Tampilkan postingan dengan label Jejak budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Mei 2012

SIAPA SURUH “pergi” JAKARTA


Selalu timbul di pikiran saya, kenapa orang-orang Indonesia merasa harus datang ke Jakarta? Apalagi jika kita lihat sehabis lebaran Idul FItri,  yang tadinya pulang kampung sendiri, pas balik lagi ke Jakarta bertiga akibatnya tiba-tiba ada razia KTP dan sebagainya. Alasan orang-orang di luar Jakarta ingin datang ke Jakarta beragam dari yang sekadar jalan-jalan lihat monas sampai yang paling umum adalah mencari kerja.

Yup, mencari kerja. Saya harus membenarkan memang di Jakarta itu apa saja dapat diuangkan. Sampah, bisa diuangkan dengan jadi pemulung, beras beberapa butir plus botol air mineral kosong, bisa diuangkan dengan mengamen, bahkan yang hebatnya lagi mata melas, tampang lusuh, ditambah baju compang-camping bisa diuangkan dengan mengemis. Tuh, semua kerjaan ada di Jakarta. Bukan kerja biasa, itu semua kerja kreatif.

Jakarta: Wajah Indonesia?
Jika benar Jakartalah wajah Indonesia, sedih sekali hati saya. Sebagai orang –yang bisa dibilang—Jakarta asli (karena emak-babe, nenek-embah, dan kumpi lahir di Jakarta), saya prihatin jika Jakarta adalah kiblat Indonesia. Saya saja merencanakan pergi ke luar Jabodetabek, serta tinggal di daerah lain selepas kuliah. Kenapa? Karena rutinitas dan gaya hidup di Jakarta sudah menjemukan bagi saya.

Terus terang, saya sebagai mahasiswa program studi Indonesia UI, yang diajarkan tentang lokal genius, kebudayaan Indonesia, filosofi dari berbagai kesenian di Indonesia, tidak menangkap nilai-nilai khas Indonesia ada di Jakarta. Saya penasaran sebenarnya nilai-nilai tersebut yang sudah berubah atau “si Jakarta” ini yang bermasalah. Kalau kita berpikir wajah Indonesia adalah Jakarta, berarti nilai-nilai tersebutlah yang terkikis habis. Wah, berarti di kuliah para dosen menceritakan sejarah Indonesia zaman dulu. Benarkah?

Untuk orang-orang yang ingin datang ke Jakarta, lebih baik jangan meneruskan membaca tulisan ini . Saya akan mengungkap nilai-nilai “luhur” di Jakarta yang dianggap sebagai hal yang biasa.

1.      Boros waktu
Hal yang terkait pemborosan waktu sudah menjadi umum di Jakarta, apalagi kalau bukan kemacetan.  Eits, ada lagi selain macet, khususnya bagi pengguna bus transjakarta pasti mengalaminya, apakah itu? Mengantri di halte busway yang panas serta pengap. Saya punya cerita tentang ini. Berapa waktu yang dibutuhkan dari halte Rawa Buaya, Cengkareng ke Juanda? 1,5 jam jawabannya, padahal saya naik bus transjakarta. Huuuf.
Bayangkan, itu baru perpindahan dari Jakarta Barat-Jakarta Pusat.
            Seharusnya bisa saja engga boros-boros waktu amat, seandainya tidak berdesak-desakan, kita bisa memanfaatkan waktu untuk baca buku, belajar, dsb. Tapi kalau tidak nyaman serta was-was dicopet, ga bisa juga kan? Saya salut sama orang-orang yang setiap hari menggunakan jasa transjakarta, sabar bener menderita.  

2.      Berebut kekuasaan
Setiap orang berhak mencari kuasa, tidak salah. Terlebih lagi, berkuasa dalam rangka membenahi pemerintahan yang bobrok, sangat positif dan mulia. Sayangnya di Jakarta orang-orang pinternya rada kepinteran sehingga hal yang wajar (mencari kekuasaan) menjadi tidak wajar. Salah satu ketidakwajaran yang sudah umum adalah politik uang yang berakibat korupsi.
            Tidak semua elemen melakukan ketidakwajaran, tapi sudah terlalu umum sampai susah dicari mana yang jujur. Namanya orang pinter, hal yang tidak wajar bisa dicari teornya biar wajar. Seolah-olah kekuasaan adalah segalanya dan harus banget dicapai, sampai lupa akan kekuasaan Allah yang Maha. Buktinya banyak yang me”nomorsekian”kan kejujuran.

