Tampilkan postingan dengan label harap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harap. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 November 2015

Bekerja dan Menunggu

"Kapan yah dapat mengaktualisasikan diri di bidang yang saya idam-idaman..?"

Sebuah tanya yang jelas hanya mampu dijawab oleh diri sendiri dengan kerja, sekeras serta secerdasnya kita bekerja. Tiga tahun lebih saya berpetualangan di dunia karier yang merupakan wujud dari sebuah kerja. Namun, saya merasa ada saja yang mengganjal dan kurang mengaktualisasikan diri dalam karier tersebut. What's wrong?

         Dalam kurun waktu 3 tahun, saya sudah berganti 2 profesi pekerjaan yang cukup bertolak belakang satu sama lain. Setahun pertama fokus dalam target-target penjualan serta belajar ilmu obat dan kesehatan. Di tahun berikutnya hingga saat ini fokus terhadap pengembangan karakter anak, kedisiplinan administratif pengajaran, serta belajar sabar dalam memberikan materi pengajaran plus pendidikan ke anak-anak. Dua profesi yang sama-sama mulia (semoga :D) dan memberi kesan pembelajaran yang unik bagi saya. Lantas, apa pula yang mengganjal? Semua kembali ke "niat".

         Niat itu secara rukun memang terletak di awal atau sebelum kita melakukan sesuatu. Akan tetapi, secara aplikatif, niat dapat diperbaharui di tengah, bahkan di detik menjelang akhir kegiatan kita, supaya berakhir husnul khatimah. Uniknya saya, saya jarang mengkhususkan niat pada awal sebelum memulai pekerjaan atau tepatnya saat berkarier. Ingat, khusus berkarier dalam 3 tahun ini.

         Niat awal saya pada profesi pertama  adalah mencari pengalaman dengan segera, tidak jadi pengangguran lama-lama pascasidang skripsi, dan berpenghasilan biar tidak merepotkan orangtua. Di tengah perjalanan menghadapi krisis semangat di profesi pertama yang memang sangat bertolak belakang dengan jurusan kuliah saya, datanglah seseorang membawa tawaran. Yaaps.. tawaran itu berisi ajakan bergabung alias alih pekerjaan ke profesi kedua. Jelas bahagialah saya yang sedang "patah hati" terhadap profesi pertama setelah ditawarkan pekerjaan baru itu.

         Demi profesionalitas, profesi pertama saya jalani setahun full sesuai kontrak. Menjelang resign, saya menemukan satu titik kenyamanan dalam bekerja di sana. Walaupun ada hal-hal yang kurang berkenan, saya merasa ada titik yang menunjukkan secercah harapan untuk mengaktualisasikan diri, next time, di dunia karier selanjutnya. Alhamdulillah, saya belajar banyak dari profesi pertama ini, tetap bersyukur agar kedepan lebih baik.

         Satu hari resign dari profesi di dunia kesehatan, saya pun langsung menuju profesi kedua. Sebelum menyeburkan diri dalam pekerjaan baru ini, angan-angan indah telah terbayang. Wajar, karena tawaran datang dari orang yang terpercaya, baik, dan sholehah. Tambahan lain, pekerjaan ini memang lebih sesuai dengan jurusan saya dan saya cinta dunia pendidikan. Niat awal bergabung memang hanya ingin segera  "pergi" dari profesi yang lama menuju hal yang lebih berhubungan dengan studi saya dan lebih aman saat weekend, maksudnya ada waktu untuk menuju ladang ilmu agama setiap akhir pekan. Lantas setelah dua tahun bergabung?

