Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Februari 2016

Long Time to Cook

Alhamdulillah... setelah sekian lama sang suami minta pepes, akhirnya baru terkabulkan hari ini. Bukan karena bertepatan dengan Valentxxxx atau ada momen khusus apa pun, hanya takdirnya memang masak pepes hari ini. Berbeda dengan hari minggu sebelumnya, entah kenapa hari ini setelah bangun tidur moodnya sudah bagus, makasih ya Allah. Berawal dari mood yang bagus itulah saya berani coba-coba hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu masak "pepes".

         Memasak itu memang menyenangkan, apalagi jika hasilnya enak, wuuiiiih double bahagianya. Terus terang dalam memasak saya pernah gagal beberapa kali, tapi alhamdulillah lebih banyak suksesnya, hehehe... Hal lain yang saya syukuri adalah punya suami yang selalu menyemangati sang istri untuk mencoba masakan baru. Kata beliau siih, karena saya punya bakat masak (semoga jujur yah, suami saya). Ketika menu masakan baru saya gagal, menurut saya, suami saya tetap saja mau makan, mengharukan kan?

         Dua pekan lalu, saya mencoba menu masakan western dan agak luar negeri-lah, alhamdulillah berhasil. Nah, minggu ini, kami dapat oleh-oleh ikan peda dari kampung suami, dan dari kemarin-kemarin suami request untuk dipepes saja. Secara teori resep, saya sudah nanya ke mertua, hanya saja aplikasinya belum. Akhirnya, mumpung lagi libur dan bisa mengeksplorasi pasar plus mood yang oke, hari ini terwujudnya masak pepes.

         Mulai dari jam setengah delapan pagi sampai jam 12, saya sibuklah mengolah bahan-bahan, mulai dari belanja ke pasar dan proses memasak. Bahkan sampai saya menulis blog ini pun, masih proses masak dua pepes ikan lagi. Ternyata, rempong yaah. Saya belum tahu rasanya bagaimana, yang penting matang dulu, hihihi. Pengalaman yang baru banget bagi saya adalah menggunakan berbagai macam dedaunan dan bumbu dapur secara berbarengan saat memasak pepes ini. Wah, masakan ini Indonesia sekali yah.

         Saya menarik kesimpulan bahwa orang Indonesia itu telaten dan sabar banget dalam hal memasak. Coba saja lihat dari menu masakan Indonesia yang membutuhkan proses masak yang lama. Bukan hanya itu, masakan Indonesia juga khas bumbu masak yang beragam, seberagam budaya serta masyarakat Indonesia. Seharusnya saya lebih banyak belajar masak Indonesian food niih. Semoga lain kali jika ada waktu dan mood yang bagus bisa coba masakan yang lebih ribet dan menantang.

@ruang
14 Feb'16_ 13.25
         

Minggu, 29 November 2015

Trik, Sembunyi, dan Strategi

Bersembunyi butuh strategi, tapi ketika bukan karena kebenaran pasti akan ada cara untuk segera diketahui.

Penasaran dan senang bisa aktif membaca novel detektif lagi. Pengarangnya masih sama, Conan Doyle, karena belum sempat atau memberanikan diri membeli novel detektif karangan pengarang lain. Biasa, masalah keuangan menjadi salah satu alasan juga, hehe. Berhubung ada obral buku Rp 10.000,00 di salah satu acara di istora senayan. Nah, acaranya nanti semoga sempat saya share juga yaah di mari ;-D.

         Kembali ke novel, genre yang saya senangi selain travel, keagamaan, yaah detektif. Dari bocah memang sudah rajin baca komik detektif Conan, bahkan koleksi sampai nomor 50-an. Semenjak akhir kuliah akhirnya berhenti langganan karena kasusnya tidak selesai-selesai, bosen juga. Ternyata setelah nemu kasus perdetektifan dalam bentuk novel, seru juga dan lebih puas bacanya.

         Selesai baca satu bab dalam novel, selalu membuat saya terperangah dan takjub. Karena hebat banget tuh Sherlock Holmes memecahkan kasus yang tidak disangka trik pelakunya. Sehebat-hebatnya seorang menyembunyikan sesuatu, pasti ketahuan juga pada akhirnya, yaah. Sosok si detektif serta rekan karibnya, Dr Watson, juga kuat sehingga bikin sensasi deg-degan juga saat mereka terlibat kasus. Cerdas, Doyle!