3.      Materialistis dan Sensasional
Bukan salah Syahrini yang pengen terkenal sampai harus buat sensasi. Kenapa jadi ke Syahrini? Karena dapat dikata dia kali ya yang terkenal akan sensasionalnya saat ini.  Di Jakarta sebagian besar dinilai dengan apa yang kamu punya. Contoh kecil, ketika riweh ada isu ketidak”shahih”an penggunaan Blackberry, langsung berita heboh mengabarkan bahwa hal itu tidak adil. Setiap televisi mengabarkan tentang isu itu aja, padahal saya yakin di Indonesia tidak lebih dari 10% yang punya Blackberry. So?
            Warga Jakarta demen deh hal-hal yang terkait sensasi. Mungkin bisa aja kita bilang, “Ah..dia mah cuma nyari-nyari sensasi.” Tapi setiap hari, toh, kita menikmati sensasi orang-orang tersebut dari tv, fb, dan twitter. Yah, sama yang ditonton sama yang menonton. Hal yang paling mahal saat ini di Jakarta, bukan lagi Mercedes Benz, Ferrari, kilauan emas berkarat-karat, bukan! Yang paling mahal sekarang adalah kesederhanaan.

4.      Gila hormat, pamer gelar
Kalau hal yang satu ini hampir dapat dikaitkan dengan kekuasaan, materialistis, dan sensasional. Begini alurnya, pertama beraksi biar menimbulkan sensasi dan terkenal secepat kilat. Jika sudah terkenal, tiba-tiba kekuasaan lebih mudah didapat. Kalau kekuasaan telah terjangkau tangan materi akan datang dengan sendiri. Tujuannya tidak lain biar dihormati, diteriakin, “ wiih hebatnya…” Mudah bukan? Perlu contoh, memang profesi apa sih yang mudah bersensasi kemudian terkenal? Artis. Nah, kita lihat, banyak artis sekarang di DPR, Wakil Gubernur, sampai Bupati. Kemampuannya? Wallahu’alam.
            Lagi, lagi ingin berbagai cerita seputar  kampus, tapi kali ini tentang pamer gelar. Ini lingkupnya kampus ya, baru kampus. Kalau mau acara kita didatangin banyak mahasiswa, sang pembicara harus dahsyat gelarnya, misalnya, acara selevel fakultas menghadirkan ketua BEM UI atau Mapres UI, nah kan keren tuh. Coba dibandingkan jika pembicaranya petugas penjaga ruang BEM dan staf penjaga perpus, kira-kira ada yang datang tidak, mungkin dikit kali ya.
            Saya sama sekali tidak menyalahkan orang yang ingin jadi ketua BEM atau Mapres, tidak, karena memang sah-sah saja. Bagaimana pun itu urusan tujuan masing-masing orang. Yang saya sorot sebenarnya adalah kita ini, sebagai penonton yang menikmati kegemilangan orang lain, padahal orang bergelar banyak mungkin saja tidak lebih mulia daripada orang yang tanpa gelar. Yah, apa mau dikata.

Tulisan ini tidak sepenuhnya cerminan utuh nilai-nilai di Jakarta. Sebut saja sebagian besar pandangan orang terhadap Jakarta. Yang namanya nilai, ada yang masih mempertahankan, ada yang ribet mempertanyakan, bahkan ada juga yang sudah meninggalkan. Bagi kalian, lebih baik mana?

(Fitri Apriliani Lestari_Prodi Indonesia UI)

           

Kamis, 10 November 2011

Cerminan Kekayaan Budaya Indonesia melalui Didong, Rebab Pesisir, dan Pantun Kentrung*


