Tampilkan postingan dengan label Keluarga di Jalan Da'wah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga di Jalan Da'wah. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2015

Cahaya Dunia Itulah Dirimu: Guru (1)

         Bukan bermaksud membanggakan diri sendiri dengan profesi saat ini. Namun, saya menyaksikan sendiri betapa luar biasa para kawan-kawan guru yang sepenuh jiwa raga membimbing murid-murid agar semuanya menjadi bintang kelak. Luar biasa! Saya adalah salah satu saksi hidup sekaligus banyak belajar dari guru-guru "sakti" itu.

         Guru bukanlah profesi bergengsi, bukan pula profesi bergaji tinggi, apalagi sekarang seringkali sudah dianggap "obral" harga diri demi sertifikasi. Aaah.. itulah pengorbanan dan sebentuk konsekuensi atas pekerjaan yang begitu mulia. Para guru hanya manusia biasa yang sebenarnya tidak juga telah berhenti belajar. Jika ditemukan guru yang tugasnya hanya mengabsen siswa, memberi tugas, menilai lembar tugas siswa, dan duduk manis membagikan raport, itu namanya guru biasa, sebut saja guru "permukaan"

         Saat ditakdirkan Allah belajar sebagai guru di sekolah para bintang, saya pun menyadari tugas guru sejati bukan hanya berjudul memberi tugas kepada siswa dan menunggu siswa menyelesaikan tugas. Bukan sama sekali. Pekerjaan ini penuh konsekuensi, diliputi amanah mengerikan jika dilalaikan, dan meletihkan ternyata hiiks..

         Allah...
         Allah ingin kami, para pengajar di sekolah bintang, terus belajar, belajar membentuk generasi Robbani sebagaimana dahulu Rasulullah mengajarkan, membimbing, para sahabat, dari mulai sahabat dewasa sampai para sahabat cilik di waktu itu. Yaah, tugas kami belum seberapa dengan perjuangan Rasulullah dalam membela pendidikan agar seluruh umat Rasulullah merasakan, menikmati, dan mengamalkan Islam melalui pendidikan.

         Saya merasa sangat bersyukur kepada Allah telah berkesempatan mencicipi pendidikan Islam walaupun sebagian besar bukan berasal  dari sekolah formal. Rasa terima kasih kepada para guru-guru yang dengan pengorbanannya telah memberikan upaya optimal agar pendidikan terus berlanjut. Dengan pendidikan itulah Islam senantiasa tersebar hingga saat ini. Saya sangat berharap serta meminta pertolongan Allah agar kami diberi kekuatan untuk melanjutkan amanah pendidikan sehingga tugas kami sebagai manusia pun terjalani: khalifah fil 'ardh. Aamiin




NB: I have so many favorite teacher-learners at "Stars" school. Someday i will pick them in my blog. In sya Allah. ;-)





@Kawaakib, Nuh class
10 Maret'15  11:07

Selasa, 23 Oktober 2012

Amanah Kita


Bismillah…

Karena amanah ini amatlah berat
Sedangkan pertalian kita ternyata sekarat
Di luar pun banyak kata-kata mengumpat
Seolah ingin menghabisi kita dengan cepat
Sungguh kita bicara saja dalam forum, merapat
Agar segalanya jelas dan dapat kembali bergerak lebih semangat
Janganlah lupa tegur-menegur bernasihat
Karena kebersamaan itulah yang membuat kita kuat
Satu yang harus selalu diingat:
Hanya kepada Allah kita berbai’at
Semoga selamat dunia hingga akhirat

Ya, karena amanah ini memang berat





~di waktu fajar 24 okt’12, saat terbayang adik-adik dan teman-teman ROHis

Minggu, 22 Juli 2012

Ada Pelajaran Dalam Setiap Pertemuan

Hari ini, Ahad, 22 Juli 2012, beberapa jam lalu, saya dan kelima teman serta satu senior berkunjung ke rumah salah satu guru ketika SMA. Bahasa kerennya silaturrahim. Sebutlah bukan silaturrahim biasa bagi kami karena dilakukan di awal Ramadhan, selain ada misi khusus (mungkin dapat dikatakan begitu).

Janji berkumpul di depan sebuah SMA Negeri pukul 09.30 dan baru sampai di rumah si Pak guru sekitar pukul 10.30. Hampir tiga setengah jam kami berbincang dengan si Pak guru yang memang aktif berbicara (hihi), tapi tidak ada setengah waktu tersebut membicarakan sebuah misi yang kami bawa. Lagi pula agak garing dan kurang etis jika to the point. Pertama-tama si Pak guru menanyakan rumah kami di mana serta pernyataan-pernyataan ringanlah intinya. Kemudian dilajutkan dengan kabar-kabar para guru di sekolah saya : siapa yang pensiun, siapa yang baru, dan siapa yang lainnya.