         Sudah malam, saatnya bersiap membuka tirai misteri hidup kita masing-masing. Jangan pernah menyerah, kita semestinya bisa menjadi detektif bagi diri sendiri. Fungsinya adalah menyadarkan jika ada "perbuatan-perbuatan aneh" kita yang melenceng, dapat segera kita tangkap dan memperbaikinya. Karena hakim kita kelak bukan manusia, melainkan Allah.




@ruang
29 Nov'15_ 23.30

Selasa, 14 Juli 2015

Cooking "Freak"

         Sudah dua hari ini saya melakukan "penebusan" dosa terhadap orang-orang di rumah, terutama kakak. Tentu saja bukan berupa sujud mohon ampun, melainkan dengan masakin sahur. Yap..yap..yap.. penebusan yang menyenangkan bagi saya yang seneng kreasi dan seneng icip-icip. Masalah rasa itu urusan belakangan, yang penting berani coba dulu. Lagipula, bagi saya rasa makanan itu mengikuti perasaan  dan suasana hati (deeeuh..gaya euy).

         Yang perlu ditekankan, saya masak bukan karena keadaan yang mepet mau jadi istri orang, kok. Memang saya senang dari dulu. Hanya saja harus sendiri masaknya, biar ga dengar suara sumbang yang mempengaruhi suara hati dengan teriakan, "Kurang tuh bumbunya..", "Jelek banget sih bentuknya...".  Nah, pelajaran bagi diri sendiri, nanti jika ada adik, anak, keponakan, mau bantuin masak, hindari banyak intervensi selayaknya suara-suara sumbang tersebut. Biarkan dulu "si rekan masak" itu tunjukkan kebolehannya dan lakukan apresiasi saja di awal. Jika hasilnya sudah jadi, baru deh kita evaluasi bareng, begitu lebih ademkan?

         Setelah kemarin menghidangkan masakan jenis sayur, yaitu sop jagung campur sosis, hari ini berkreasi dengan dada ayam tepung. Jika masak sop jagung, saya sudah tergolong pakar (hihi, padahal masih nyontek resep) karena sudah lebih dari 2 kali bikin, nah, hari ini mencoba resep dengan saus teriyaki. Baiklah, judul masakannya adalah Katsu Saus Teriyaki. Perdana nih bagi saya, semoga rasanya ga ancur-ancur banget bagi orang rumah walaupun kayaknya tadi keasinan dikit, deh.

Bahan dan bumbu sederhana:

Bawang bombay setengah atau kurang dari itu,
2 siung bawang merah,
1 siung bawang putih,
Cabe rawit,
Merica,
Garam,
Gula,
Saus teriyaki,
Nugget atau Katsu.

Cara bikinnya tinggal iris semua bawang dan cabe, tambahin saus teriyaki dan sedikit air, baru meluncurlah bumbu sejenis garam, gula, dan merica. Aduk. Siram deh ke nugget atau katsu yang sudah digoreng sebelumnya.

Yuk..yuk..mari makan



@ruang
15Jul'15_ 03.57

Minggu, 05 April 2015

Tentang Sebuah Training

Yel-yel "Guru Istimewa":

Kami guru, istimewa...
Lembut namun berwibawa..
Penuh percaya diri,
Kreatif dan semangat..
Kami guru...Istimewa

Guru istimewa.....

YESS..!!!

         Itulah salah satu salam pembuka yang disampaikan trainer saat saya dan ketiga sahabat dari sekolah para bintang mengawali training. Training ini diselenggarakan oleh penggagas sekolah berdasarkan karakter, yaitu Ibu Ratna Megawangi dan Bapak Sofyan Djalil, di gedung IHF, Cimanggis, Depok. Baiklah, training ini memakan banyak waktu, bayangkan 6 hari! Bagi saya itu waktu yang cukup panjang untuk dimanfaatkan dengan mengerjakan RPH apabila kegiatan mengajar telah selesai (padahal belum tentu dikerjakan juga sih :p ).

         Meninggalkan rumah selama sepekan sih, bukan hal yang sulit bagi saya, secara ketika kuliah pun seperti itu. Yang berat saya tinggalkan adalah bintang-bintang Nuh. Tumben sekali kan. Alasannya mudah, sebenarnya rehat dari kegiatan mengajar saya senang banget, jika RPH saya selama sepekan saat saya pergi sudah mantap dan tools pengajaran sudah rapi. Alhamdulillah, sepekan training bertepatan dengan jadwal outbound dan tanggal merah, jadi saya hanya meninggalkan para bintang 3 hari masa sekolah.