Oleh Fitri Apriliani Lestari*, 0806466241


Setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan yang menandakan kehidupan sehari-hari yang dilakukan warga di daerah tersebut. Kekhasan itu dapat berupa bahasa, kepercayaan, budaya, seni, ritual keagamaan, adat istiadat, dan norma yang berlaku. Pada tulisan ini akan dilakukan pemaparan dan analisis terbatas mengenai kekhasan suatu daerah dalam hal berkesenian. Lingkup kecil pembahasannya adalah kesenian Didong, Rebab Pesisir Selatan, dan Pantun Kentrung sebagai tradisi sekaligus sastra lisan Indonesia.
Tradisi lisan adalah sebagian kebudayaan yang diwariskan turun-temurun secara lisan kemudian dilisankan, sedangkan sastra lisan adalah suatu bentuk tuturan atau muatan dalam sebuah pertunjukkan lisan yang disampaikan hanya melalui bahasa yang dilisankan. Sastra  lisan belum menjadi sebuah tradisi jika belum diwariskan turun-temurun, setidaknya tiga generasi. Selanjutnya, tradisi lisan mencakup segala hal yang dilisankan, mulai dari bahasa, mimik, gesture, alat penunjang (alat musik), dan situasi yang dibangun oleh penonton. Lain halnya dengan sastra lisan yang “hanya” memperhatikan bahasa dari sebuah pertunjukkan lisan. Pertunjukkan yang saya maksud adalah proses timbal-balik atau komunikasi langsung antara sumber dan informan lisan yang pasti selalu ada dalam proses tradisi dan sastra lisan. Itulah korelasi (perbedaan) antara tradisi lisan dan sastra lisan.
Selain tradisi dan sastra lisan, dalam ilmu kebudayaan juga dikenal istilah folklore. Menurut Alan Dundes, folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya (dalam folklore Indonesia). Dalam komunitas yang memiliki corak kekahasan yang sama mereka mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat. Pengertian dari lore adalah sebagian kebudayaan yang diwariskan secara turun menurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.
Lalu apakah keterkaitan serta perbedaan antara folklore, tradisi lisan, dan sastra lisan? Perbedaan serta keterkaitan antara tradisi dan sastra lisan sudah dipaparkan di atas. Kemudian kaitan kedua hal tersebut dengan folklore dapat kita titik beratkan kepada kata “lisan”. Dalam tradisi dan sastra lisan terjadi proses komunikasi atau interaksi langsung. Akan tetapi, hal itu tidak terjadi dalam folklore karena cakupan folklore lebih luas, tidak sekadar lisan. Untuk memperdalam pemahaman mengenai ketiga istilah ini, kita akan masuk ke contoh kesenian yang ada di Indonesia, yaitu Didong, Rebab Pesisir Selatan, dan Pantun Kentrung berikut ini
Didong
            Gayo dikenal memiliki kekayaan dalam hal seni suara dan tari. Salah satu kesenian yang akan kita ulas adalah didong. Didong merupakan salah satu seni suara dan sastra dari Gayo yang masih utuh bertahan sampai saat ini. Formula yang terdapat dalam didong adalah tampilnya dua grup yang tiap grup berjumlah sekitar tiga puluh orang anggota yang juga sudah termasuk para Ceh. Mereka duduk melingkar pada masing-masing grup. Dalam didong terjadi saling membalas pantun antara dua grup. Formula yang terus bertahan di setiap generasi sebagai tanda bahwa didong merupakan tradisi lisan.
            Pantun yang dilontarkan pada pertunjukkan merupakan unsur dari sastra lisan. Didong sudah menjadi identitas masyarakat Gayo yang memiliki keahlian dalam bersastra atau bersyair, terutama bagi para Ceh. Identitas dan pewarisan didong atas masyarakat Gayo menandakan kesenian ini juga sebagai folklore.
             Hal-hal penting yang berperan dalam pertunjukkan didong adalah penonton dan pantun. Penonton merupakan juri yang ideal dalam pertunjukkan karena dapat menilai secara obyektif kualitas isi dari pantun yang dibawakan setiap grup. Semakin banyak dan semangat tepukan penonton akan memicu gairah tim untuk membuat pantun yang cerdas dan kreatif. Pembendaharaan kosakata juga diperhatikan dalam pertunjukkan didong.

Rebab Pesisir Selatan
Rebab Pesisir Selatan (RPS) adalah salah satu kesenian yang berasal dari Minangkabau. RPS sudah dikenal lama oleh warga yang tinggal di kawasan pantai barat selatan Sumatera Barat sampai perbatasan Provinsi Bengkulu. Saat ini, RPS sudah dikenal pula di luar wilayah tersebut, seperti daerah Padang, Solok, dan Agam. Formula yang terdapat pada RPS adalah pengisahan secara lisan suatu kaba (cerita) dengan diiringi instrumen rebab oleh dua orang penampil. Formula ini tetap sama dilakukan tiap generasi, inilah salah tanda bahwa RPS merupakan tradisi lisan. 