         Satu pekan bergabung di profesi kedua, saya merasa stress teramat dahsyat. Tidak terlintas kenyamanan saat itu. Saya pun segera ingin beranjak pergi atau mengundurkan diri. Beberapa lowongan menjadi pegawai negeri membuat saya makin semangat untuk keluar. Namun, niat untuk tetap profesional di hadapan Allah serta ketakutan mengembang amanah rakyat jika sebagai pegawai negeri terus terngiang. Yuups, akhirnya saya bertahan sesuai kontrak pada profesi kedua dan terus menerus diperpanjang. Kenyamanan timbul tenggelam, tepatnya sekali timbul, berpuluhan kali tenggelam. Saya tahu begitu mulia pekerjaan saya ini, tapi... aaah... ya Allah, saya belum beraktualisasi, belum menjadi seutuhnya jiwa yang bekerja, jiwa yang menyertakan kecintaan menjadi khaira ummah.

         Di setiap niatan, sertakan Allah: karena Allah, cukup bagi kita Allah, biarkan Allah yang menentukan hasil dari kerja-kerja kita. Allah yang membuka jalan bagi doa-doa kita. Allah. Minta saja kekuatan dari Allah, ikhlaskan bekerja di jalan-Nya. Bukan menjadi yang biasa bekerja, tapi jadilah pekerja yang luar biasa karena Allah.

NB: pekerja itu bukan hanya yang digaji    : -D

Wallahu'alam



@ruang
7 Nov'15_ 09.17      

Selasa, 07 Juli 2015

Sebelum "Hujan" Berhenti

Sekian lama memendam rasa untuk dapat memiliki, sampai akhirnya tertinggallah.

Itulah ungkapan yang tepat bagi saya sekarang. Saat terputar lagi musikalisasi Sapardi Djoko Damono, teringatlah dan terpuncaklah hasrat mempunyai buku sajaknya, walau hanya satu. Padahal, telah lebih dari setahun keinginan itu muncul, yaitu sejak buku kumpulan sajak "Hujan Bulan Juni" dicetak ulang dengan hard cover pula.

Biasanya saya beli buku enaknya di TM Bookstore, Depok. Karena selain didiskon 15% all book, disampulin juga untuk buku seharga di atas dua puluh lima ribu. Kalau sudah ke sana, sayang kalau cuma beli 1 buku, biasanya saya beli lebih dari 2. Nah, itu dia persoalannya, bisa gawat keuangan jika saat-saat ini belanja buku. Terlebih lagi saya keseringan kalap, asal-asal ambil buku yang nampaknya oke.

Jadi, bagaimana ini? Kayaknya mesti menyisihkan uang "dikit" untuk beli buku kumpulan sajak itu. Terpaksa di Gramed, deh.. dan bawa uang ngepas atau pakai kacamata kuda supaya ga naksir beli buka lainnya.

Selayaknya penyakit, kalau lama-lama dipendam bisa menjalarlah racun ke tubuh lainnya. *Haaalah modus aja* Ya Allah, semoga ini bukan berlebih-lebihan atau nafsu semata. Sudah lama kok, ga belanja buku. Karena pasti ga dapat uang lebaran, jika sebelum lebaran belinya lebih bagus. Baiklah, baiklah, "Hai buku, jangan abis dulu yah." :-D



@Ibrahimclass
8Jul'15_ 13.54

Sempet aja ngeblog kala modul masih bolong XP

Senin, 06 Juli 2015

Saya + Dia = Kami


         Kadang, kita kurang bersabar dan banyak harap-harap cemas saat doa kita sepanjang siang dan malam belum menunjukkan keterwujudannya. Namun, ketika kita mulai "lupa" serta berusaha ikhlas atas doa tersebut, tiba-tiba takdir Allah berbicara dan lantas dengan cepat saja kita akan terkaget-kaget tak siap menjemput bentuk wujud pengabulan doa.

Yah.. itulah manusia. Maunya apa sih? hehe

Skenario Allah tak tertandingi. Di antara rasa syukur dan sabar, Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Semoga saya termasuk orang tersebut. Ya, saya dan dia.

Izinkan saya mengenalkan seorang "dia" yang sebutlah takdir sekaligus kejutan dari Allah.