         Lalu seberapa pentingkah training tersebut, sampai-sampai sekolah rela ditinggalkan 4 orang wali kelasnya berbarengan selama 3 hari? Pentingkah?. Yeah, penting untuk belajar perkembangan sebuah sekolah yang dari tahun 2000 telah konsisten menjalankan konsep sekolah yang "beda", saya rasa demikian. Beda karena semua berlandaskan karakter, tanpa penilaian angka pada raportnya, dan sukses mengundang sekolah dari seluruh wilayah Indonesia untuk bersama membangun karakter bangsa melalui pendidikan.

         Sudah sepatutnya tarbiyah (pendidikan) menjadi landasan pembangunan bangsa. Dimulai dari tarbiyah pulalah dibangunkan mental-mental pejuang. Bagaimana mungkin kita berlepas  dari amanah pertama, sebelum kita menjadi apa-apa, yaitu sebagai da'i atau penyeru atau bahasa kerennya bernama "guru".

         Ini baru pre-prolog mungkin atas berbagai kesan dan pembelajaran selama training sepekan. Semoga saya bisa lebih banyak berbagi atas yang telah saya dapatkan selama training. Dan, ikrar yang saya sungguh harus menyakini diri dengan semantap-mantapnya untuk diucapkan: saya siap belajar menjadi guru istimewa di hadapan Allah (bagi dunia)! In sya Allah.






@ruang
5 Apr'15_ 17.53
Ditemani bunyi geluduk yang bersahut-sahutan

Sabtu, 03 Januari 2015

It's New Me!

Saya sepertinya harus buat akun blog baru untuk menulis serpihan perasaan saya terhadap profesi saya saat ini (pengajar/guru), khususnya di tempat mengajar sekarang. Berjuta perasaan saya pikir perlu di-share, entah itu terhadap para dosen cilik saya, rekan kerja yang makin beragam sikapnya, dan sekelumit kisah yang cukup membuat otak saya terisi kerumitan. Kenapa harus bikin baru? Karena ada sedikit kecemasan jika tulisan saya akan membuat kehebohan, secara kepsek, wakepsek, dan beberapa rekan sudah tahu alamat blog saya yang ini. Mending jika kehebohannya positif, kalau ketahuan ada yang "tidak seharusnya" ditulis dan digrebek nantinya bagaimana? Aduh agak berlebihan, tapi mungkin terjadi juga.
 
        Kecemasan saya bukan tanpa alasan, pernah suatu ketika dalam fit and propper test  (semoga ejaannya betul) kepsek berpesan di akhir tanya jawab tersebut begini, "Saya harap pembicaraan ini hanya kita (saya,beserta jajaran manajemen) yang tahu, jangan sampai teman yang lain juga tahu, apalagi tulis di BLOG," begitulah ujar pak kepsek dengan redaksional berbeda dikit. Saya sih bukan ke-ge er-an blog saya dibaca kepsek, cuman itu berarti kepsek tahu saya cukup aktif nge-blog. Itu baru satu, belum lagi rekan sekaligus teman pulang kerja bareng yang cukup sering baca blog ini dan agak memantau saya, hehehe. Saya sih tidah khawatir beliau akan lapor jika ada kejanggalan atas isi blog ini, cuman rada gimana gitu. Rekan kerja yang lainnya juga pernah memberi saran untuk lebih hati-hati dalam nge-blog apalagi menceritakan sekolah. Kalau bisa disamarkan nama yang bersangkutan untuk lebih aman dan menjaga perasaan, begitu kata beliau. Wuuuihh, kebebasan saya jadi lebih terbatas yaah. Lagipula, selama ini saya tidak merasa ada yang mengandung penghinaan, unsur SARA atau hal buruk lain dari isi blog ini, hanya saja saya harus lebih ekstra ketat lagi nih mulai sekarang, bahasa kerennya bermain cantik, asyiiiiiik. 

