Tampilkan postingan dengan label Pergulatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pergulatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Februari 2016

Kapan Siap?


Pada waktu yang tepat, in sya Allah saya siap.
Tenang, saya sedang bersiap-siap.
Segala persiapan telah terjajarkan.
Pintu-pintu akan dibukakan dengan beberapa anak kunci.

Sambil di hati kecil ini berujar,
"Larilah!,"
"Persiapan sematang apa pun, tidak akan membuatmu siap,"
"Semoga anak kunci yang dibawa semua salah dan bom segera meledakkan yang terjajarkan"

Menunggu-nunggu ketetapan apa yang digariskan takdir.
Mencoba menerka dengan takut dan  terus menyakinkan keresahan.
Siapa sangka, siap atau tidak bukan perkara kapan.

Karena ia berupa
: keputusan!




@ruang
22Feb'16_ 18.00

Sabtu, 15 Desember 2012

Mendung vs Hujan

Selamanya kita mungkin bisa dapat menyimpan perasaan. Menggantungkan sikap dan keputusan kita selayaknya langit mendung yang entah kapan dinaungi hujan. Lalu apakah mendung atau hujankah yang lebih baik serta banyak berkahnya? Kenapa saya harus bertanya?

Mendung itu merupakan gejala alam ketika awan "menyimpan" gas-gas hasil penguapan serta sudah terlihat lelah membawa gas-gas tersebut. Wajarlah jika ia lalu terombang-ambing diterpa angin, mengikuti arah yang tak tentu sehingga gelaplah daerah yang dilaluinya. Gelap. Seumpama rahasia hati yang penuh misteri dan hanya mampu bergemuruh sepi, sendiri. Sekeliling daerah yang dilalui awan terlihat seperti biasa saja, tapi sedikit samar. Hawa sekitarlah yang mampu menjelaskan keanehan yang tak terbaca kelima indera. Terkesan  baik-baik saja, padahal berhawa berbeda.

Keganjilan hawa akhirnya tak selamanya tanpa jawab. Jawaban satu-satunya yang melegakan adalah keteduhan hujan. Hujan mampu "menguraikan" serta "mengungkapkan" segala yang terlihat samar. Walaupun sering pula pengungkapan itu diiringin caci maki benci. Namun, itulah bentuk "pengembalian". Kembali menuju cahaya terang, bersiap untuk menyuburkan tanaman-tanaman yang kering. Dengan atau tanpa pelangi hujan memberi kesan indah penuh sensasi. Membasahi debu-debu di jalan dan mengalirkan segala jenis kotoran. Meskipun sesekali petir dan gemuruh bersahutan, tak begitu lama ia akan berhenti. Di satu titik akan kembali menjadi normal, seperti sedia kala, tanpa ada yang tersembunyi. 

Antara mendung dan hujan, manakah cerminanmu?


_Fitri Apriliani Lestari
16 Desember 2012, Today is Holiday

Sabtu, 01 Desember 2012

Ketika Kembali

Ternyata...
menjauh darimu tidak memerlukan banyak waktu
pikirku dapat bertahan sejenak untuk menjaga jarak,
malah kudapati hatiku kian menjadi retak.
Mimpi-mimpi, impian, serta harap
lama kelamaan semakin hilang menguap,
seiring adanya diriku di sini menetap.

Segala kehampaan jiwa bukan tanpa sebab
tidakkah kau tahu hanya ada satu jawab,
yaitu: engkau!
Tubuhmu yang tak lagi dapat kudekap
Harum aromamu yang semakin sulit kuhisap
Teduh matamu yang jauhlah 'tuk kutatap

Aku ingin kembali,
telah kusiapkan segenap kekuatan untuk berlari
memeluk erat dirimu dan tak rela kulepas lagi
Aku tahu segalanya itu penuh konsekuensi
karena akulah yang pertama bergegas pergi
lalu sekarang aku pula yang merengek 'tuk kembali
meski kau hujaniku dengan umpatan kecewa serta caci maki,
senyuman sinis, dan juga sejumput rasa benci,
yakinlah aku tetap setia di hadapanmu menanti,
menanti untaian kata yang kau ucap dengan hati-hati
: "Dirimu pergi memang untuk kembali karena akulah yang kau cintai."