"dia":

Bukan lelaki tersholeh dari yang sholeh
Bukan lelaki tertampan dari yang tampan
Bukan lelaki terpintar dari yang pintar
Bukan lelaki terkaya dari yang kaya

Lagipula ini juga bukan pemilihan award atau seperti ajang semisal Mister Universe (-.-")


Jika pun lelaki ini bukan ter-wow, tetapi lelaki inilah yang dikirimkan Allah khusus untuk saya. Dikirimkan secara spesial sebagai satu-satunya yang kelak tempat berlabuhnya semua ketaatan saya, selama Allah dan Rasulullah acuannya.


Dengan izin Allah, bersama dialah mitsaqan ghalizha kan terikrar.


Doa dari teman-teman di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini sangat berarti bagi kami.
Bismillah..


aris-fitri.nikahkreatif.com




Selasa, 14 April 2015

Setitik Doa

Menghitung hari....

Sehari demi sehari berlalu meninggalkan diri
Semoga cahaya mimpi tetap menemani
Agar teruslah dapat kuhayati jejak perjuangan sebongkah visi

Berjalan tegap demi amanah Illahi
Sedih, perih, rindu, perlahan mesti disingkiri
Biarlah pengorbanan kelak menjadi saksi

Jika bahagia sejati belum ditemui hari ini
Doaku segala harap Allah kan penuhi di hari nanti








@Ibrahim class
15 Apr'15_11.14
Pening

Sabtu, 05 Oktober 2013

Sepotong Daster

Entah kenapa ingin sekali menulis tentang sepotong daster. Daster batik yang baru saja kubeli disangka mirip nian dengan pakaian "emak-emak". Aku pun tidak terlalu menggubris karena memang aku menyukai pakaian ini (baca: daster). Tidak biasa aku menginginkan sebuah pakaian seperti saat aku menginginkan daster. Aku merasa harus sekali membeli segera.
        Pakaian ini tidaklah terlihat istimewa bila dipandang oleh manusia pada umumnya. Namun, aku membutuhkannya demi kenyamanan. Nyaman saat melepas lelah dan nyaman pula jika tiba-tiba harus bertemu "orang lain" ketika waktu malam. Coba kalau pakai piyama atau baju tidur two-pieces, bisa ribet pakai rok dll jika tamu datang malam-malam. Daster juga sedikit mengingatkanku arti rumah. Sederhana, nyaman, dan apa adanya. Setidaknya itulah pendapatku.

Mungkin cerita daster ini bukan sekadar kesukaan terhadap benda,melainkan tersirat makna lain yang ingin segera pula kucapai. Daster hanya "sarana" atas pemikiranku yang sederhana. Walau tidak sesederhana masa depan yang kelak kulalui.


@ruang
_5 okt'13_ 23.19

Senin, 02 September 2013

Bimbang

Saat pikiran banyak bercabang
Pilihan-pilihan pun kian membentang
Di saat keharusan dan keikhlasan berperang,
Sederhanakanlah hati dengan sabar serta juang
Memang jalan kebaikan ini sungguh panjang
Pastikan diri tercatat sebagai pemenang
Allah ingin kelak di antara kita dan wajah-Nya tiada penghalang

Bismillah.. Aamiin


@ruang
2 Sept'13, 17.55

Kamis, 23 Agustus 2012

Mungkin Harapan

Kau datang ke rumahku tanpa bunga-bunga
Berbekal keberanian dan pinjaman motor tetangga
Kau ungkapkan lamaran kepada ayah bunda

Usia muda tak menjadikanmu putus asa
Demi mewujudkan niat suci nan mulia
Harta melimpah serta rumah mewah memang belum kau punya
Tetapi kutahu bahwa cintamu istimewa

: bukan sekadar cinta yang diperjuangkan Rama dan Sinta
  atau seperti cinta dramatis Remeo- Julia
Bagiku tak berguna pula iri dengan Galih dan Ratna
   yang telah menjalin cinta dari SMA