Kaba yang dituturkan oleh penampil merupakan unsur sastra lisan dalam tradisi ini. RPS adalah gambaran identitas Minangkabau karena dalam ceritaya dikisahkan tentang pemuda yang berusaha merintis sukses dengan merantau. Kepemilikan identitas kelompok tersebut menandakan RPS termasuk folklore. Kepemilikan tersebutlah yang menjadi daya tarik RPS karena penonton dewasa Minangkabau dapat bernostalgia tentang perantauannya dan penonton remaja dapat mengimajinasikan diri tentang perantauan.
Peran penonton sangat besar dalam pertunjukkan RPS karena pertunjukkan baru dimulai ketika penonton sudah berdatangan dan berakhir saat penonton sudah banyak yang pergi. Hal penting yang ikut berperan dalam RPS adalah instrumen yang digunakan, rebab. Pertunjukkan RPS tidak akan berlangsung tanpa penonton dan iringan rebab.

 Pantun Kentrung

            Jika dua kesenian sebelumnya berasal dari Pulau Sumatra, kini kita akan membahas kesenian dari Pulau Jawa, tepatnya Provinsi Jawa Timur, yaitu Pantun Kentrung. Penceritaan Pantun Kentrung dibawakan oleh seorang dalang kentrung dan panjak dalam sebuah acara. Acara yang dimaksud adalah perayaan tujuh bulanan, sunatan, perkawinan, ruwatan, sedekah desa, dan perayaan kemerdekaan Indonesia. Cerita yang dipaparkan bergantung pada acara yang digelar. 
Formula yang terdapat di dalam Pantun Kentrung adalah dalang kentrung yang memainkan instrumen kendang sambil bercerita, panjak yang bertugas mengiringi dalang sambil memainkan bunyi-bunyian bernama terbang, dan penanggap. Pewarisan formula ini menandakan kesenian ini merupakan tradisi lisan, sedangkan cerita yang dibawakan menandakan adanya unsur sastra lisan. Pantun Kentrung sudah menjadi identitas masyarakat Jawa Timur hal tersebut yang menjadikan kesenian ini sebagai folklore. Unsur penonton atau penanggap sangat penting, salah satunya sebagai pemyampai kritik sosial.
Pembahasan mengenai Didong, Rebab Pesisir Selatan, dan Pantun Kentrung menunjukkan satu inti yang sama, yaitu disampaikan secara lisan. Selain itu, ketiganya memiliki hubungan sebagai identitas komunitas di daerah asal masing-masing dan yang terpenting adalah semua kesenian tersebut mengalami pewarisan turun-temurun. Setiap kesenian atau kebudayaan memiliki corak khas yang tidak dapat saling menggantikan. Oleh karena itu, kita harus menghargai perbedaan formula di tiap kesenian sebagai kekayaan budaya Indonesia. Yang perlu kita sadari adalah kesenian merupakan cerninan atau identitas suatu bangsa, apabila kita mampu menghargai dan menjaganya, akan mudah kita memelihara persatuan seluruh Indonesia.

Sumber:
Danandjaja. James. 2002. Folklore Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafitti.
Endarswara, Suwardi. 2010. Folklore Jawa: Macam, Bentuk, dan Nilainya. Jakarta: Penaku.
Melalatoa. 1982. Didong: Kesenian Tradisional Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Suryadi. 1993. Rebab Pesisir Selatan: Zamzami dan Marlaini. Jakarta: Yayasan Obor Indoneia


*Esai ini merupakan tugas Mata Kuliah Sastra Lisan yang menjadi penilaian Ujian Tengah Semester.
*Penulis adalah mahasiswa semester 7 Universitas Indonesia, Program Studi Indonesia.