         Dugaan saya pun saya bakal kurang aktif  nge-blog dari tahun sebelumnya, terjadi penurunan signifikan bagi saya di tahun 2014, terutama pas masuk tahun ajaran ganjil kemarin, lebih berasa capek ngajarnya, huhuhu. Semoga itu hanya dugaan yang tidak benar. Saya ingin lebih banyak menyalurkan pendapat saya di tahun ini: 2015. Terus terang satu semester kemarin (Juli-Des'14) adalah momen yang terpuruk bagi saya, momen tersedih saya ketika mengajar di K****K*B, so many things i want to share, but no time, no passion about blog or write at all. Ketika satu semester itu berlalu, ada sedikit harapan saya bisa lebih menjadi saya, artinya bisa lebih happy dari sebelumnya, lebih passionate dari sebelumnya, dan lebih disayang Allah... Aamiin *yang terakhir beneran harapan penuuuh*

         Semester ini saya sadar telah mengawalinya dengan buruk secara administrasi sekolah. Kenapa? RPP untuk 5 buku, belum 1 pun kelar tuntas, padahal tinggal besok, tinggal beberapa jam lagi saya sudah masuk kelas lagi, tapi... Aapaaaa? Belum selesai. Hebatnya saya tidak mengalami ketegangan seperti sebelumnya, kenapa ya, aneh banget ini. Saya pun bingung. Ya Allah, ampuni hamba. Penurunan kerja secara administrasi bukan berarti saya "habis", malah sebaliknya, saya senang telah mengakhiri akhir semester dengan puas baca, puas meluapkan tawa, dan semoga barokah yaah. Saya berpikir keras, ternyata kehidupan saya kacau jika semua hal ditumpuk seperti semester kemarin, saya merasa kurang bebas berekspresi saking tertekan dengan pikiran saya bahwa saya tidak mampu mengajar, tertekan dengan perasaan khawatir terhadap ini-itu. Cukup! Sekarang saatnya saya mulai banyak lagi membaca: baca Qur'an lebih khusyuk, baca novel biar syaraf tidak terganggu, baca buku lintas ilmu agar makin terpacu, terakhir banyak bertafakur dengan nge-blog jika perlu, hihihi.




@ruang
4 Janu'15_ saat azan dzuhur berkumandang

*this my first note in 2015 :-)

        

Kamis, 04 Desember 2014

Kisah Izka (bagian 1)

Ada seorang Izka, Izka Salsabila nama lengkapnya.
Anak perempuan ini cantik dan senang makan permen.
Suatu hari, dia kesepian karena tiada ada yang mengajak bermain.

Dia terus makan permen sendiri karena semua temannya telah pulang ke rumah. Biasanya setelah pulang sekolah, dia bermain dengan Sofi, kakak kelasnya. Namun, hari itu Sofi sakit sehingga Izka sedih sekali.

Izka ingin sekali menonton TV channel favoritnya, Cartoon Network dan Disney Junior, tetapi Ummi dan Abinya melarang dia menonton. Dia hanya boleh menonton setiap hari Jum'at, Sabtu, dan Minggu. Sayangnya, hari itu hari Kamis, dia tidak bisa menonton.


Izka bingung, dia tidak ada teman main, tidak boleh nonton TV, lalu apa yang harus dia lakukan? Supaya dia tidak sedih, Izka membayangkan abi membelikannya lemari hello kitty. Andai saja keinginan Izka terwujud.. (bersambung)





@Kawaakib
4 Des'14_ 14.57







Sabtu, 07 Desember 2013

Kerja Tak Selamanya Cinta

Sungguh ambigu judul yang saya berikan untuk tulisan ini. Akan tetapi, memang itulah yang saya alami. Mungkin bukan hanya saya, tetapi banyak orang di luar sana meneriakkan hal sama. Saya ceritakan mulanya seperti ini.