2 Desember 2012
_bukan tentang siapa

Aku = Pilihanmu

Pasti kamu menyangka aku berubah ya?
Setelah terbawa emosi sesaat untuk menjauh darimu serta dengan keras kepala berjanji sanggup bertahan tanpa dirimu, lalu sekarang apa?

Tiba-tiba.. menjauh sebentar saja darimu, satu per satu bagianku menghilang.
Dalam beberapa hari aku terbakar, segera ingin berlari seolah dikebiri oleh kenyataan yang jauh dari mimpi.
Sebulan setelah itu, aku merasa mulai terbiasa dan segala hal dapat kuhadapi sempurna.
Bulan berikutnya tantangan semakin tak ternikmati, mencoba sekuat hati berdiri walau jiwaku habis tanpa isi.
Ya, aku bertahan dengan tambalan-tambalan hati yang aku pun tiada dapat mengerti
Mungkin inilah buah dari pengharapan atau azab dari kekecewaan?
Mulailah aku kian tersesat dengan berbagai arti.
Haruskah kutampung sementara semua hasrat agar mampu memperhatikanmu di sini dengan cermat
atau lebih baik kuberlari meluapkan hasrat terdalam 'tuk menggapaimu sampai dapat?

Katakan, apa yang kaupilihkan untukku, "'Bertahanlah,' atau 'Kembalilah'"?


2 Desember 2012
_ini bukan tentang siapa

Minggu, 25 November 2012

Apalah Arti Sebuah Mimpi

Mimpi sebenarnya berarti apa?
Apa memang benar bunga tidur?
Jadi, intinya segala hal yang kita harapkan tervisualisasikan lewat mimpi, begitu?

Saya sama sekali tidak dapat memahami ke arah mana arti sebuah mimpi. Alasannya jelas, karena saya bukanlah seorang penafsir mimpi. Namun, selama ini mimpi seolah-olah dijadikan pertanda, rujukan, dan jalan keluar. Lalu tiba-tiba ada profesi baru, yaitu "peramal" atau sebutlah "cenayang" dalam hal mimpi. Hati-hati, mungkin kita termasuk orang yang berprofesi sama. Ya, walau mungkin hanya meramal mimpi kita masing-masing.

Bagi saya, mimpi yang akan menjadi kebenaran hanya mimpi para Rasul. Rasul terhandal serta termahir menafsirkan mimpi, cukup Nabi Yusuf. Alangkah lucunya jika saat ini masih terjebak dengan ungkapan-ungkapan terkait mimpi, salah satunya, "Kalau mimpi solat berarti sebentar lagi meninggal". Waduh, hebat banget kesesatan dari tafsiran mimpi tersebut. Masih banyak lagi ungkapan kuno serta menyesatkan terkait tafsir atau arti sebuah mimpi.

Ada pula (katanya) penelitian terbaru yang lebih logis serta ilmiah. Mimpi diartikan sebagai perwujudan perasaan yang tidak tersampaikan. Perasaan itu banyak macam: kangen, cinta, rindu, pengen ketemu, tak sabar berjumpa, *lholholho, sama aja ini semua*. Terhadap (yang katanya) penelitian terbaru tersebut, saya juga tidak percaya. Saya pun sering memimpikan banyak orang yang tidak saya kangeni. Seringkali ketika bangun tidur saya cuma heran, lagi ga mikirin orang itu, orang itu, dan yang itu, kenapa bisa ada di mimpi saya?

Berarti mimpi itu dari manakah berasal? 