Selasa, 11 Oktober 2011

KEUNIKAN RATIB SAMAN DI DAERAH SAMBAS


Oleh Fitri Apriliani Lestari*, 0806466241


Ketika  kita mendengar kata Ratib Saman, mungkin setidaknya ada dua hal yang terlintas di benak kita, yaitu “Ratiban” dan “Saman”. Kemudian timbullah pertanyaan apakah Ratib Saman termasuk salah satu bagian dari ratiban? Apakah Ratib Saman memiliki kesamaan dengan tari Saman yang berasal dari Aceh? Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan serta memaparkan secara singkat apa yang dimaksud dengan Ratib Saman secara umum dengan mengambil kota Sambas sebagai tempat perkembangan Ratib Saman.
Ratib Saman adalah salah satu tradisi lisan yang berkembang di kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Jika kita amati sekilas ratiban sungguh mirip dengan acara tahlilan, orang-orang berkumpul membentuk lingkaran besar sambil melantutkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Seperti halnya tahlilan, Ratib Saman memang kaya akan unsur Islam. Akan tetapi, yang dilantunkan dalam Ratib Saman bukanlah Al-Qur’an, melainkan naskah syair tulisan tangan yang sudah berumur lebih dari satu abad.naskah syair tersebut beraksara dan berbahasa Arab sehingga terdengar seperti bacaan Al-Qur’an. Keberadaan Ratib Saman di Sambas dapat dihubungan dengan awal masuknya Islam ke Sambas. Hal ini pun menjadi bukti bahwa Kerajaan Melayu Sambas dulunya adalah sebuah negeri yang berpegang teguh pada ajaran Islam.
Asal muasal Ratib Saman masih belum diketahui bahkan oleh Budayawan di kabupaten Sambas. Konon dari berbagai cerita yang ada, Ratib Saman berasal dari Aceh. Hal ini diindikasikan dari hubungan yang lancar antara Sambas dan Aceh pada masa kerajaan beberapa abad yang lalu. Kebudayaan di Aceh juga kental dengan nuansa Islam dan terdapat kesenian bernama Tari Saman yang terkesan mirip dengan Ratib Saman, tetapi dalam aplikasinya banyak perbedaan. Selain melantunkan syair islami, dalam Ratib Saman juga terdapat beberapa gerakan. Gerakan Ratib Saman seperti gerakan solat.
Tradisi Ratib Saman merupakan salah satu keragaman lokal Sambas yang hampir punah. Tradisi ini di kabupaten Sambas hanya dikuasai oleh para tetua yang sebelumnya telah diajari orang tua pada generasi terdahulu, sedangkan untuk mengajari kaum muda di Sambas sangat sulit. Menurut Budayawan Sambas, A Muin Ikram, dalam lima puluh tahun terakhir, Ratib Saman hanya dimainkan sebanyak enam kali. Di seluruh wilayah Sambas pun, diperkirakan hanya dua atau tiga desa yang masih melestarikan tradisi Ratib Saman.
            Dilihat dari filosofi dan penampilan Ratib Saman, dapat dikatakan Ratib Saman berkaitan erat dengan upacara adat di Sambas yang bernama upacara adat Tepung Tawar. Tepung tawar merupakan upacara yang biasanya dilakukan ketika pindah rumah baru, berobat kampung, khitanan, hamil 7 dan 9 bulan, mandi belulus pengantin, hari ketujuh meninggal dunia dan lain-lain. Upacara ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, kedamaian kepada Allah Swt dengan cara memapas atau menyentuhkan objek yang didoakan menggunakan daun lenjuang yang telah dicelupkan dalam air tepung tawar yang sudah dibacakan doa-doa. Ratib Saman secara filosofis  berfungsi hampir sama dengan upacara Tepung Tawar, yaitu untuk memohon pertolongan Allah agar terhindar dari berbagai ancaman.


Referensi:
www.pontianakpost.com. “Ratib Saman Kini Mulai Terlupakan” diunduh tanggal 28 September pukul 07.24
www.kompas.com. “Ratiban, Serat Manikmaya dan Anehnya Pikiran Manusia” diunduh tanggal 28 September pukul 07.27


*Penulis adalah mahasiswa program studi Indonesia, FIB UI, angkatan 2008

Sabtu, 10 September 2011

Tradisi Lisan Betawi dalam Bens Radio*

oleh Fitri Apriliani Lestari*
0806466241

Dalam setengah abad ini, dunia mengalami perkembangan yang begitu pesat, bahkan telah mempengaruhi perubahan tata nilai dan struktur dalam masyarakat. Perkembangan pesat ini di satu sisi dapat membahayakan perkembangan kebudayaan Indonesia dan di sisi lain dapat memajukan kebudayaan Indonesia. Hal yang dapat membahayakan kebudayaan Indonesia atau kebudayaan nasional apabila seluruh pengaruh kebudayaan asing masuk tanpa adanya penyaringan. Akan tetapi, jika makin banyak orang Indonesia berpikir kritis untuk membentuk kebudayaan nasional yang hendak dikembangkan sejalan dengan perkembangan masyarakat Indonesia dan kemajuan zaman, arus globalisasi akan membawa dampak positif bagi kemajuan kebudayaan nasional.