         Sudah sepekan atau lebih sidang skripsi saya berakhir dengan indah, alhamdulillah, bernilai A. Segala jenis revisi, fotokopian serta CD pun telah usai disiapkan. Aktivitas di kampus jauh berkurang, hanya mengurus sedikit administrasi untuk persiapan wisuda. Lantas, dari sanalah ketidakbetahan terjadi.
         Hati kecil saya terus saja menyuarakan untuk cepat mendapatkan pekerjaan halal, apa pun itu. Keluarga di rumah sibuk beli koran dan bertanya ke sana-sini tentang lowongan. Pada suatu perjalanan entah menuju kemana, saya melihat spanduk berisi pengumuman job fair, saya langsung berniat untuk ikut karena cukup dekat dari rumah.
Tidak sampai sebulan dari job fair, akhirnya saya pun bekerja sebagai Store Supervisior, perusahan retail farmasi ternama di Indonesia. Oke, sangat jauh dari bidang studi perkuliahan saya dan ternyata jauh pula dari perkiraan saya tentang posisi yang dimaksud.
         Saya mulai bekerja tanggal 1 Agustus 2012, di regional dekat rumah, perumahan Kosambi Baru. Bukan, saya bukan karyawan kantoran. Saya bekerja di pertokoan, lebih tepatnya apotek. Prinsip saya pada saat sekolah dan kuliah adalah hanya mengerjakan aktivitas yang saya CINTAI, jika saya tidak sreg, walk out! Akan tetapi, prinsip itu seperti meleleh semenjak saya masuk dunia kerja. Kurang dari 4 bulan bekerja di apotek, sebutlah Century, saya sudah berniat untuk resign.
         Keinginan "mulia" saya untuk resign dihalang habis-habisan oleh manager saya. Beliau wanita Solo yang lembut, jadi metode penghalangannya lebih membuat saya mengiyakan saja kemauannya. Beliau hanya menyuruh saya mengundur waktu resign menjadi sebulan mendatang. Bagi saya saat itu, jangankan sebulan, seminggu saja sudah bagai penyiksaan. Saya masih ingat jika saya masuk pagi sendiri, sambil membersihkan apotek (menyapu,mengepel,mengelap) pasti air mata sudah di pelupuk mata ala cinderlela dibabuin ibu tirinya, hehe. Hal itu karena saya tidak merasakan feeling good apalagi cinta terhadap pekerjaan itu.
         Di bulan yang sama dengan penolakan resign, seorang ummi mengajak saya untuk bergabung dalam project pendirian SDIT sebagai pengajar bersama teman-teman seperjuangan di SMA. Ummi itu juga menegaskan bahwa saya boleh menyelesaikan kontrak 1 tahun di apotek, sampai 31 Juli 2013, baru kemudian full mengajar. Wah, Subhanallah, saya langsung berpikir ini memang jalan Allah menunda untuk mendapatkan pekerjaan yang bisa lebih saya cintai. Saya akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan kontrak setahun di Century kemudian saya mengajar.
         Lantas rasa apakah yang saya tumbuhkan agar mampu bertahan tanpa cinta sampai kontrak selesai? Penerimaan dan pengharapan itu kata sederhananya. Menerima bahwa ini semua takdir Allah yang pasti ada hikmah tersirat serta terus belajar untuk selalu "menerima" dan selalu amanah dalam pekerjaan karena Allah. Berharap Allah pasti mengganti kesedihan dan rasa "berat" dalam hati saya dengan ganjaran lebih baik. Alhamdulillah, saya keluar dari Century sesuai waktu perjanjian dengan tanggung jawab semaksimal saya bahkan mungkin melebihi rasa cinta yang seharusnya ada terhadap pekerjaan ini.
         Pertanyaan untuk saat ini, masa bekerja di Century telah selesai, berarti, apakah dirimu sudah mengecap rasa cinta di tempat kerja barumu, Fit? Tempat penuh inspirasi dan celotehan polos anak-anak itu begitu mudah untuk kau cintai, bukan? Untuk saat ini saya tidak ingin menjabarkan jawaban atas pertanyaan monolog saya. Saya hanya ingin menanamkan bahwa memang tidak ada cinta yang harus diutamakan, kecuali terhadap Allah dan Rasulullah. Biarlah cinta kepada Allah saja yang memampukan diri untuk bertahan.

Jadikanlah setiap pekerjaan, karirer, atau profesi sebagai bentuk jihad kita yang pasti bernilai di hadapan Allah. Itu saja. Wallahu'alam