Karena cintamu itu adalah sebentuk cinta berbeda
Cinta yang tak sebatas untaian perhiasan dunia,
dengan harapan akan terus kita bawa hingga ke surga


22 Agustus 2012 ~FAL

Tentang Pencarian Nafkah (sesi inti)

Masih haruskah mengedepankan idealistis dengan segenap egoistis dalam meraih rizki Allah?
Akankah berlaku hitung-hitungan akal dalam mengatur titian takdir Yang Maha Kuasa?

...
Suatu sore pada tanggal 13 Juli 2012, hari Jumat tepatnya saat itu, saya lesu sekali keluar dari sebuah mal di wilayah Jakarta Barat. Lesu bukan karena kecapean mengelilingi mal yang besar itu, bukan, melainkan hanya karena sebongkah kekecewaan. Kekecewaan yang berhasil mengubur harapan saya untuk sesegera mungkin dapat bekerja. Hari itu adalah hari pertama saya mengikuti job fair. Dari sanalah saya menyadari bahwa pekerjaan yang ditawarkan dalam job fair hampir 100% membuat saya ogah banget berstatus sebagai karyawan. Tidak heran dari puluhan perusahaan yang membuka lowongan, hanya satu saja yang saya singgahi. SATU saja dengan posisi yang umum, bahkan perusahaannya pun tidak bergerak dalam dunia yang saya ingini. 

Lantas, apakah saya menduga ternyata SATU perusahaan beserta posisi itulah yang saya geluti sampai saat  ini (hampir sebulan lamanya)? Sungguh, saya tidak menduga sejauh itu. Untuk mencapai waktu tiga minggu di perusahaan ini saja saya harus menjalani proses pendewasaan yang tidak mudah. Lebih tepatnya dikatakan proses pengikhlasan dan pengorbanan. 

...
Semenjak mengikuti job fair dan berakhir dengan kekecewaan. Saya mengandalkan pencarian kerja melalui situs lowongan kerja di internet. Tentu saja dengan lingkup spesifikasi yang saya inginkan. Empat sampai lima perusahaan dengan posisi yang diidam-idamkan saya kirimi CV beserta surat lamaran dengan format yang sudah tersedia. Beberapa hari setelah saya kirimkan CV, ponsel saya mendadak banyak panggilan dari nomor tak dikenal, tentu untuk wawancara, tes, dan sebagainya. Betapa bahagianya mengatahui bahwa perusahaan yang pertama kali merespon CV saya adalah perusahaan yang menawarkan posisi sebagai content writer. Perusahaan itu terletak di wilayah sibuk, Senayan. Akan tetapi, setelah saya mengkroscek lebih lanjut, ternyata sudah banyak kasus penipuan yang dialami calon pelamar kerja di perusahan itu. Alhasil, saya pun membatalkan niat untuk mendatangi kantor tersebut, maklum masih cari aman. 

Ada pula perusahaan yang bergerak di bidang periklanan yang menjadi fokus saya setelah melupakan posisi content writer. Perusahaan itu cukup terkenal sehingga saya tidak terlalu memikirkan posisi yang sesuai dengan harapan "idealis". Saya semakin tertantang dengan proses penerimaan final perusahaan tersebut yang tidak mudah. Tes psikotesnya saja sangat menguras pikiran, tangan, ketelitian, dan kecepatan. Mantaplah, Plan A saya adalah perusahaan periklanan tersebut. Namun, setelah seminggu psikotes, panggilan lanjutan tak lagi ada, sedangkan perusahaan SATU temuan dari job fair kian serius. Sangat serius.

