus dia kubur karena terbentur realitas. Sampai suatu saat dia bertemu dengan seseorang yang dapat mengembalikan kepercayaannya untuk mewujudkan mimpi gila itu. 

“Tidak semua orang dapat menjadikan hobi sebagai profesi.”

“Antara putus asa dan realistis memang berbeda tipis.”

Mimpi yang terbentur realitas. Hal itu yang sedang aku alami. Meninggalkan (sementara) passion dalam diri yang kusebut mimpi, untuk menjelajahi sebuah realitas. Bedanya aku dengan sang tokoh utama dalam Perahu Kertas adalah dia sudah menemukan orang yang dapat menyalakan api mimpinya, sedangkan aku belum. Akan tetapi, aku tidak perlu menunggu dukungan dari orang lain karena cinta akan membuatku kembali, kembali pada mimpi, mimpi yang sesungguhnnya.

Mimpi yang kutemukan dari orang-orang hebat yang terdapat di gambar di bawah ini dan seorang dosen lagi yang belum terambil kamera. Thank you for coming in my life.

 
Tanggal 4 Juli 2012, di Ruang 6101 FIB UI                         




Lantas, di saat  aku tertatih menjelajahi realitas, siapakah yang 'kan menyalakan api mimpiku itu? Takdir pasti akan menjawabnya nanti. Namun, sekarang aku tak peduli.



26 Agustus 2012, 
Fitri Apriliani Lestari
 

Minggu, 19 Agustus 2012

TENTANG PENCARIAN NAFKAH (prolog)

Saya masih teringat pernyataan seorang teman kampus beberapa pekan sebelum saya ujian skripsi (baca: sidang). Dia berkata begini kira-kira, "Ngapain cepet-cepet lulus kalo belum jelas rencana setelah lulus!"

Pernyataan itu keluar dari mulutnya setelah dia mengajukan pertanyaan tentang rencana saya setelah lulus. Jawaban saya saat itu  memang tidak memuaskan baginya, terlalu tidak jelas mungkin rencana saya. Kalau boleh berkata jujur sih, agak tidak rela cepat-cepat melepas status mahasiswa. Bagaimana tidak, jadi mahasiswa itu enak, penuh mimpi-mimpi indah nan idealis, serta strata yang paling nyaman menurut saya. Akan tetapi, amat egois jika mau berlama-lama menjadi mahasiswa. Dunia realita telah menunggu. Si Kakak yang membiayai ongkos pun telah berkoar-koar supaya saya cepat lulus. 

Teman-teman kuliah bahkan pembimbing skripsi pun menyangka rencana saya pascakampus adalah "langsung" menikah. Lelaki malang mana yang mau menikahi saya saat-saat ini? Itu suara batin saya. Bukan, bukan. Bukan pernikahan yang ada di benak jangka pendek saya setelah menjadi sarjana. Cuma terlintas satu rencana, yaitu KERJA! Belum terpikirkan saat itu pekerjaan macam apa yang saya akan tekuni. Idealnya sih di area perbahasaan, entah itu menjadi guru bahasa (seperti yang dianggap para teman atau adik kelas di SMA), editor, tulis-menulis, atau dunia jurnalistik. Namun, saya merasa dunia kerja itu tidak harus seideal dunia kampus, saya pun membuka peluang untuk belajar dunia yang baru. 

Saya sudah pernah berkecimpung di dunia pendidikan. Walaupun hanya sebagai guru bimbel atau privat, saya setidaknya tahu formula pengajaran yang baik itu seperti apa. Lebih banyak sedihnya jadi pengajar bimbel bahasa Indonesia itu. Sakit hati pokoknya. Visi bimbel dengan visi saya sebagai pendidik bahasa dan kebudayaan Indonesia tidak menyatu. Oleh karena itu, mencoba hal baru adalah pilihan yang lebih baik.

Lalu saat ini.. saya menemukan keluarga baru di tempat kerja dengan segala realita kehidupan yang sederhana dan... begitulah. Sebuah pekerjaan yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Pekerjaan yang kembali mempertemukan saya dengan bidang IPA. 