Pada awal pembicaraan entah kenapa si teman-teman banyak pasifnya (padahal biasanya..), jadilah kakak senior yang menyetir arah pembicaraan. Pokoknya dari segala pembicaraan itu saya memperhatikan banyak nama yang disebut si Pak guru seolah-olah kami kenal dengan nama tersebut, padahal sih tidak. Isi pembicaraan didominasi oleh sistem pendidikan di Indonesia, birokrasi yang merumitkan, dan sedikit banyak berdampak ke kondisi SMA 78 (uuppss..keceplosan). 

Oia, di rumah si Pak guru juga ada istrinya yang menjelang akhir pertemuan intens bergabung dalam pembicaraan kami. Salah satu yang baru saya ketahui adalah si Pak guru dari suku Sunda dan istrinya dari Betawi. Menurut saya hal itu unik. Apakah uniknya? Sang istri berbicara masih medok sekali Betawinya, sedangkan si Pak guru masih cukup kental dengan kesundaannya. Ini berarti satu sama lain tidak saling mendominasi dan menurut saya itu positif banget.

Langsung saya ringkas saja deh pelajaran yang saya tangkap dari pertemuan tadi:
1. Semakin yakin kalau pada dasarnya orang Indonesia itu senang ngobrol secara langsung (face to face). Hal ini juga menandakan keramahan dan keterbukaan orang Indonesia secara umum.
2. Patut digarisbawahi ternyata tidak hanya perempuan yang senang cerita ngarul-ngidul, laki-laki pun juga senang. 
3. Pendidikan di Indonesia sudah terbukti kronis, bahkan gurunya sendiri memilih cepat-cepat pensiun karena pusing memikirkan pendidikan kedepannya.
4. Orangtua itu tetaplah orangtua, sekejam-kejamnya kita menilai mereka, sebenarnya itu bentuk perhatian mereka yang mungkin tidak terterima dengan baik oleh kita. 
5. Jadi guru itu banyak berkahnya karena ilmu jika dibagi tidak akan habis, malah makin bertambah. Kemudian, kita tidak akan menyangka beberapa tahun kemudian murid-murid yang kita diajarkan sudah menjadi "orang". *(Sayangnya, saya tidak mau sekadar menjadi seorang guru, saya mau memiliki sekaligus berkuasa di sekolah, hihi).
6. Pernikahan Sunda-Betawi unik kok... tapi bagi saya kurang menantang, abis kedeketan kalo cuma mudik ke Jawa Barat. *haduuuh (tetep, ngarep lelaki seberang pulau,hoho)

~perjalanan dengan Budi, Ghun, K Fadil, Anun, Lili, dan Dayoh ke rumah Pak O Haswari di wilayah Srengseng.

Rabu, 09 Mei 2012

Rindu Kepada Kawan


Membolak-balik blogmu. Tiada yang berubah, mungkin karena kau sedang sibuk mengubah dirimu, bukan blogmu. Sungguh, aku sangat (sekali)  rindu. Pernah sekali waktu kau meng-SMSku, aku langsung saja gembira serta merta. Kemudian, kau bertanya, sedangkan aku malu sekali menjawabnya. Dan.. SMSmu yang belum kubalas  masih tersimpan…

Aku hanya mampu bertanya pada diriku, mengapa diriku begitu rapuh? AKu ingin sekali bersua denganmu, terus bersua hingga bertemu di Jannah-Nya. Sungguh, aku akan menyibukkan diri untuk berubah pula. Doakanlah kawanmu ini…

Rindu

-10 Mei 2012, 10.22 AM

Minggu, 29 April 2012

Sepenggalan Kisah Raker FASI 2012


Satu panggilan tak terjawab pukul 04.04 dari Yoga,2 tertera di ponsel saya.
“Hah, ngapain nih Yoga nelpon sepagi ini?”
Setengah sadar saya bertanya kepada diri sendiri dan saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 04.10. Tentu bukan disengaja saya tidak ingin mengangkat telpon, tapi  memang saya tidak mendengar suara deringan ponsel yang saya taruh di dalam kamar, sedangkan saya terlelap di ruang luar (musola).
Ingin hati me-SMS Yoga dengan singkat : “Apa?”
Tapi sayang, daya tarik tempat tidur terlalu kuat dan tangan saya pun tidak bisa bergerak sendiri untuk SMS atau menelpon balik. Akhirnya, saya meletakkan tubuh di kasur, tepat di sebelah Lili, sambil tetap menggenggam ponsel. Dalam beberapa menit saya menggigil kedinginan di atas kasur dan sulit terlelap. Namun, menit-menit sesudahnya saya kian lupa  dengan panggilan telpon dari Yoga, serta niatan untuk SMS pun tersapu oleh kantuk.