_biarkan tanya menggantung di udara

Senin, 26 November 2012

Selasa, 23 Oktober 2012

Amanah Kita


Bismillah…

Karena amanah ini amatlah berat
Sedangkan pertalian kita ternyata sekarat
Di luar pun banyak kata-kata mengumpat
Seolah ingin menghabisi kita dengan cepat
Sungguh kita bicara saja dalam forum, merapat
Agar segalanya jelas dan dapat kembali bergerak lebih semangat
Janganlah lupa tegur-menegur bernasihat
Karena kebersamaan itulah yang membuat kita kuat
Satu yang harus selalu diingat:
Hanya kepada Allah kita berbai’at
Semoga selamat dunia hingga akhirat

Ya, karena amanah ini memang berat





~di waktu fajar 24 okt’12, saat terbayang adik-adik dan teman-teman ROHis

Jumat, 14 September 2012

Cahaya yang Dicoba Padamkan (oleh mereka)

Salah satu media mengabarkan fitnah secara terang-terangan tentang Islam. Lantas, reaksi apa yang mereka inginkan dari kami, umat Islam? 

Ini bukan kali pertama pengabaran ngawur media terhadap Islam. Sudah kesekian kali hal yang sama terjadi. Bukan rahasia memang jika musuh Islam bertebaran di muka bumi. Mereka pun sepertinya sudah dapat menebak reaksi umat Islam: penuh kobaran amarah. Umat Islam mana yang tidak teriris hatinya ketika difitnah oleh sekelompok orang yang  mengaku Islam, tapi sekaligus membencinya. Astaghfirullah.

Saya senantiasa refleksi lagi dan lagi untuk berpanjang reaksi terhadap hal ini. Kasus yang baru saja tersiar secara spesifik memfitnah lembaga keislaman sekolah (RoHIS) sebagai tempat pembentukan teroris muda. Reaksi dari saya? 

Islam disangka teroris itu bukan makanan baru di penjuru dunia. Akan tetapi, kali ini terlampau berlebihan karena membawa label yang pasti ada di setiap sekolah. Sedih sebenarnya. Sekolah atau pendidikan di Indonesia (khususnya sekolah negeri) sampai saat ini belum sukses membentuk pribadi yang jujur, apa sebabnya? Hal ini disebabkan oleh pemisahan nilai antara kognitif dan akhlak. Oleh karena itu, perlu adanya asupan seimbang yang diwadahi oleh Rohis. Namun sekarang apa yang terjadi? Lembaga itu pun dikerdilkan, contoh mudahnya adalah SMA saya. 

Aah, terlalu panjang jika bercakap mengenai SMA itu. Hilang selera saya. 


~hampir tengah malam, 14 Sept'12
Fitri Apriliani Lestari

Selasa, 11 September 2012

Siapa

Beberapa tahun silam,
dengan mengendap-endap kuberharap langkah kita utuh berpadu.
Tiada benci, marah, dan ragu,
meskipun kita semua tahu bahwa waktu akan cepat berlalu.

"Semoga kawan, perubahan hanya membawa kita pada kebaikan",
Dirimu, tetaplah seperti itu, seperti dulu.
Janganlah terburu meninggalkan jejak-jejak,
yang telah menjadikanmu baru.

dan...
dalam ketidaksadaran,
seiring putaran hari yang berjalan
hanya satu sosok yang mengalami perubahan,
yaitu: aku!

Kalian, antara sadar atau mungkin tak peduli,
atau sesuatu lain yang tak dimengerti,
berlari melesat bersama mimpi.
Meninggalkan endapan yang hanya terbaca oleh hati.

Kamis, 23 Agustus 2012

Tentang Pencarian Nafkah (sesi inti)

Masih haruskah mengedepankan idealistis dengan segenap egoistis dalam meraih rizki Allah?
Akankah berlaku hitung-hitungan akal dalam mengatur titian takdir Yang Maha Kuasa?