Cinta itu tak terletak pada kesan pertama karena cinta itu adalah proses. Proses pembelajaran untuk mencintai seikhlas hati.


Senin, 2 Syawal 1433 H

Rabu, 23 Mei 2012

ANOTHER SIDE ABOUT WRITING


Kemarin, Rabu, 23 Mei 2012, Kompas mengadakan pelatihan Citizen Journalism and Creative Writing khusus untuk program studi saya—prodi Indonesia—di ruang audit gedung 4 (4101). Bagi saya ini adalah pelatihan pertama dalam hal jurnalistik. Seru dan membuka banyak wawasan tentang dunia jurnalistik, terutama yang berwarna ke-KOMPAS-an. 

Ketua IKSI (Ikatan Keluarga Sastra Indonesia) bernama Riandy membuka pelatihan tersebut setelah ketua prodi Indonesia, Ibu Vina, datang ke ruang 4101 sekitar pukul 14.15. Setelah acara dibuka, Ibu Vina memberi sambutan sekaligus ucapan terima kasih atas kerjasama yang dilakukan Kompas terhadap IKSI. Sambutan oleh Ibu Vina ditutup dengan pengharapan agar kerjasama itu dapat terus berlangsung.

Pelatihan dimulai
Pembicara pertama adalah Bapak General Manager SDMU, Didiek Dwinarmiyadi, yang menjelaskan tentang sejarah sepak terjang Kompas sehingga dapat menjadi surat kabar nomor satu di Indonesia. Inilah yang saya sebut sebagai dunia jurnalistik berwarna ke-KOMPAS-an. Hal pertama yang dikenalkan tentu saja pendiri, landasan utama (visi-misi), serta produk Kompas yang mulai berkembang selain koran, misalnya Kompas.com. 

Sesi selanjutnya dibawakan oleh salah satu reporter Kompas serta penulis buku tetralogi Pak Beye bernama Wisnu Nugroho. Dari pembicara yang satu ini saya menemukan banyak inside (bahasa kerennya) atau inspirasi (bahasa normalnya). Pembicara satu ini lebih banyak berbagi perjalanan karirnya di Kompas yang dimulai pada tahun 2001. Jejang karirnya dimulai dari bekerja di kompas bagian pendidikan, pernah juga di bagian peliputan Istana, dan banyak lagi.

 Bukan hanya berbagi pengalaman, Wisnu Nugroho juga berbagi tips untuk menulis. Salah satu ungkapannya tentang menulis yang cukup menohok bagi saya adalah “Menulis untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Bayangkanlah sosok pembaca tulisan kita sedetail mungkin.” Woow, saya harus banyak melatih diri supaya tulisan saya layak dipersembahkan untuk orang lain. Maklum, selama ini saya merasa tidak ada yang akan sudi membaca tulisan saya, kecuali tulisan “agak ilmiah” hasil tugas kuliah saya yang saya publikasikan di blog.

Untuk pembicara kedua ini waktu yang diberikan cukup lama, tetapi bagi saya tidak terasa. Mungkin karena pembawaan dan pengalaman yang disampaikan cukup asyik dan seru sehingga saya sangat menikmati sesi Wisnu Nugroho. Akan tetapi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.32 dan sesi tanya-jawab pun sudah selesai, acara ini di-break sampai pukul 15.45.

Tentang Copywriting
Walau kata sang MC yang juga ketua IKSI acara dimulai lagi pukul 15.45, tetap saja ngaret pada kenyataannya. Pembicara selanjutnya sekaligus pembicara terakhir ada dua orang, yaitu Mahansa EGS dan Ino Julianto. Ino adalah alumni IKSI angkatan 2003. Kedua orang pembicara berbagi pengetahuan tentang tugas copywriter yang berbeda bidang dengan bagian redaksi. Intinya Kompas sebagian surat kabar harian pasti membutuhkan dana yang menunjang. Itu sebabnya diperlukan salah satu bagian yang mengurus hal-hal yang terkait bisnis, yaitu bagian copywriter.