Lalu sekitar pukul 04.40…

“Ukh, empat laptop ikhwan ilang dan barang-barangnya juga.”
Sejurus saya dan Lili bangkit dari tidur dengan kaget mendengar satu kalimat yang terucap jelas, cepat, dan lumayan keras oleh Nadroh. Sungguh itu adalah cara bangun yang terkaget dan terdeg-degan sekaligus tercemas yang pernah saya alami. Nadroh pun dengan langsung menjelaskan semua ponsel ikhwan hilang, kecuali ponsel Yoga. Tas dan barang-barang lain yang terlepas-badan dengan para ikhwan itu pun raib. Saya hanya mampu terbengong-bengong cemas saja saat itu, bahkan untuk mengendalikan deguban jantung pun saya tidak mampu lagi. Selain bengong, saya juga hanya mampu membatin: “Kok bisa?”
               Nadroh pun berkata lagi, “Kata Yoga coba dicek akhwatnya ada yang kehilangan atau engga dan jangan keluar dulu sampai ada info lebih lanjut.”
                Saya masih nge-blank percaya tidak percaya atau mengharap ini cuma mimpi saja ketika Nadroh keluar kamar. Akan tetapi, Lili mulai membangun percakapan dengan saya bahwa bagaimana bisa kita selesai diskusi raker pukul 01.30 lalu selang beberapa jam barang-barang sudah hilang. Dari percakapan itu barulah sadar saya: Ya, ini BUKAN mimpi.
Para ikhwan memang beristirahat/tidur di ruang presentasi raker yang tempatnya merupakan aula terbuka ber-AC (AC=Angin Cepoi-cepoi), tapi kita tidak menaruh curiga tentang keamanan dan lain sebagainya. Setelah ngobrol ringan dengan Lili, saya keluar kamar untuk memastikan kalau kondisi di akhwat baik-baik saja atau tiada kehilangan apa pun. Saat keluar kamar pun, tampang saya ternyata menggambarkan kecemasan. Buktinya setelah saya membangunkan Annisa dan Afina untuk salat Subuh, mereka berkata, “Kenapa, Ka?”  Langsunglah saya menceritakan sekilas dan menyuruh segera salat Subuh. Antrian wudhu salat saat itu diwarnai kecemasan dan segala pertanyaan. Saya dapat merasakan semua akhwat diliputi pertanyaan: “Hah, hah, kok bisa?”
Seusai salat Subuh, para akhwat membuka diskusi terbuka tentang “peristiwa sebelum subuh para ikhwan” di kamar tempat saya dan Lili. Tentu saja narasumbernya adalah Nadroh. Di situ barulah agak lebih jelas kisah utuh, kronologis, serta barang apa dan milik siapa saja yang hilang. Ada satu yang unik di pikiran para akhwat, apakah itu?
Alhamdulillah laptop Taufan tidak hilang.
           Kenapa satu hal itu yang ada di pikiran akhwat sebenarnya wajar saja secara semalam Taufan sebagai MC, kami—para akhwat—mengetahui bahwa laptop Taufan asli merek Apple dan kami tahulah kisaran harganya. Walaupun memang lebih jelas, tetap saja masih ada saja pertanyaan-pertanyaan yang belum kami ketahui saat itu, misalnya kunci motor bagaimana, tindakan yang dilakukan apa, dll. Setidaknya dari diskusi itu kami memcoba menggali beberapa hikmah. Begitulah, sampai muncul pertanyaan dari Lili, “Terus gimana ya timbulnya? Berarti ga jadi kan ya?” Sebenarnya Lili pun sudah tahu jawabannya dan saya hanya membalas dengan senyum ringkas saja.
                Kegiatan yang tidak boleh berubah dari jadwal karena ada peristiwa sepahit apa pun adalah MAKAN. Setelah diskusi terbuka itu, beberapa akhwat terpencar, beberapa ke atas (liat-liat situasi), beberapa ke kamar masing-masing, dan beberapa ke dapur, termasuk saya.  Tempat boleh berpencar-pencar, tapi obrolan tetap sama tentang “peristiwa sebelum subuh para ikhwan”. Semakin diulang tentang peristiwa itu semakin merindinglah saya. Di pikiran kami berkecamuk antara, itu orang siapa sebenarnya yang ngambil, kerugian yang dialami, sampai skripsi yang kemungkinan datanya ada di dalam laptop (maklum deh, para akhwat orientasi skripsi, padahal di ikhwan wallahu’alam).
                Acara belum berakhir ternyata, sekitar pukul 09.30 kami berkumpul di tempat kejadian perkara “peristiwa sebelum subuh” atau sebut sajalah aula ber-AC.  Semua bidang sudah presentasi sampai dini hari semalam, tetapi Pengurus Inti (PI) dan Badan Pembina (BP) belum, jadi di saat itulah kesempatannya. Situasi memang lebih diam dan beberapa ikhwan pun sedang mengurus laporan di kantor polisi. Agenda raker berakhir sekitar pukul 11.00, tetapi itu belum termasuk cuci piring bekas makan ikhwan dan peralatan lain. Ada lagi, air di tempat akhwat mati sehingga wajarlah baru betul-betul rapi setelah beberapa menit menuju pukul 12.00, itupun kami menunggu angkot carteran dulu. Pas sekali adzan Zuhur berkumandang, angkot carteran datang dan para akhwat langsung naik, kecuali Erni yang membawa motor, sedangkan para ikhwan bermotor itu salat  Zuhur di Villa.
                Di dalam angkot carteran, saya hanya mampu mengamati  wajah-wajah lelah akhwat. Saya yakin raker tahun ini, atau dapat disebut, raker FASI terakhir saya (sebagai BPH) adalah raker “teristimewa” dari Allah. Peristiwa miris yang terjadi saya kolaborasikan dengan ingatan-ingatan ketika Ghunarsa, Taufan, dan Lili dalam syuro PI memperjuangkan raker FASI di luar Jakarta dengan sangat maksimal, mampu mendidihkan keharuan saja di sepanjang perjalanan pulang.  Kita hanya mampu berencana dan ternyata rencana kita diperindah oleh Allah. 