...
Suatu sore pada tanggal 13 Juli 2012, hari Jumat tepatnya saat itu, saya lesu sekali keluar dari sebuah mal di wilayah Jakarta Barat. Lesu bukan karena kecapean mengelilingi mal yang besar itu, bukan, melainkan hanya karena sebongkah kekecewaan. Kekecewaan yang berhasil mengubur harapan saya untuk sesegera mungkin dapat bekerja. Hari itu adalah hari pertama saya mengikuti job fair. Dari sanalah saya menyadari bahwa pekerjaan yang ditawarkan dalam job fair hampir 100% membuat saya ogah banget berstatus sebagai karyawan. Tidak heran dari puluhan perusahaan yang membuka lowongan, hanya satu saja yang saya singgahi. SATU saja dengan posisi yang umum, bahkan perusahaannya pun tidak bergerak dalam dunia yang saya ingini. 

Lantas, apakah saya menduga ternyata SATU perusahaan beserta posisi itulah yang saya geluti sampai saat  ini (hampir sebulan lamanya)? Sungguh, saya tidak menduga sejauh itu. Untuk mencapai waktu tiga minggu di perusahaan ini saja saya harus menjalani proses pendewasaan yang tidak mudah. Lebih tepatnya dikatakan proses pengikhlasan dan pengorbanan. 

...
Semenjak mengikuti job fair dan berakhir dengan kekecewaan. Saya mengandalkan pencarian kerja melalui situs lowongan kerja di internet. Tentu saja dengan lingkup spesifikasi yang saya inginkan. Empat sampai lima perusahaan dengan posisi yang diidam-idamkan saya kirimi CV beserta surat lamaran dengan format yang sudah tersedia. Beberapa hari setelah saya kirimkan CV, ponsel saya mendadak banyak panggilan dari nomor tak dikenal, tentu untuk wawancara, tes, dan sebagainya. Betapa bahagianya mengatahui bahwa perusahaan yang pertama kali merespon CV saya adalah perusahaan yang menawarkan posisi sebagai content writer. Perusahaan itu terletak di wilayah sibuk, Senayan. Akan tetapi, setelah saya mengkroscek lebih lanjut, ternyata sudah banyak kasus penipuan yang dialami calon pelamar kerja di perusahan itu. Alhasil, saya pun membatalkan niat untuk mendatangi kantor tersebut, maklum masih cari aman. 

Ada pula perusahaan yang bergerak di bidang periklanan yang menjadi fokus saya setelah melupakan posisi content writer. Perusahaan itu cukup terkenal sehingga saya tidak terlalu memikirkan posisi yang sesuai dengan harapan "idealis". Saya semakin tertantang dengan proses penerimaan final perusahaan tersebut yang tidak mudah. Tes psikotesnya saja sangat menguras pikiran, tangan, ketelitian, dan kecepatan. Mantaplah, Plan A saya adalah perusahaan periklanan tersebut. Namun, setelah seminggu psikotes, panggilan lanjutan tak lagi ada, sedangkan perusahaan SATU temuan dari job fair kian serius. Sangat serius.

Saya kemudian pesimistis diterima di perusahaan periklanan itu. Jadi, saya segera menyiapkan berkas-berkas untuk finalisasi di perusahaan SATU temuan dari job fair, dapatlah dikatakan setengah hati. Akan tetapi, tubuh  ini terlalu busuk untuk sekadar teronggok di dalam rumah. Bismillah.. sebagai batu loncatan pertama saja. Tepat tanggal 31 Juli 2012, dengan membawa berkas lengkap finalisasi, sekitar pukul setengah lima sore, kontrak kerja pun saya tanda tangani. Apakah saya sadar saat itu? Tentu saja sadar, hanya saja saya tidak merasa bahagia selayaknya orang yang pertama kali diterima kerja secara profesional. Saya merasa biasa saja. Mungkin karena saya masih menyimpan rapi keidealisan dalam hati saya. 