Cara kerja copywriter menurut saya lebih enjoy karena tidak berkejar-kejaran dengan narasumber di lapangan. Akan tetapi, butuh ide kreatif yang luar biasa agar menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan klien. Siapakah klien yang dimaksud? Klien adalah orang atau badan usaha yang ingin menampilkan iklannya di Kompas.  Dari pengalaman yang dibagi oleh kedua copywriter Kompas tersebut, hal yang paling sulit memang menyatukan antara keinginan klien dengan kebutuhan pembaca. 

Sedikit Kesan tentang Kompas
Jika ditanyakan kepada saya seberapa besar harapan untuk bisa bergabung dalam hal jurnalistik? Jawab saya, sangat besar untuk saat ini. Apakah Kompaslah media terideal saat ini? Jawab saya, iya sangat ideal dan memang Kompas adalah koran nomor satu di Indonesia. Berarti saya tertarik untuk bergabung di Kompas? Eemmm.. saya tertarik walau bukan dengan ketertarikan yang besar. 

Kompas menjadi koran harian terbesar karena integritas dan penghargan yang tinggi terhadap orang-orang yang bekerja di dalamnya. Saya pasti banyak belajar di sana kalau saya dapat bergabung. Namun, harus saya akui, seideal apa pun Kompas di mata orang-orang, tetap bukan yang ideal di hati saya. Kenapa? Karena ada sedikit keraguan di hati saya bahwa Kompas akan menerima saya untuk bergabung di dalamnya dengan apa adanya saya. Bukan pesimis, hanya sentimen ideologis sedikit dan pikiran saya dapat “melunak” kapan saja. 

(Fitri Apriliani Lestari_Prodi Indonesia 2008)

Rabu, 09 Mei 2012

Rindu Kepada Kawan


Membolak-balik blogmu. Tiada yang berubah, mungkin karena kau sedang sibuk mengubah dirimu, bukan blogmu. Sungguh, aku sangat (sekali)  rindu. Pernah sekali waktu kau meng-SMSku, aku langsung saja gembira serta merta. Kemudian, kau bertanya, sedangkan aku malu sekali menjawabnya. Dan.. SMSmu yang belum kubalas  masih tersimpan…

Aku hanya mampu bertanya pada diriku, mengapa diriku begitu rapuh? AKu ingin sekali bersua denganmu, terus bersua hingga bertemu di Jannah-Nya. Sungguh, aku akan menyibukkan diri untuk berubah pula. Doakanlah kawanmu ini…

Rindu

-10 Mei 2012, 10.22 AM

Sabtu, 05 Mei 2012

Harapan Ringan

 Saya ingin pergi. Bukan untuk sembunyi atau lari, melainkan untuk menjalin rangkaian mimpi.

Entah kemana nanti kaki melangkah. Hanya dapat menyakinkan diri bahwa dengan ridha Allah semua pasti akan menjadi nyata indahnya...

Semoga, insyaAllah jika kupergi, suatu saat akan kembali.

Minggu, 15 April 2012

Antara Kepenulisan dan Kelulusan


Saya harus menulis lagi. Semakin dekat dengan kelulusan sebagai sarjana sastra atau sebutlah sarjana humaniora saya semakin harus gencar menulis. Eits, tapi bukan menulis CV buat lamaran kerja nanti, lho. Bukan itu!

Saya ingin melancarkan “serangan mimpi” ke alam nyata. Setelah akhirnya 22 tahun bertempur dengan segala pertanyaan tentang ke mana harus melangkahkan kaki, tibalah waktunya menentukan pilihan. Pilihan yang paling baik—semoga baik juga menurut Allah—adalah melalui kepenulisan. 