@ruang
8 Des'13_ 15.39

Sabtu, 23 November 2013

Dad and My Friends

Entah sudah ketiga atau keempat kalinya saat melewati rumah seorang teman laki-laki seangkatan SMA, papa pasti ada saja pertanyaan. Pertanyaannya pun pernah sekali tidak bisa saya jawab. Tanggapan papa setelah saya jawab dari beberapa kali pertanyaannya juga hampir sama (karena pertanyaannya pun sama). Biasanya setelah tanya jawab mengenai teman laki-laki itu, akhirnya melebar ke teman-teman angkatan SMA lainnya. Tentunya teman perempuan semua. Maklum, teman-teman "selingkaran kecil" saat SMA.
         Ya, dari semua teman SMA, yang papa kenal laki-laki cuma satu, Yoga, yang rumahnya persis di pinggir jalan raya. Itu pun pernah namanya terbolak-balik menjadi Yogo, atau apalah disebutnya saya lupa. Saya sedikit meluruskan papa saya kenal dengan satu laki-laki itu bukan karena sengaja dikhususkan, bukan. Berhubung saya ke tempat lembaga Qur'an melewati rumahnya dan hari itu keluarganya ditimpa musibah, saya pun takziah ke rumah Yoga dan papalah yang nanyain ke orang tentang si Yoga ini. Bahkan, papa pun tidak pernah bertemu langsung dengan si Yoga. Tetapi setiap lewatin rumahnya, tetap ada aja pertanyaan.
         Dengan teman anaknya yang bahkan dia tidak kenal bentuk dan rupanya sekalipun, dia tetap tanyakan. Terlebih lagi dengan teman saya yang selalu muncul serta selalu saya ceritakan berulang kali. Papa sangat tahu betul siapa teman-teman saya, berikut juga rumahnya. Bagaimana tidak tahu jika dari SMA setia mengantar anaknya keliling rumah teman.
         Papa selalu tahu sejak SMA saya seringkali pulang bareng Erni. Pernah sekali ketika banjir papa juga tahu saya menginap di rumah Fika. Sudah mengenal jelas rute rumah Dayoh yang rumit. Papa juga pernah bertemu abinya Shabrina dan mengingat tempat menjemput saya ketika main ke rumah Lili. Luar biasa, nama-nama yang saya sebutkan sudah tidak asing lagi. Bahkan ketika Erni menikah dua pekan lalu, papa pasti ikut jika saja tetangga dekat tidak menjadikannya panitia walimahan anaknya.
         Dari SMA saya tidak bisa menyembunyikan tempat saya mengaji dari papa. Papa serba tahu tentang itu. Dari rumah mentor pertama sampai yang sekarang,papa tahu letak rumahnya. Segigih apapun saya tidak ingin diantar, tetap papa pasti usahakan bisa antar dan akhirnya saya jadi keenakan sendiri. Papa itu memang sosok bapak perfeksionis dan perhatian sejati. Saya senang bisa sering berdiskusi sekaligus jadi "tempat sampah" baginya. Papa tuuhh... All the best that i have.
        

@ruang
24 Nov'13_ 14.29

Kalau Dua atau Tiga Bisa Bersatu

Hidup itu pilihan!

Itu prinsip yang saya banget. Setiap ditampilkan beberapa item apapun, rasanya lebih cenderung mengarah ke satu hal dan tidak acuh dengan hal lainnya. Ya, satu saja. Sebenarnya ingin sekali memperhatikan tidak hanya satu, biar efektif dan lebih "bergerak" banyak. Namun, apa daya, pasti ada saja yang tergadaikan.
         Beberapa contoh yang akhirnya saya pilih satu antara lain, social media, email, blog, bank,bahkan amanah pun demikian. Pertama, socmed, account socmed yang saya bikin lebih dari tiga: facebook, twitter, tumblr, g+, dkk. Lantas, di ponsel hanya twitter yang terpampang. Lewat twitter juga saya lebih sering me-link tulisan dari blog ini. Padahal, friends di FB lebih banyak dan lebih banyak teman "seliweran" juga sih. Jadi, sepi deh kalau mengecek facebook saya. Apalagi socmed yang lain, bahkan ada yang cuma masuk sekali terus tidak niat, bye-bye deh.
         Yang kedua adalah surel atau email. Dari zaman SMA sudah mantap dengan yahoo, tapi karena dirasa perlu lagi yang lebih simpel, akhirnya beralih ke gmail. Hampir berbulan-bulan belum buka lagi email di yahoo. Kalau gmail, sudah terpampang jelas di layar utama ponsel. Email itu berkaitan dengan blog pula, kan. Ketika masih aktif di per-yahoo-an, saya mainannya multiply. Dari banyaknya jumlah teman juga lebih banyak di multiply daripada di sini. Lagi-lagi mencari yang lebih simpel dan terkesan "narik diri".
         Jika ketiga hal yang telah disodorkan adalah dunia maya. Saatnya dunia kenyataan. Memilih bank juga akhirnya berujung satu. Dari awalnya BSM, terus kuliah diharuskan buka BNI, dan saat kuliah BSM tetap jadi tempat penyimpan setia. Kemudian, seusai wisuda sudah tidak memasukkan uang ke BNI, tetap BSM. Sampai tibalah saat kerja yang syaratnya membuka tabungan CIMB Niaga atau BCA. Saya pilihlah Niaga yang ternyata mampu menjerumuskan BSM ke jurang terdalam (lebay). Lagi dan lagi, padahal kebanyakan teman lebih memilih bank syariah. Catatan penting, gaji saya masih tertahan dan insya Allah cairnya melalui Niaga. Alasan lainnya karena sudah terlanjur >_<.
         Nah, hal berikutnya yang saya pilih satu adalah amanah. Amanah juga bagian akhir dari pernyataan saya pagi ini. Sebut saja saya di kampus berkegiatan nonkuliah di forum Islam, lembaga kampus dan sekolah (alumni SMA). Tentu bisa dilakukan bersamaan selagi tidak mengganggu aktivitas kampus. Namun, apa daya, semakin lama saya semakin ditanyain kabarnya oleh rekan kerja di lembaga kampus. Sepertinya, tidak perlu diurai dengan sangat berbagai alasan. Hanya sedikit teman yang saat itu setia aktif di lembaga sekolah.
         Tugas saya yang harus dikejar adalah belajar. Belajar multi-tasking sedikit, perlahan tapi pasti. Sampai sekarang masih mencari cara. Pernah baca di artikel bahwa mengisi TTS dan sudoku salah dua caranya. Wallahu'alam valid atau tidak. Tapi tidak rugi juga, ya, dicoba.