Saya kemudian pesimistis diterima di perusahaan periklanan itu. Jadi, saya segera menyiapkan berkas-berkas untuk finalisasi di perusahaan SATU temuan dari job fair, dapatlah dikatakan setengah hati. Akan tetapi, tubuh  ini terlalu busuk untuk sekadar teronggok di dalam rumah. Bismillah.. sebagai batu loncatan pertama saja. Tepat tanggal 31 Juli 2012, dengan membawa berkas lengkap finalisasi, sekitar pukul setengah lima sore, kontrak kerja pun saya tanda tangani. Apakah saya sadar saat itu? Tentu saja sadar, hanya saja saya tidak merasa bahagia selayaknya orang yang pertama kali diterima kerja secara profesional. Saya merasa biasa saja. Mungkin karena saya masih menyimpan rapi keidealisan dalam hati saya. 

Beberapa hari bekerja, saya jenuh. Hati saya selalu berontak, begini katanya, "Bete banget ini kerjaan, aku ga sesuai sama pekerjaan ini, sabtu-minggu ga libur, haduuh." Tiba-tiba perusahaan periklanan yang telah dua minggu mendiamkan saya, meminta saya untuk kembali datang untuk wawancara lanjutan. Ahaa.. senangnya. Ini nih memang jatah saya. Saya berpikir plan A masih dapat terlaksana.

...
Namun, Allah menginginkan lain.
Saya harus menjinakkan keegoisan saya, memberi kelapangan kepada jiwa untuk mengenal arti IKHLAS.
Sampai akhirnya saya tahu bahwa yang saya ikhlaskan dan yang saya korbankan hanyalah sebuah keidealisan yang harus berubah menjadi kebermanfaatan. Proses pendewasaan ini ternyata belumlah seberapa, jadi Allah ingin saya belajar lebih, BELAJAR lebih. 


~Fitri Apriliani Lestari

Minggu, 22 Juli 2012

IQRA


Bismillah..

Ramadhan tahun ini insya Allah saya akan maksimalkan untuk “membaca”. Sungguh sayang seribu sayang apabila kita hanya menjalankan rutinitas tahunan dalam mengisi hari-hari penuh cinta Allah di bulan ini tanpa menangkap hikmah dari apa-apa yang “dituliskan” Allah.

Seperti orang-orang lainnya, bacaan wajib—terutama—di bulan Ramadhan adalah Quran. Namun, sungguh banyak hal yang dapat kita baca dari kehidupan sehari-hari kita. Itulah pentingnya membaca Quran dalam mengarungi “pembacaan” kehidupan, yaitu supaya kita tidak tersesat. Apabila kita sekadar “sok tahu” membaca kehidupan tanpa landasan Quran bersiaplah untuk tersesat dan bertanya-tanya. Begitu pula sebaliknya, jika kita rajin membaca Quran tanpa mau berusaha membaca kehidupan, bersiaplah hidup tanpa amal dan penuh kemubaziran. 

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Quran. Semoga kita menjadi individu yang tidak sekadar mampu membaca huruf-huruf atau lafaz Quran, tetapi juga mampu mengaplikasikan apa yang diturunkan Allah sebagai petunjuk manusia dengan cara “membaca” kehidupan. Lalu apakah bunyi ayat pertama yang diturunkan ke bumi? Iqra’. Bacalah!


2 Ramadhan 1433 H

Kamis, 17 Mei 2012

(lanjutan) Efek Kekalahan MU

Siapa yang berkata syair-syairku hanyalah sandiwara?
Untuk mempermainkan hatimu dengan bualan romansa.
Mereka boleh sebut aku sang pujangga gila.
Karena aku telah menggilaimu sebelum dapat kurangkai kata.
Kata, yang membuat mereka tahu bahwa kau teristimewa.

~.~

Kau, yang selalu membuatku tersipu di malam minggu?
Dengan kata-kata manis kau mampu menepis segala ragu.
Kau, yang melenakan aku dengan puluhan puisi dan lagu?
Menanti senyuman manjamu, tanpa sadar kusetia saja menunggu.
Menunggumu yang tanpa ragu menyanyikan lagu untukku setiap malam minggu.