Ya. Ini terkait pilihan profesi atau bidang pekerjaan selepas menjadi mahasiswa. Insya Allah kepenulisanlah yang saya pilih setelah agak lama bergulat dengan waktu dan profesi-profesi lain. Akan tetapi, masih mengambang sebenarnya menulis apa? Apa ya enaknya? Yang berawal dari hobi, kemudian menghasilkan duit yang  berlimpah. Eh,eh, tidak perlu belimpah sebenarnya, asalkan bisa buat sangan, pangan, papan, jalan, infaq, dan beli buku per bulannya. Oia, satu lagi, buat tabungan haji dan anak pun juga deh.  

Apakah saya bakal mencoba daftarkan diri ikut CPNS?
Itu kayaknya menjadi peluang yang cukup besar deh. Sebenarnya, aku mau-mau aja asalkan tetep bisa nikah di usia 23 plus bisa keliling Indonesia. Kira-kira bisa ga ya? Kalo semisalnya tidak memungkinkan, aku yakin rizki Allah terbuka di mana saja. Allah yang akan memberi kita rizki kok, bukan manusia. Dengan keyakinan itulah, aku memilih untuk fokus di ranah profesi yang lebih free, menyenangkan sekaligus menegangkan, tapi sarat pembelajaran dan penuh manfaat dunia-akhirat. Uhuy banget yaa. Insya Allah yang bersesuaian dengan kepenulisan.

Apa sih yang dimaksud “kepenulisan,” Fit?
Nah, kepenulisan itu ya yang berhubungan dengan “tulis-menulis”. Perlu ditekankan memang, bukan “edit-mengedit” ya. Karena saya lulusan sastra Indonesia, insyaAllah yang mengedit tulisan saya adalah diri saya sendiri. Akan tetapi, saya maunya mengedit tulisan sendiri, bukan tulisan orang lain, kecuali suami saya seorang penulis juga, pasti saya yang editin tulisan dia hehe. 
Sebenarnya ranah kepenulisan itu banyak macamnya, contoh, jika tulisannya ilmiah, profesinya bisa saja dosen peneliti, staf dalam suatu kelembagaan, ilmuwan, juru tulis kepresidenan atau yang berbau lembaga struktural juga bisa. Ada pun tulisan yang populer saat ini adalah tulisan jurnalistik yang mengulas serba-serbi infotanment, gossip, kuliner, travel, atau berita  lainnya.
Lalu, kepenulisan jenis apakah yang akan saya pilih? Sayangnya, saya belum mau serta mampu menjawab selama Allah belum memberi clue kepada saya. *nyengir dikit deh

Profesi sebelumnya sebagai pengajar bimbel dan privat, bagaimana kelanjutannya?
Haruskah dilanjutkan? Pertanyaan yang melahirkan pertanyaan baru, ini memang “gaya” favorit saya. Kalau ada yang dapat menembus relung batin saya yang terdalam, pasti pertanyaan tersebut dapat terjawab dengan mudah. Bismillah, jawaban saya saat ini adalah saya ingin membiarkan “mimpi” saya menaungi kenyataan saya mendatang, dan menjadi pengajar itu bukan mimpi saya.
Saya ingin menjadi pendidik, bukan pengajar. Yang perlu ditekankan adalah, bimbel atau les privat itu tidak membutuhkan pendidik. Satu hal lagi, saya tidak ingin menjadikan “pendidik” sebagai profesi. Mendidik sebuah generasi adalah keharusan bagi saya.
Lantas apakah profesi saya sebagai guru saja. Untuk saat ini saya tidak dapat mengatakan saya tidak mau menjadi guru. Akan tetapi, saya harus katakan, berprofesi sebagai guru, bukan mimpi saya. Sungguh, saya tidak pernah memandang sebelah mata profesi yang paling mulia ini. Tidak sama sekali. Mimpi saya yang terkait pendidikan formal adalah saya harus punya sekolah. Semoga terjawab sudah. *senyum dulu deh

Sepertinya saya harus banyak “membaca”, mendengar, dan mengamati agar langkah ini semakin pasti menuju ridho Illahi Rabbi.

Tetap semangat, dan jagalah terus mimpi itu.