Salah satu cara efektif untuk mempertahankan kebudayaan nasional di zaman globalisasi ini adalah membentuk wadah industri budaya dan industri kreatif. Industri budaya berfungsi untuk memberi kenyamanan berkaitan dengan emosi, ekspresi, dan mempunyai kecenderungan untuk menarik massa, sedangkan industri kreatif dapat mengembangkan kebutuhan dasar manusia yang mendambakan hiburan. Gabungan antara industri budaya dan industri kreatif harus dikemas dengan baik agar masyarakat dapat merasakan pengaruhnya, yaitu dengan menjadikan teknologi atau media elaktronik sebagai perantara antara sumber hiburan dan penikmat hiburan.

Radio adalah media yang mampu menstimulasi suara dan mengimajinaskan visualisasi faktual melalui kelisanan dan pendengaran. Selain itu, radio dapat menjadi unsur yang mempertahankan kebudayaan nasional. Sampai saat ini, radio yang cukup konsisten dalam mengembangkan kebudayaan nasional adalah Bens Radio. Kebudayaan yang diusung Bens Radio adalah budaya Betawi. Dalam perkembangannya, Bens Radio Jakarta terus berusaha mencoba beradaptasi dengan perubahan karakter pendengar, tuntutan zaman, dan percepatan teknologi, serta gaya hidup masyarakat Betawi dan masyarakat Jakarta pada umumnya. Terbukti program acaranya selalu dikemas dengan cara-cara kreatif yang berkaitan dengan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang.

Bens Radio secara tidak langsung telah melestarikan dan mempertahankan kebudayaan tradisi lisan Betawi. Motto yang dipakai oleh Bens Radio, Betawi Punye Gaye Selera Siape Aje, adalah salah satu bukti keinginan yang besar untuk mempertahankan kebudayaan Betawi dalam masa penyiaran. Sapaan yang digunakan penyiar Bens Radio adalah bahasa Betawi, yaitu Abang, None, Ncang, Ncing, Nyak, Babeh. Hal ini pun menjadi nilai tambah Bens Radio dalam mempertahankan tradisi lisan Betawi.

Bens Radio sebagai media penyiaran swasta pasti juga memikirkan aspek komersial sehingga harus diakui semakin banyaknya penyiaran lagu pop disertai pengurangan kesenian Betawi. Pengelola Bens Radio pun menyadari arus globalisasi tidak dapat ditolak. Masyarakat harus membuka diri terhadap globalisasi agar dapat bersaing dan terus berkembang. Menurutnya, bahkan globalisasi harus diadopsi.

Salah satu hal yang miris bagi saya adalah penyiaran kesenian Betawi di Bens Radio hanya mendapatkan porsi 10% setiap minggunya. Menurut saya, hal ini terjadi karena Bens Radio menganggap kesenian Betawi yang umumnya diterima oleh masyarakat atau pendengar hanya kesenian atau lagu-lagu yang dibawakan oleh Benyamin S. (Alm.). Tentu saja hal ini masih bersifat wajar karena Benyamin S. adalah pendiri Bens Radio. Akan tetapi, ada satu keheranan saya, yaitu dengan terbatasnya porsi kesenian Betawi yang disiarkan, mengapa Bens Radio menempatkan penyiaran kesenian Betawi bukan pada waktu utama/Prime Time? Seharusnya Bens Radio menyiarkan format kesenian Betawi pada waktu utama, sedangkan sampai saat ini waktu utama sebagian besar diisi oleh lagu-lagu pop.