Beberapa hari bekerja, saya jenuh. Hati saya selalu berontak, begini katanya, "Bete banget ini kerjaan, aku ga sesuai sama pekerjaan ini, sabtu-minggu ga libur, haduuh." Tiba-tiba perusahaan periklanan yang telah dua minggu mendiamkan saya, meminta saya untuk kembali datang untuk wawancara lanjutan. Ahaa.. senangnya. Ini nih memang jatah saya. Saya berpikir plan A masih dapat terlaksana.

...
Namun, Allah menginginkan lain.
Saya harus menjinakkan keegoisan saya, memberi kelapangan kepada jiwa untuk mengenal arti IKHLAS.
Sampai akhirnya saya tahu bahwa yang saya ikhlaskan dan yang saya korbankan hanyalah sebuah keidealisan yang harus berubah menjadi kebermanfaatan. Proses pendewasaan ini ternyata belumlah seberapa, jadi Allah ingin saya belajar lebih, BELAJAR lebih. 


~Fitri Apriliani Lestari

Minggu, 22 Juli 2012

LELAKI ITU


Lelaki itu…
Seorang lelaki yang sering saya jumpai di dalam mimpi. Entah, kenapa harus dia? Apakah masih terlalu dalam lukaku saat beberapa tahun lalu dia “mempermainkan” hatiku sehingga mimpi itu merupakan perwujudan dari benci… ataukah… rindu? Ya, kenapa harus dia?

Lelaki itu…
Dengan penuh perhatian dia menanyakan sejumlah kabar berita saat kutak mampu melangkahkan kaki ke tempat menimba ilmu. Setiap hari, sepanjang malam, pembicaraan melalui SMS kita lakukan. Kata-kata motivasi, pernyataan penuh hikmah dia sampaikan pula melalui SMS. Aku semakin tidak mengerti dan tidak sadar dengan perasaanku terhadap lelaki itu. Lalu, munculah pertanyaan dalam hati kecilku, apakah dia menyampaikan bentuk perhatian kepada semua teman peremuannya? Jika memang iya, berarti tiada yang spesial dari SMS lelaki itu bagiku. Akan tetapi, jika tidak, mungkinkah dia menaruh perasaan kepadaku? Aahh.. aku sangsi terhadap perasaannya.

Lelaki itu..
Aneh. Jika saling berhadapan langsung tidak pernah salah satu dari kami berani membuka pembicaraan selayaknya saat SMS. Apa-apaan ini semua. Aku pun semakin tidak mengerti. Begitu seringnya kami bercakap-cakap dari urusan umum sampai urusan khusus sampai aku sangat hapal pukul berapa dia akan meng-SMS-ku. Kami tidak pernah saling mengakui hubungan apa yang kami bangun, tapi menurutku hanya sebatas teman saja. Oh.. bukan, dia selalu menamai dirinya adalah sahabat atau saudaraku.  Itu saja. Namun, hatiku ada rasa terhadapnya—rasa yang berbeda—saat   itu.

Lelaki itu…
Kurasa merasakan hal yang sama terhadapku. Sayangnya, dia tak mengungkapkannya. Betulkah? Begitu percaya diri aku ini menganggap lelaki itu mempunyai sejumput rasa cinta untukku. Ya, hanya sejumput cinta yang dia ragukan. Mungkin. Tidak pasti dan sampai kapan pun tidak akan kuketahui kebenarannya, kecuali jika dia ternyata jodohku suatu hari nanti. Seandainya dia jodohku sekalipun, mungkin saja dia tidak ingat puluhan malam yang dia habiskan untuk berbincang denganku melalui SMS, saat itu.

Lelaki itu…
Dia berhasil menjadi lelaki pertama yang menggegerkan hatiku dan lelaki pertama yang menyibukkanku untuk membangunkannya salat sebelum waktu subuh. Harus kuakui, aku tidak bangga terhadap itu semua, bahkan sebaliknya, aku merasa malu. Kemudian, pembicaraan kami semakin jarang, entah siapa yang menghentikan, akhirnya pun tiada lagi pembicaraan antara kami. Seolah tiada kenangan apa pun yang membekas. Ya, memang seharusnya tidak ada bekas apa pun juga karena saat ini kami masih berteman. Teman biasa.

