Senin, 28 November 2011

Pengamen Inspiratif


“Berisik amat dah..”
Itu reaksi pertama ketika kuterbangun dari tidur singkat di Deborah siang itu.

“Ihh..niy abang, suaranya lumayan asyik, sangat lepas.”
Itu reaksi selanjutnya setelah mata udah melek utuh.

“Emm..ini lagunya siapa sih yang dinyanyiin, bagus deh..”
Satu demi satu komentar dalam hati terus mengalir seiring irama yang dibawakan Si Abang Pengamen.

Si abang pengamen itu mungkin seusiaku. Memang  tidak dapat kulihat wajahnya yang menghadap ke sisi yang berlawanan dari tempatku duduk,  tapi  dari suaranya aku dapat menerka kisaran usianya. Suaranya sangat lepas mendendangkan bait-bait lagu. Sangat asyik. Dari segi vokal, sebenarnya banyak juga pengamen yang bersuara asyik seperti itu. Akan tetapi, aku mampu menangkap beberapa keistimewaan dari Si Abang Pengamen ini yang jarang sekalli dimiliki oleh pengamen-pengamen bersuara emas di bus. Apalagi ketika Si Abang Pengamen ini menyanyikan lagu Nidji (yang baru aku tahu setelah lagu hampir berakhir) berjudul “Tuhan Maha Cinta”. Suaranya menggelegar melebihi suara Giring deh, pokoknya. Yang paling penting lagi adalah suaranya tidak fals sehingga terdengar enak dinikmati. 

Si Abang Pengamen itu sangat mendalami lagu yang dibawakan. Dia tdak hanya nyanyi cuap-cuap gitu, semua badannya bergerak sambil memetik gitar. Ada yang perlu diluruskan sedikit, Si Abang Pengamen ini hanya bergerak ringan di tempat yaa, bukan mondar-mandir di dalam bus. Gerakannya pun seirama dengan nada lagu dan petikan gitar, bukan joget ga jelaas.. >_<

Aku yang saat itu hanya mendengar suaranya saja sudah ngos-ngosan, tapi suara si Abang itu sangat luar biasa karena tidak ada kesan cape atau kehabisan nafas. Tiga atau empat lagu dibawakannya dengan sangat all out, menurutku Si Abang itu nyanyi sebebas-bebasnya, serasa di ruang terbuka, dan bagiku itu positif. Positifnya apa? Coba kalo nyanyinya malu-malu, suaranya pelan, pada ga bangun tuch orang-orang di Deborah. Nyanyi bebas itu, tidak teriak-teriak yaa, harap bedakan. Contoh bersuara bebas kayak orang latihan drama gitu deh, harus lepas, jelas, dan tegas suaranya. Tentu tidak boleh sumbang karena pake suara perut. Muatan lagu yang dibawakan (Nidji_Tuhan Maha Cinta) juga dahsyat. Ini dia:

Nidji Tuhan Maha Cinta
tahukah Tuhanmu selalu hidup di dalam hatimu
cinta dariNya menjawab semua masalahmu
Dia mendengar,melihat dan selalu berfirman
perangi neraka di  dalam hatimu
damaikan jiwamu dengan cinta Dia
memberi yang ikhlas kepada yang butuh
bersyukurlah terus tanpa kenal waktu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
serukan, ikhlaskan, pasrahkanlah hanya kepadaNya
cintaNya adalah jawabanNya karena Tuhanlah Maha Cinta
karena Tuhanlah Maha Cinta

         Setelah selesai dengan lagu-lagunya, Si Abang Pengamen itu menggulung koran sebagai tempat uang. Saat Abang itu mengitari satu demi satu bangku penumpang, baru kulihat keringat yang bercucuran di kepala dan badannya. Eemm, luar biasa. Ucapan terima kasih yang disampaikan Si Abang juga disertai tatapan dan senyuman terhadap penumpang yang menaruh uang ke dalam gulungan koran tersebut. 

        Banyak pelajaran yang dapat kuambil dari Si Abang inspiratif ini, mulai dari kesungguh-sungguhan, semangat, percaya diri, sampai ke adab. Jika kau ingin meraih sesuatu, lakukanlah sebaik-baiknya dan dengan kesungguhan setinggi-tingginya. Jangan kita bersusah payah memikirkan hasil akhir, berani bergerak sajalah dulu, insya Allah kekuatan dan semangat, Allah-lah yang menciptakan untuk kita nantinya. Ketika kau yakin dan percaya diri terhadap langkah yang kau ambil, orang lain pun akan mampu merasakan “ruh” itu. 