Untuk teman-teman yang menjadi korban “peristiwa sebelum subuh”: Ghunarsa, Budi, Yoga, Taufan, Gama, dan k Fadhil, kemudian teman-teman yang ikut merasakan kecemasan di TKP: Nadroh, Erni, Shifa, Afina, Lili, Latansa, Anun, Citra, Annisa, Fika, dan tak lupa juga teman-teman yang jasadnya tak hadir raker, namun semangat dan doanya sampai pada kami, ada ucapan dari saya.
Saya yakin Allah sangat mencintai kalian semua dan semoga Allah pun mencintai saya karena telah mencintai kalian.

~semangat beramal jamai di FASI 2012, saudara/iku..

Minggu, 12 Februari 2012

Singkat Cerita tentang...Sekolah

Kemarin siang, tepatnya tanggal 11 Februari 2012 pukul 13.00 adalah syuro terakhir BPH FASI 2011. Kesan pertama bagi saya adalah tidak fokus dan "sepi". Saya merasa tidak fokus, tentu kesalahan saya pribadi karena datang terlambat dan harus mengisi materi Club Belajar Muslim pula, walaupun tempatnya sama tetap saja konsentrasinya terpecah. Kenapa saya bilang "sepi"? Selain memang (lagi-lagi) tidak full team, saya merasa tidak layak syuro terakhir seperti kemarin itu, kurang hangat, kurang kekeluargaan, indikator yang paling kerasa adalah (batin saya berujar): "kok ga ada sesuatu yang bisa dimasukkin mulut yaa, entah itu air atau apa pun deh." Sempat agak menyesal tidak membawa apa pun untuk mereka yang hadir lebih awal meskipun tidak ada perjanjian tertulisnya juga siy ya harus bawa. Akan tetapi, perlu ditekankan lagi bahwa itu hanya KESAN PERTAMA.

Setelah ditutup sementara untuk salat Ashar, syuro dilanjutkan kembali walaupun semua agenda wajib telah dibahas. Saya sebagai warga yang baik hanya bisa mengikuti perintah pemimpin saja alias tidak tahu mau ngebahas ape lagi. Ternyata main-mainan bola salju sih katanya, ga ngerti filosofi nama bola salju dari mana, bodo amat jugalah. Inti mainan itu adalah memberi kesan dan pesan terhadap tiap orang dalam syuro dengan media tulisan di kertas yang diputar keliling. Jadi, tiap satu orang akan mendapat kesan dan pesan sejumlah teman yang hadir. Karena yang hadir kemarin 7 orang, berarti saya dapat "penilaian" dan saran dari keenam teman saya. Tiada yang asing dari permainan ini, hanya saja memang saya yang agak nge-blank sehingga tidak maksimal mengungkapkan kesan-pesan untuk teman-teman (maaf yaa..).