Lelaki itu..
Aku yakin dia kini sudah bahagia dengan dunianya. Syukurlah, dia mampu menyimpan pembicaraan lama kami sehingga tak perlu diketahui siapa pun. Aku pun demikian. Sampai suatu ketika, dia menyatakan sesuatu yang menyiratkan pembenaran perasaannya terhadap diriku. Hal itu setelah sekian lama permbicaraan SMS kami terhenti. Namun, sudahlah, toh itu sudah berlangsung cukup lama dari hari ini. Aku yakin, jalan kami berbeda dan tidak saling mempertemukan kedua hati. Dia pun telah sibuk dan bahagia dengan dunianya.  

Lelaki itu..
Kenapa dia yang ada di mimpiku saat ku merasa jatuh? Walau harus kuakui rasaku padanya semakin jauh. Lalu, mengapa lelaki itu?

Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, bersahabat denganmu adalah kesempatan, tapi menjadi saudaramu adalah kebahagiaan, dan melihatmu bahagia adalah kegembiraan yang tiada bernilai!

 
Untuk lelaki itu:
Jika takdir yang mempertemukan kita, takdir pulalah yang memisahkan kita, dan aku sungguh banyak belajar menjaga hati semenjak pembicaraan denganmu itu, Terima kasih, kawan!

2 Ramadhan 1433 H

Senin, 28 Mei 2012

Gak..Gak..Gaga..Gak


Ngobrolin Lady Gaga sudah tidak asing lagi beberapa pekan ini. Biasalah media, terlalu membesar-besarkan masalah. Terserah deh jika banyak orang yang berpendapat Lady Gaga adalah icon musik sekaligus seniman nomor satu di abad ini. Namun, bukan berarti menyudutkan sebagian orang yang merasa tidak suka dengan si Gaga.

Tulisan ini bukan bermaksud menyampaikan hal-hal negatif dari seorang Lady Gaga, ngapain juga. Saya yakin para fansnya sudah tahu tentang segala keburukan sosok yang dikagumi itu. Jadi, untuk apa diomong lagi. Yang ingin saya sampaikan di tulisan ini hanya berupa kesan saya terhadap tanggapan salah seorang public figure yang menyudutkan orang-orang yang anti-Gaga.

Sesampai saya di rumah saudara, channel tv yang terpasang adalah Global tv dengan acara gosip bernama focus selebriti. Berita yang diputar ya tentang tanggapan fans Lady Gaga terhadap kebatalan konser Gaga di Indonesia. Wajar jika mereka kecewa karena sudah mengantri panjang plus penuh perjuangan untuk beli tiket konsernya. Nah, dari sekian banyak komentar tentang kebatalan konser tersebut, cuma pendapat si public figure (yang saya maksud di atas) yang mengagetkan saya.

Si public figure itu adalah salah satu vokalis band “yang baru terkenal” di Indonesia. Dia bilang apa tentang kebatalan itu? “Ya kita aja, eh maksudnya beberapa orang yang ribet, kampung, yang tidak mengerti seni.  Dia itu dari Amerika, lebih pinter dari kita, dia juga tahu harus tampil bagaimana di Indonesia yang kebanyakan muslim. Dia bisa tampil tertutup, tapi tetep aneh sesuai cirinya. Yah pokoknya (yang tidak suka) kampung, sampah..”  Tentu saya pastikan redaksional yang saya berikan tidak mutlak 100% seperti perkataan public figure itu. Tetapi saya sangat yakin sekali perkataan “kampung” , “sampah”, “Gaga lebih pinter dari kita”, itu memang disampaikan.