~.~

Dunia ini memang sangat luas untuk ditinggali para lelaki baik hati. Namun, seluas-luasnya hatiku, hanya kamu lelaki yang boleh menyelami. ;D

~.~

Wanita laim bebas datang/pergi ke/dari hatimu, tapi hanya akulah wanita yang membuatmukembali dan berhenti mencari (yang lain). ;D

~.~

Ketika lelaki lain hanya mampu mengumbar janji-janji semu, engkaulah satu-satunya lelaki yang selalu menghapus segala ragu. ;D


Alay yaaah dibacanya? Sebagian lagi sudah dipos lewat twitter. Kenapa bisa sampai bikin sebegini banyak perkataan setelah kekalahan ManU itu? Saya pun tidak mengerti. Hanya saja menurut saya, apabila tidak langsung dicatat di draft HP ide-ide tersebut akan terbang tinggi, sayang saja. Sebenarnya bukan semata-mata karena kekalahan ManU, tetapi SMS dari seorang kawan yang saya rindulah awal mulanya. 

Seorang kawan yang saya maksud tentu saja perempuan. Di tulisan saya sebelumnya, saya pun sudah bilang bahwa kawan yang saya rindukan itu membuat saya malu, betul-betul malu. Kemudian, saya berpikir, saya lebih sering dibuat tersipu malu oleh kawan-kawan perempuan, bahkan oleh lelaki saya rasa tidak pernah merasakan rasa malu yang sama. 

Akan tetapi, sungguh, saya masih normal alias penyuka laki-laki (haduuuuh kenapa rempong gini). Lalu saya mulailah terinspirasi seolah-olah ada seorang laki-laki yang meluluhkan hati saya. Lantas, kenapa tulisannya seperti di atas itu? Saya pun tidak ingat lagi kenapa. Saya hanya mampu berbaik sangka bahwa jodoh atau pasangan hidup saya nanti adalah satu-satunya laki-laki  istimewa dan mengistimewakan saya dalam hidupnya. Aamiin..

Rabu, 09 Mei 2012

Rindu Kepada Kawan


Membolak-balik blogmu. Tiada yang berubah, mungkin karena kau sedang sibuk mengubah dirimu, bukan blogmu. Sungguh, aku sangat (sekali)  rindu. Pernah sekali waktu kau meng-SMSku, aku langsung saja gembira serta merta. Kemudian, kau bertanya, sedangkan aku malu sekali menjawabnya. Dan.. SMSmu yang belum kubalas  masih tersimpan…

Aku hanya mampu bertanya pada diriku, mengapa diriku begitu rapuh? AKu ingin sekali bersua denganmu, terus bersua hingga bertemu di Jannah-Nya. Sungguh, aku akan menyibukkan diri untuk berubah pula. Doakanlah kawanmu ini…

Rindu

-10 Mei 2012, 10.22 AM

Minggu, 15 April 2012

Antara Kepenulisan dan Kelulusan


Saya harus menulis lagi. Semakin dekat dengan kelulusan sebagai sarjana sastra atau sebutlah sarjana humaniora saya semakin harus gencar menulis. Eits, tapi bukan menulis CV buat lamaran kerja nanti, lho. Bukan itu!

Saya ingin melancarkan “serangan mimpi” ke alam nyata. Setelah akhirnya 22 tahun bertempur dengan segala pertanyaan tentang ke mana harus melangkahkan kaki, tibalah waktunya menentukan pilihan. Pilihan yang paling baik—semoga baik juga menurut Allah—adalah melalui kepenulisan. 