Aku merasa Si Abang Pengamen telah mampu bersyukur atas segala yang diberikan Allah padanya, lalu bagaimana dengan kita???

Kamis, 10 November 2011

Cerminan Kekayaan Budaya Indonesia melalui Didong, Rebab Pesisir, dan Pantun Kentrung*


Oleh Fitri Apriliani Lestari*, 0806466241


Setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan yang menandakan kehidupan sehari-hari yang dilakukan warga di daerah tersebut. Kekhasan itu dapat berupa bahasa, kepercayaan, budaya, seni, ritual keagamaan, adat istiadat, dan norma yang berlaku. Pada tulisan ini akan dilakukan pemaparan dan analisis terbatas mengenai kekhasan suatu daerah dalam hal berkesenian. Lingkup kecil pembahasannya adalah kesenian Didong, Rebab Pesisir Selatan, dan Pantun Kentrung sebagai tradisi sekaligus sastra lisan Indonesia.
Tradisi lisan adalah sebagian kebudayaan yang diwariskan turun-temurun secara lisan kemudian dilisankan, sedangkan sastra lisan adalah suatu bentuk tuturan atau muatan dalam sebuah pertunjukkan lisan yang disampaikan hanya melalui bahasa yang dilisankan. Sastra  lisan belum menjadi sebuah tradisi jika belum diwariskan turun-temurun, setidaknya tiga generasi. Selanjutnya, tradisi lisan mencakup segala hal yang dilisankan, mulai dari bahasa, mimik, gesture, alat penunjang (alat musik), dan situasi yang dibangun oleh penonton. Lain halnya dengan sastra lisan yang “hanya” memperhatikan bahasa dari sebuah pertunjukkan lisan. Pertunjukkan yang saya maksud adalah proses timbal-balik atau komunikasi langsung antara sumber dan informan lisan yang pasti selalu ada dalam proses tradisi dan sastra lisan. Itulah korelasi (perbedaan) antara tradisi lisan dan sastra lisan.
Selain tradisi dan sastra lisan, dalam ilmu kebudayaan juga dikenal istilah folklore. Menurut Alan Dundes, folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya (dalam folklore Indonesia). Dalam komunitas yang memiliki corak kekahasan yang sama mereka mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat. Pengertian dari lore adalah sebagian kebudayaan yang diwariskan secara turun menurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.
Lalu apakah keterkaitan serta perbedaan antara folklore, tradisi lisan, dan sastra lisan? Perbedaan serta keterkaitan antara tradisi dan sastra lisan sudah dipaparkan di atas. Kemudian kaitan kedua hal tersebut dengan folklore dapat kita titik beratkan kepada kata “lisan”. Dalam tradisi dan sastra lisan terjadi proses komunikasi atau interaksi langsung. Akan tetapi, hal itu tidak terjadi dalam folklore karena cakupan folklore lebih luas, tidak sekadar lisan. Untuk memperdalam pemahaman mengenai ketiga istilah ini, kita akan masuk ke contoh kesenian yang ada di Indonesia, yaitu Didong, Rebab Pesisir Selatan, dan Pantun Kentrung berikut ini
Didong
            Gayo dikenal memiliki kekayaan dalam hal seni suara dan tari. Salah satu kesenian yang akan kita ulas adalah didong. Didong merupakan salah satu seni suara dan sastra dari Gayo yang masih utuh bertahan sampai saat ini. Formula yang terdapat dalam didong adalah tampilnya dua grup yang tiap grup berjumlah sekitar tiga puluh orang anggota yang juga sudah termasuk para Ceh. Mereka duduk melingkar pada masing-masing grup. Dalam didong terjadi saling membalas pantun antara dua grup. Formula yang terus bertahan di setiap generasi sebagai tanda bahwa didong merupakan tradisi lisan.
            Pantun yang dilontarkan pada pertunjukkan merupakan unsur dari sastra lisan. Didong sudah menjadi identitas masyarakat Gayo yang memiliki keahlian dalam bersastra atau bersyair, terutama bagi para Ceh. Identitas dan pewarisan didong atas masyarakat Gayo menandakan kesenian ini juga sebagai folklore.
             Hal-hal penting yang berperan dalam pertunjukkan didong adalah penonton dan pantun. Penonton merupakan juri yang ideal dalam pertunjukkan karena dapat menilai secara obyektif kualitas isi dari pantun yang dibawakan setiap grup. Semakin banyak dan semangat tepukan penonton akan memicu gairah tim untuk membuat pantun yang cerdas dan kreatif. Pembendaharaan kosakata juga diperhatikan dalam pertunjukkan didong.