Rujukan:
Silalahi, Harry Tjan. 1993. “Pancasila sebagai Filter dan Dasar Budaya Indonesia”. Kongres Kebudayaan 1991: Warisan Budaya: Penyaringan dan Pemeliharaan I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


*Tulisan untuk tugas akhir semester (lima), Pengantar Metodologi Penelitian Kebudayaan
*Penulis adalah mahasiswa FIB UI Prodi Indonesia angkatan 2008

Rabu, 29 Juni 2011

Penjelajahan dari Pekojan-Kota Tua

Ini adalah salah satu makam di Masjid Al-Anshor, Pekojan


Masjid Al-Nashor termasuk masjid tertua yang didirikan di Jakarta dengan bercorak Betawi


Masjid ini ditetapkan oleh Pemda sebagai salah satu cagar budaya, tetapi Pemda tidak pernah memberikan dana untuk "melestarikan" masjid tua ini.


LAnggar Tinggi Pekojan (tampak samping), salah satu tempat penyalinan naskah di Jakarta.

KONDISI SOSIAL YANG MEMPENGARUHI TRADISI PENYALINAN DI BETAWI

Oleh: Fitri Apriliani Lestari, Program Studi Indonesia FIB UI


Kegiatan pernaskahan di Jakarta telah dimulai ketika kolonial Belanda menduduki Jakarta atau yang dulu dikenal dengan Batavia. Sebelum Belanda menguasai wilayah Batavia, Belanda hanya diperbolehkan berdagang pada tahun 1617. Semakin lama Belanda semakin ingin memperoleh keseluruhan dari Batavia sehingga pada tahun 1618 mulai ada keributan antara Belanda dengan orang-orang Jayakarta, Banten, dan Inggris. Perselisihan berakhir pada tanggal 30 Mei 1619 ditandai dengan kehancuran Jayakarta yang kemudian dibangun kembali menjadi kota baru bernama Batavia.
Kota Batavia pada masa kolonial Belanda keadaanya jauh berbeda dengan wajah ibukota Republik Indonesia, Jakarta, sekarang. Dulu hutan rawa dan sawah masih mengitari daerah Batavia, sedangkan saat ini gedung perkantoran dan pusat perbelanjaanlah yang mengitari daerah Jakarta. Sebagai kota kolonial, kota Batavia dibangun sesuai dengan tata kota di Belanda. Pada awal pembangunan kota Batavia, Belanda mendirikan Benteng di sekitar sungai Ciliwung. Daerah itu segera menjadi pusat kegiatan VOC dengan dibangunnya tempat tinggal gubernur jenderal, kantor, dan sebagainya. Kekhasan yang mencirikan kota di Belanda tampak melalui sistem saluran yang digali melaluisungai sehingga menembus ke kota. Terudan dan saluran air yang dibuat Belanda digunakan untuk transportasi dengan perahu yang membawa barang-barang.


Kondisi Pribumi pada Masa Kolonial Belanda

Kehidupan yang layak di Batavia memang hanya dirasakan oleh kolonial Belanda beserta orang Eropa yang menempati Weltenvreden. Bagi pribumi atau inlanders yang bermukim ditanah-tanah partikelir, pribumi adalah kumpulan orang yang dijajah secara ganda oleh kolonial Belanda. Selain menguasai wilayah Batavia, kolonial Belanda juga tidak jarang bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk melalui kaki tangannya. Sebagai akibatnya, sebagian besar penduduk menjadi aptis menerima nasibnya yang malang. Ada pula pribumi yang mengandalkan kekuatan fisik serta ketrampilannya berkelahi, ditambah dengan ilmu klenik sebagai penguat semangat, untuk melepaskan diri dari ikatan penjajahan ganda itu,
Keadaan pribumi di kampung-kampung yang tersebar di Batavia, seperti di daerah Krukut, Pecenongan, kampung Mangga Besar, Kebon Jeruk, Angke, Jembatan Lima, dan sebagainya tentu saja berbeda dengan keadaan orang Eropa di Weltenvreden. Pada pagi hari bila kita dari jalan Medan Merdeka kemudian menyeberang jembatan Prapatan, terlihat banyak penduduk pribumi yang mandi dan mencuci pakaian di Sungai Ciliwung. Rumah-rumah di kampung umumnya dari kayu, bambu, dan jerami. Lingkungan di kampung terlihat ada yang tidak bersih, di sekitarnya tergenang rawa dan rumah mereka terletak di jalan-jalan kecil. Bencana yang sering mereka alami antara lain adalah banjir dan kesulitan mendapat air bersih (Abeyasekere, 1987: 70-71).
Masyarakat jajahan, seperti halnya mesyarakat Betawi pada masa yang lalu, menghasilkan sastra yang jelas menggambarkan keadaan masyarakatnya yang tergencet, terbelakang, penuh penderitaan. Kalaupun ada yang diceritakan "memperoleh penghidupan yang layak, ialah mereka yang beruntung "sebagai alat penjajah, karena ketaatan dan kesediaannya untuk dijadikan alat penjajah, sebagaimana banyak diceritakan dalam cerita rakyat Betawi, menjadi mandor atau pecalang. Namun, adapula pribumi yang berprofesi sebagai penyalin naskah untuk menghidupi keluarga. Selain itu, penyewaan naskah pun menjadi salah satu mata pencaharian pribumi saat itu.