Ya. Ini terkait pilihan profesi atau bidang pekerjaan selepas menjadi mahasiswa. Insya Allah kepenulisanlah yang saya pilih setelah agak lama bergulat dengan waktu dan profesi-profesi lain. Akan tetapi, masih mengambang sebenarnya menulis apa? Apa ya enaknya? Yang berawal dari hobi, kemudian menghasilkan duit yang  berlimpah. Eh,eh, tidak perlu belimpah sebenarnya, asalkan bisa buat sangan, pangan, papan, jalan, infaq, dan beli buku per bulannya. Oia, satu lagi, buat tabungan haji dan anak pun juga deh.  

Apakah saya bakal mencoba daftarkan diri ikut CPNS?
Itu kayaknya menjadi peluang yang cukup besar deh. Sebenarnya, aku mau-mau aja asalkan tetep bisa nikah di usia 23 plus bisa keliling Indonesia. Kira-kira bisa ga ya? Kalo semisalnya tidak memungkinkan, aku yakin rizki Allah terbuka di mana saja. Allah yang akan memberi kita rizki kok, bukan manusia. Dengan keyakinan itulah, aku memilih untuk fokus di ranah profesi yang lebih free, menyenangkan sekaligus menegangkan, tapi sarat pembelajaran dan penuh manfaat dunia-akhirat. Uhuy banget yaa. Insya Allah yang bersesuaian dengan kepenulisan.

Apa sih yang dimaksud “kepenulisan,” Fit?
Nah, kepenulisan itu ya yang berhubungan dengan “tulis-menulis”. Perlu ditekankan memang, bukan “edit-mengedit” ya. Karena saya lulusan sastra Indonesia, insyaAllah yang mengedit tulisan saya adalah diri saya sendiri. Akan tetapi, saya maunya mengedit tulisan sendiri, bukan tulisan orang lain, kecuali suami saya seorang penulis juga, pasti saya yang editin tulisan dia hehe. 
Sebenarnya ranah kepenulisan itu banyak macamnya, contoh, jika tulisannya ilmiah, profesinya bisa saja dosen peneliti, staf dalam suatu kelembagaan, ilmuwan, juru tulis kepresidenan atau yang berbau lembaga struktural juga bisa. Ada pun tulisan yang populer saat ini adalah tulisan jurnalistik yang mengulas serba-serbi infotanment, gossip, kuliner, travel, atau berita  lainnya.
Lalu, kepenulisan jenis apakah yang akan saya pilih? Sayangnya, saya belum mau serta mampu menjawab selama Allah belum memberi clue kepada saya. *nyengir dikit deh

Profesi sebelumnya sebagai pengajar bimbel dan privat, bagaimana kelanjutannya?
Haruskah dilanjutkan? Pertanyaan yang melahirkan pertanyaan baru, ini memang “gaya” favorit saya. Kalau ada yang dapat menembus relung batin saya yang terdalam, pasti pertanyaan tersebut dapat terjawab dengan mudah. Bismillah, jawaban saya saat ini adalah saya ingin membiarkan “mimpi” saya menaungi kenyataan saya mendatang, dan menjadi pengajar itu bukan mimpi saya.
Saya ingin menjadi pendidik, bukan pengajar. Yang perlu ditekankan adalah, bimbel atau les privat itu tidak membutuhkan pendidik. Satu hal lagi, saya tidak ingin menjadikan “pendidik” sebagai profesi. Mendidik sebuah generasi adalah keharusan bagi saya.
Lantas apakah profesi saya sebagai guru saja. Untuk saat ini saya tidak dapat mengatakan saya tidak mau menjadi guru. Akan tetapi, saya harus katakan, berprofesi sebagai guru, bukan mimpi saya. Sungguh, saya tidak pernah memandang sebelah mata profesi yang paling mulia ini. Tidak sama sekali. Mimpi saya yang terkait pendidikan formal adalah saya harus punya sekolah. Semoga terjawab sudah. *senyum dulu deh

Sepertinya saya harus banyak “membaca”, mendengar, dan mengamati agar langkah ini semakin pasti menuju ridho Illahi Rabbi.

Tetap semangat, dan jagalah terus mimpi itu.