Rebab Pesisir Selatan
Rebab Pesisir Selatan (RPS) adalah salah satu kesenian yang berasal dari Minangkabau. RPS sudah dikenal lama oleh warga yang tinggal di kawasan pantai barat selatan Sumatera Barat sampai perbatasan Provinsi Bengkulu. Saat ini, RPS sudah dikenal pula di luar wilayah tersebut, seperti daerah Padang, Solok, dan Agam. Formula yang terdapat pada RPS adalah pengisahan secara lisan suatu kaba (cerita) dengan diiringi instrumen rebab oleh dua orang penampil. Formula ini tetap sama dilakukan tiap generasi, inilah salah tanda bahwa RPS merupakan tradisi lisan. 


Kaba yang dituturkan oleh penampil merupakan unsur sastra lisan dalam tradisi ini. RPS adalah gambaran identitas Minangkabau karena dalam ceritaya dikisahkan tentang pemuda yang berusaha merintis sukses dengan merantau. Kepemilikan identitas kelompok tersebut menandakan RPS termasuk folklore. Kepemilikan tersebutlah yang menjadi daya tarik RPS karena penonton dewasa Minangkabau dapat bernostalgia tentang perantauannya dan penonton remaja dapat mengimajinasikan diri tentang perantauan.
Peran penonton sangat besar dalam pertunjukkan RPS karena pertunjukkan baru dimulai ketika penonton sudah berdatangan dan berakhir saat penonton sudah banyak yang pergi. Hal penting yang ikut berperan dalam RPS adalah instrumen yang digunakan, rebab. Pertunjukkan RPS tidak akan berlangsung tanpa penonton dan iringan rebab.

 Pantun Kentrung

            Jika dua kesenian sebelumnya berasal dari Pulau Sumatra, kini kita akan membahas kesenian dari Pulau Jawa, tepatnya Provinsi Jawa Timur, yaitu Pantun Kentrung. Penceritaan Pantun Kentrung dibawakan oleh seorang dalang kentrung dan panjak dalam sebuah acara. Acara yang dimaksud adalah perayaan tujuh bulanan, sunatan, perkawinan, ruwatan, sedekah desa, dan perayaan kemerdekaan Indonesia. Cerita yang dipaparkan bergantung pada acara yang digelar. 
Formula yang terdapat di dalam Pantun Kentrung adalah dalang kentrung yang memainkan instrumen kendang sambil bercerita, panjak yang bertugas mengiringi dalang sambil memainkan bunyi-bunyian bernama terbang, dan penanggap. Pewarisan formula ini menandakan kesenian ini merupakan tradisi lisan, sedangkan cerita yang dibawakan menandakan adanya unsur sastra lisan. Pantun Kentrung sudah menjadi identitas masyarakat Jawa Timur hal tersebut yang menjadikan kesenian ini sebagai folklore. Unsur penonton atau penanggap sangat penting, salah satunya sebagai pemyampai kritik sosial.
Pembahasan mengenai Didong, Rebab Pesisir Selatan, dan Pantun Kentrung menunjukkan satu inti yang sama, yaitu disampaikan secara lisan. Selain itu, ketiganya memiliki hubungan sebagai identitas komunitas di daerah asal masing-masing dan yang terpenting adalah semua kesenian tersebut mengalami pewarisan turun-temurun. Setiap kesenian atau kebudayaan memiliki corak khas yang tidak dapat saling menggantikan. Oleh karena itu, kita harus menghargai perbedaan formula di tiap kesenian sebagai kekayaan budaya Indonesia. Yang perlu kita sadari adalah kesenian merupakan cerninan atau identitas suatu bangsa, apabila kita mampu menghargai dan menjaganya, akan mudah kita memelihara persatuan seluruh Indonesia.

Sumber:
Danandjaja. James. 2002. Folklore Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafitti.
Endarswara, Suwardi. 2010. Folklore Jawa: Macam, Bentuk, dan Nilainya. Jakarta: Penaku.
Melalatoa. 1982. Didong: Kesenian Tradisional Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Suryadi. 1993. Rebab Pesisir Selatan: Zamzami dan Marlaini. Jakarta: Yayasan Obor Indoneia


*Esai ini merupakan tugas Mata Kuliah Sastra Lisan yang menjadi penilaian Ujian Tengah Semester.
*Penulis adalah mahasiswa semester 7 Universitas Indonesia, Program Studi Indonesia.