@ruang
24 Nov'13_ 06.45

Sabtu, 02 November 2013

Sebuah Peristiwa Nyata*

Di sebuah KRL sekitar pukul 21.30, dua orang pemuda dengan wajah tidak ramah naik. Saya ketakutan, tapi hanya mampu kebingungan karena tidak ada satu pun senjata untuk melindungi diri. Dengan pasti saya mengambil Qur'an, membuka, dan membacanya. Kedua orang tersebut mengapit saya. Saya terus saja menatap fokus ke arah ayat-ayat Allah dengan degupan jantung luar biasa.
         Tidak lama, kedua pemuda tersebut pergi kemudian turun begitu saja. Alhamdulillah, tidak ada hal jahat yang mereka lakukan terhadap saya. Sesampai di rumah dan setelah istirahat sejenak, saya melihat berita malam di televisi tentang pembunuhan. Dengan terkaget-kaget saya menyimak berita itu karena ternyata pembunuhan terjadi di KRL yang saya naikin baru saja. 
         Entah atas dasar apa sehingga saya memberanikan diri untuk pergi ke kantor polisi, tempat pembunuh ditahan. Di kantor polisi, kecurigaan saya terjawab setelah melihat pembunuh tersebut. Dua orang pembunuh itu ternyata orang yang sama ketika saya naik KRL yang saya sebut dengan dua pemuda berwajah tak ramah.
         Setelah saya menyapa sedikit dua orang pembunuh itu, saya pun bertanya, "Pak, waktu di KRL itu, kenapa bapak langsung pergi tak lama setelah mendekati saya?"
         Jawaban mengagetkan pun terucap oleh salah seorang pemuda, "Ketika kami mendekati kamu, kami melihat dua pria berbadan besar yang tampak kuat menjaga di kanan dan kiri kamu."
        "Itulah sebab kami langsung menghindar agar tidak mendapat masalah," lanjut pemuda tadi dengan lugu.
         Saya hanya mampu terdiam mendengar pengakuan pembunuh tadi. Keheranan dan takjub memenuhi batin saya. Bagaimana mungkin ada dua pria berbadan besar, padahal saat itu saya naik KRL sendiri. Subhanallah, walhamdulillah.

*Kisah nyata seorang muallaf yang disampaikan oleh Ustadzah Safitry setelah halaqah Qur'an berakhir. Kisah sudah direkonstruksi dengan bahasa saya. Penjagaan Allah itu nyata, subhanallah.

@ruang
10Nov'13_14. 53
oleh Fitri Apriliani Lestari

Minggu, 20 Oktober 2013

Dunia Surya (Fiksi Bersambung_2)

Sudah pukul 23.11 ketika Surya membuka pagar rumahnya. Rumah terlihat sepi sebagaimana biasa dia pulang shift malam. Hati-hati sampai tak terdengar bunyi, Surya memasuki rumah. Rumah yang mestinya menjadi surga peristirahatan bagi Surya, sudah berubah menjadi tempat kerja kedua semenjak tiga tahun lalu. Beruntung dia pulang saat semua mata di rumah tersebut telah terpejam.
         Badan Surya telah mendarat di tempat tidurnya. Dia mencoba memejamkan mata, mengistirahatkan raganya, tapi tidak dengan otaknya. Otaknya masih berpikir tentang hari esok. Hari seperti hari-hari biasa. Ya, seperti biasa.