Coba bayangkan? Berarti saya pun yang termasuk menolak kedatangan si Gaga itu kampung? Okelah, tidak masalah kalau sekadar kampung, tapi sampah? Lebih bodoh dari si Gaga? Hah, saya tidak habis pikir saja. Namun, saya sangat mengapresiasikan kejujuran public figure itu walau dia bodoh (soalnya di sendiri yang bilang orang Amerika lebih pinter).  Kalau perkataan itu disampaikan oleh abang-abang tukang parkir di warung kopi, saya tidak mempermasalahkan. Heran saya, public figure yang tampil keren di atas panggung gitu lho, ngomongnya kayak abang tukang parkir, bahkan lebih buruk mungkin.

Setiap kata yang keluar dari mulut kita adalah cerminan diri kita. Semoga setiap kata yang salah dapat segera kita perbaiki.

 (Fitri Apriliani Lestari_Prodi Indonesia UI)


Minggu, 27 Mei 2012

Boys..sorry!


Dari kemarin hingga hari ini, lintasan peristiwa dan situasi banyak saya temui. Beberapa jam yang lalu  saya merasa  “over-info”  atas hal tersebut sampai mengakibatkan kepusingan di kepala, tidak fokus, dan lain-lain. Menurut saya, jalan yang tepat untuk menghilangkan ke-“over-info”-an, yaitu dengan berbagi atau menulis. 

Entah kenapa dari banyak lintasan peristiwa dan situasi yang saya alami, yang paling tertanam di kepala saya adalah LAKI-LAKI. Padahal ada hal memusingkan lain, tapi yang bikin saya iri, heran, tertarik, dan sebagainya adalah mengenai hal ini: LAKI-LAKI. Ini hanya pandangan saya saja, dari sudut pandang wanita. 

Asma Nadia menulis di salah satu novelnya berjudul  Istana Kedua, begini:  “Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan.” 

Untuk saat ini saya menulis random saja deh, yang penting tersalurkan kepusingan saya.
Sedikit informasi, saya masih suka kok dengan lelaki dan bagi saya: Lelaki itu bukan untuk dibenci, melainkan untuk diwaspadai (untuk yang belum bersuami ya!)

Ini tentang sebongkah hati, di usia tanggung atau sedang mencari jati diri
Ya, masalah hati dari sisi berbeda, yaitu antara perempuan dan laki-laki
Jika perempuan terkesan cukup berhati-hati dengan hati
Lain halnya dengan laki-laki
Walau kita semua sadari masalah hati merupakan hak asasi

Kini saya hanya ingin berujar tentang laki-laki
Agar segala perempuan dapat mempersiapkan diri

:Dia pintar sekali membangun mimpi
Diumbarlah berbagai janji-janji
Katanya gunung tertinggi akan didaki
Luas samudra akan disebrangi
Karena cintanya tidak mengenal tepi
Ooh, dia pun mengungkapkan bahwa dirimu bak peri
Satu-satunya wanita tempat berlabuhnya cinta sejati

Lalu kau percaya kata-katanya dan terus menanti,
kata-kata indahnya yang menjadikanmu serasa permaisuri,
dengan cepat memasuki hatimu yang kauanggap tak sepi
Namun, ketika kau terlambat sadari
Segala romansa yang dia beri hanya buaian tiada pasti
Serta berapa saat lamanya dia pun entah kemana pergi
Tanpa jejak sehingga tak dapat kau cari
Kemudian kau kan bingung sendiri
Ingin melupakan, tapi dirinya di hatimu telah terpatri
Sudah, tak ada lagi yang mesti kau sesali

Yakinlah lelaki sejati bukanlah pemilik ribuan janji
Yang mudah berpindah dari satu hati ke berbagai hati
Jangan gampang menyerahkan hatimu untuk sepotong mimpi
Jika belum terucap satu janji di hapadan wali dan saksi,
..dan dilakukannya semata karena illahi Rabbi


~aku yang mungkin saja termasuk kau
27 Mei 2012, 9.52 PM
(Fitri Apriliani Lestari_Prodi Indonesia UI)