Penyalinan Naskah di Algemeene Secretarie
Dari naskah-naskah Melayu, kita mengetahui adanya orang-orang pribuimi di Batavia yang bekerja sebagai penyalin naskah. Di antara para penyalin ada yang dapat dikatakan professional. Mereka itu adalah para juru tulis yang bekerja untuk pemerintah Belanda di kantor Algemeene Secretarie (AS). Meskipun terdapat pribumi yang menjadi penyalin naskah atau dapat disebut sebagai pegawai Belanda, riwayat para penyalin AS tidak dapat terdeteksi. Ini dapat diartikan bahwa peranan para penyalin atau juru tulis pribumi tidak dihargai oleh Belanda.
Pada dasarnya tugas juru tulis atau penyalin naskah AS sangat penting bagi Belanda. Dari naskah yang disalin oleh para juru tulis tersebut, Belanda dapat mempelajari bahasa dan adat istiadat budaya Indonesia. Hal ini merupakan cara Belanda untuk memahami tentang penduduk pribumi sehingga di kemudian hari dapat memperluas dan mengokohkan kekuasaan Belanda di Indonesia.
Penyalinan Naskah di Langgar Tinggi
Langgar tinggi dikenal sebagai tempat ibadah umat Islam. Langgar tinggi yang terkenal dan masih terdapat di Jakarta ada dua buah, yaitu Langgar Tinggi di Pecenongan dan Langgar Tinggi di Pekojan. Kedua langgar tinggi itu merupakan pusat-pusat pergumulan intelektual Melayu Betawi. Dari langgar tinggi Pekojan lahir Sayyid Usman bin Yahya, penulis 50 judul buku agama Islam dalam bahasa Melayu Betawi, dan sastrawan Melayu Betawi, Muhammad Bakir, lahir dari Langgar Tinggi di Pecenongan.
Langgar Tinggi di Pecenongan dikenal pula sebagai Perpustakaan Fadli. Di Perpustakaan ini terdapat berbagai koleksi naskah yang disalin oleh M. Bakir dan Sapirin. Koleksi naskah disewakan sebagai sumber nafkah. Naskah di tempat ini berjumlah lebih dari 70 dan hampir semuanya ditulis oleh mereka sendiri. Menurut Muhadjir, pada abad ke-19 terdapat tradisi penyalinan naskah dengan tujuan komersial, yang menjadi salah satu sumber penghasilan. Keluarga Fadli, orang tua Muhammad Bakir dari Pecenongan, termasuk salah satu keluarga pengarang atau penyalin naskah yang demikian.
Ketika itu, naskah-naskah cerita ditulis dalam huruf Arab-Melayu (Arab Jawi). Pada umumnya naskah tersebut tidak dibaca sendiri, melainkan dibacakan keras-keras oleh seseorang di hadapan publiknya. Mengingat ketika itu hanya sedikit orang yang dapat membaca, dan lebih banyak yang hanya bisa mendengarkannya. Ketika hiburan masih langka, banyak warga Betawi yang mencari hiburan ke perpustakaan. Karena sifatnya komersial, pada halaman terakhir ada bait-bait syair yang berisi harapan penulis pada pembaca agar jangan melupakan uang sewa, yang akan dipergunakan untuk keluarganya.


Daftar Pustaka:
Chambert-Loir. 2009. Sapirin bin Usman: Hikayat Nahkoda Asik, Muhammad Bakir:Hikayat Merpati Mas & Merpati Perak. Jakarta: EFEO & PNRI.
Rukmi, Maria Indra. 1997. Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
www.beritajakarta.com
www.pikiran-rakyat.com