Besok harus sampai di toko jam 06.15, lebih pagi dari biasa. Aduuh.. kenapa tiba-tiba barang datang membludak dari gudang hari ini, pas Rio dan Danang libur berbarengan. Berarti besok gua harus masak sebelum Subuh dan ibu udah diurusin sejak kelar masak. Hiduuuup... lu harus bantu gua yaak. Bismillah aja deh.
        

oleh @vtrial, 20 okt'13
17.31

Selasa, 15 Oktober 2013

Suara Hati Fanya (Fiksi Bersambung)

Benci aku dengan kehidupan. Hidup yang membawaku mengenal orang-orang pengumbar kebohongan. Jenuh. Jenuh berpura-pura peduli, itulah yang aku lakukan setiap hari. Ingin melangkah jauh pergi, tapi aku hanya mampu bergemul dengan harapan tanpa wujud. Mungkinkah aku beralih sadar untuk mendekap syukur serta pasrah terhadap keadaan saat ini? Jika tidak, entah kapan aku berhasil meloncati kenyataan menuju impian yang sangat ingin kucapai.

Fanya merebahkan diri sambil meletakkan kepalanya di atas rumput, bawah pohon. Saat raga jatuh terkulai ke tanah, pikirannya jauh mengangkasa.



oleh @vtrial, 15okt'13
20.43

Selasa, 08 Oktober 2013

Hantaman Mental Sang Bintang

Akhirnya bintang itu bisa menangis pula. Dari sekian bintang laki-laki hanya dialah yang belum pernah terlihat menangis di galaksi Musa. Jika para bintang lainnya menangis karena ada "senggolan" fisik dengan bintang laki-laki lain, bintang satu ini berbeda. Usut punya usut dia menangis karena DISALAHKAN oleh salah satu bintang perempuan dalam suatu permainan yang bernama "kotak pos". Bukankah itu hal yang unik? Saat bintang lain sebagian besar menangis karena "hantaman" fisik, bintang ini menangis karena "hantaman" mental. "Hantaman" mental ini pun bukan diberikan oleh sang pendidik, melainkan oleh temannya sendiri. Memang mungkin begitulah warna bintang Azka.




@ruang
_9 Okt'13_ 05.43

Sabtu, 05 Oktober 2013

Sepotong Daster

Entah kenapa ingin sekali menulis tentang sepotong daster. Daster batik yang baru saja kubeli disangka mirip nian dengan pakaian "emak-emak". Aku pun tidak terlalu menggubris karena memang aku menyukai pakaian ini (baca: daster). Tidak biasa aku menginginkan sebuah pakaian seperti saat aku menginginkan daster. Aku merasa harus sekali membeli segera.
        Pakaian ini tidaklah terlihat istimewa bila dipandang oleh manusia pada umumnya. Namun, aku membutuhkannya demi kenyamanan. Nyaman saat melepas lelah dan nyaman pula jika tiba-tiba harus bertemu "orang lain" ketika waktu malam. Coba kalau pakai piyama atau baju tidur two-pieces, bisa ribet pakai rok dll jika tamu datang malam-malam. Daster juga sedikit mengingatkanku arti rumah. Sederhana, nyaman, dan apa adanya. Setidaknya itulah pendapatku.

Mungkin cerita daster ini bukan sekadar kesukaan terhadap benda,melainkan tersirat makna lain yang ingin segera pula kucapai. Daster hanya "sarana" atas pemikiranku yang sederhana. Walau tidak sesederhana masa depan yang kelak kulalui.


@ruang
_5 okt'13_ 23.19

Selasa, 03 September 2013

Kawaakib the series (2)

Di antara bintang-bintang itu tiada yang sinarnya mengungguli sinar bintang lainnya. Setiap bintang memiliki ciri khas yang unik. Tiada yang sama persis karena bintang-bintang itu unik sebenar-benarnya. Begitu pula bintang di galaksi Musa, biarlah aku sebut begitu. Sinar di galaksi tersebut sungguh beragam serta tajam, tetapi indah tiada tandingan. Kompleks menjelaskan keindahan galaksi tersebut, bahkan aku pun tercengang saat pertama melihat.
     Dalam hitungan jam ada saja peristiwa "rusuh-ajaib" yang membuatku terheran. Kegemparan adalah keunikan galaksi tersebut. Bintang yang selalu bergejolak untuk saat ini ada tiga: Fattah, Royhan, Abdan. Ketiga bintang itu indah dan akan lebih indah lagi pada waktunya.

@kawaakib
3 Sept'13_ 14.38