Namun, ada hal-hal istimewa yang saya dapatkan ketika permainan selesai. Selain terkaget-kaget membaca tulisan teman-teman tentang saya yang kemudian saya pikir: "emang iya iya saya begitu", saya pun sadar bahwa sudah sekian lama bersama mereka, terutama yang seangkatan dan ditambah lain sekampus. Saya tidak peduli mereka sadar atau tidak, tetapi bagi saya sangat terasa sadarnya. Saya memang harus mengakui ketika SMA tidak sepenuhnya kenal baik dengan mereka, apalagi yang ikhwan dong cooy. Akan tetapi, tidak kenal karakter mereka secara utuh, bukan berarti tidak tahu sama sekali sejarah mereka ketika di SMA. Ketika mengenal lagi mereka setelah menjadi mahasiswa, walau di kampus yang sama sekalipun, tetap saja ada perubahan bahkan di ikhwan lebih luar biasa lagi perubahannya. 

Saya ingin sekali berujar kepada mereka (teman seperjuangan si Rohis dari dulu hingga sekarang): "Apabila teman-teman baru kita di kampus mengenal kita setelah kita  'terbentuk', ternyata setiap di antara kita mulai saling mengenal dari fase-fase saat kita masih 'mencari' diri kita, sampai melakukan perubahan spektakuler yang akhirnya membentuk kita saat ini." Saya masih ingat ketika di SMA ada seorang akhwat yang dari tidak berjilbab serta berargumen keras atau terus mempertanyakan terhadap alasan berjilbab sampai kemudian berjilbab rapi, dan kini sangat luar biasa semangat dan pergerakannya. Di ikhwan yang dulu saya tahu ada yang berkeras keluar dari Rohis karena sesuatu yang tidak dilegalkan, kemudian hatinya dilunakkan untuk tetap bertahan di Rohis, sampai sekarang pun sangat luar biasa pergerakannya dan berkeras dalam memperjuangkan kebenaran. Serta ada pula "pencarian-pencarian" lain yang ditemukan oleh para saudara/i  di SMA.

Itulah mengapa saya selalu menyakini bahwa masa SMA adalah masa terbaik untuk menemukan jati diri. Hal itu penting diingat dalam membimbing adik-adik kita, terlebih dengan segala permasalahan yang lebih menantang daripada masa sekolah kita dulu. Bandel-bandel kita saat SD-SMP memang kebanyakan tidak tahunya dan sekadar asyik-asyikan saja, tidak banyak yang membuat kita berpikir matang, mugkin karena belum waktunya. Beda kasus dengan bandel-bandel kita saat SMA, bandel di masa yang "tanggung" dan mau tidak mau lebih bisa banyak berpikir dan "mencari" tentang jati diri. Ada yang kecewa dengan lingkungan sehingga pasrah tidak melakukan "pencarian", ada yang sudah merasa nyaman dengan kondisinya sehingga tidak perlu berpikir tentang hal yang meresahkan dirinya, ada yang disibukkan dengan kegiatan belajar dan eksul sampai lupa tujuan hidupnya, tetapi ada pun yang dijaga oleh Allah. 

Golongan yang dijaga Allah adalah golongan yang digerakkan hatinya untuk bekerja di jalan-Nya dengan menyebarkan kebaikan, yang sebelumnya golongan itu dibuka dulu hatinya untuk memahami Islam dengan kemasan bernama TARBIYAH. Golongan yang menyakini betul apa yang Allah tulis dalam Qur'an Surat Muhammad ayat 7: Yaa Ayyuhalladzii na aamanuu intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit aqdaamakum 'Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu'. Semoga apabila kita termasuk dalam golongan ini kita dapat senantiasa mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan dengan selalu berupaya menjadi jembatan penghubung antara adik-adik kita dengan tarbiyah. Semoga kita bukan termasuk golongan yang mengingkari nikmat-Nya dengan membiarkan adik-adik kita menjadi golongan yang kecewa, dibiarkan merasa nyaman, atau sibuk dengan dunianya semata. Wallahu'alam



*Mencintai kalian karena Allah dan bersyukur masih bersama kalian di jalan kebaikan ini..
Teman-teman... jangan berubah, 
Doakan agar kita tetap selalu dipertemukan di jalan kebaikan dan berkumpul kembali di tempat yang dipenuhi kebaikan yang abadi (syurga)