Kamis, 03 November 2011

Syair "Tinta"


Siang ini, aku mencarinya ke mana-mana
Tak sabar hati ingin berjumpa
Walau kemarin baru bersua
Tetap saja pertemuan kami selalu kudamba

Setelah hari beranjak petang, kudengar berita
Kabarnya dia sedang sakit tak berdaya
Langsungku telepon, namun tak diterima
Sungguh membuatku makin cemas saja

Saudariku tercinta nan sejuk dipandang mata
Kesehatanmu jangan lupa harus selalu dijaga
Agar dapat kita terus bertukar cerita
Sebelum kau menyandang gelar sarjana…
lalu meninggalkanku yang masih mahasiswa


Depok, 3 November 2011
9.20 PM

Selasa, 11 Oktober 2011

KEUNIKAN RATIB SAMAN DI DAERAH SAMBAS


Oleh Fitri Apriliani Lestari*, 0806466241


Ketika  kita mendengar kata Ratib Saman, mungkin setidaknya ada dua hal yang terlintas di benak kita, yaitu “Ratiban” dan “Saman”. Kemudian timbullah pertanyaan apakah Ratib Saman termasuk salah satu bagian dari ratiban? Apakah Ratib Saman memiliki kesamaan dengan tari Saman yang berasal dari Aceh? Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan serta memaparkan secara singkat apa yang dimaksud dengan Ratib Saman secara umum dengan mengambil kota Sambas sebagai tempat perkembangan Ratib Saman.
Ratib Saman adalah salah satu tradisi lisan yang berkembang di kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Jika kita amati sekilas ratiban sungguh mirip dengan acara tahlilan, orang-orang berkumpul membentuk lingkaran besar sambil melantutkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Seperti halnya tahlilan, Ratib Saman memang kaya akan unsur Islam. Akan tetapi, yang dilantunkan dalam Ratib Saman bukanlah Al-Qur’an, melainkan naskah syair tulisan tangan yang sudah berumur lebih dari satu abad.naskah syair tersebut beraksara dan berbahasa Arab sehingga terdengar seperti bacaan Al-Qur’an. Keberadaan Ratib Saman di Sambas dapat dihubungan dengan awal masuknya Islam ke Sambas. Hal ini pun menjadi bukti bahwa Kerajaan Melayu Sambas dulunya adalah sebuah negeri yang berpegang teguh pada ajaran Islam.
Asal muasal Ratib Saman masih belum diketahui bahkan oleh Budayawan di kabupaten Sambas. Konon dari berbagai cerita yang ada, Ratib Saman berasal dari Aceh. Hal ini diindikasikan dari hubungan yang lancar antara Sambas dan Aceh pada masa kerajaan beberapa abad yang lalu. Kebudayaan di Aceh juga kental dengan nuansa Islam dan terdapat kesenian bernama Tari Saman yang terkesan mirip dengan Ratib Saman, tetapi dalam aplikasinya banyak perbedaan. Selain melantunkan syair islami, dalam Ratib Saman juga terdapat beberapa gerakan. Gerakan Ratib Saman seperti gerakan solat.
Tradisi Ratib Saman merupakan salah satu keragaman lokal Sambas yang hampir punah. Tradisi ini di kabupaten Sambas hanya dikuasai oleh para tetua yang sebelumnya telah diajari orang tua pada generasi terdahulu, sedangkan untuk mengajari kaum muda di Sambas sangat sulit. Menurut Budayawan Sambas, A Muin Ikram, dalam lima puluh tahun terakhir, Ratib Saman hanya dimainkan sebanyak enam kali. Di seluruh wilayah Sambas pun, diperkirakan hanya dua atau tiga desa yang masih melestarikan tradisi Ratib Saman.
            Dilihat dari filosofi dan penampilan Ratib Saman, dapat dikatakan Ratib Saman berkaitan erat dengan upacara adat di Sambas yang bernama upacara adat Tepung Tawar. Tepung tawar merupakan upacara yang biasanya dilakukan ketika pindah rumah baru, berobat kampung, khitanan, hamil 7 dan 9 bulan, mandi belulus pengantin, hari ketujuh meninggal dunia dan lain-lain. Upacara ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, kedamaian kepada Allah Swt dengan cara memapas atau menyentuhkan objek yang didoakan menggunakan daun lenjuang yang telah dicelupkan dalam air tepung tawar yang sudah dibacakan doa-doa. Ratib Saman secara filosofis  berfungsi hampir sama dengan upacara Tepung Tawar, yaitu untuk memohon pertolongan Allah agar terhindar dari berbagai ancaman.


Referensi:
www.pontianakpost.com. “Ratib Saman Kini Mulai Terlupakan” diunduh tanggal 28 September pukul 07.24
www.kompas.com. “Ratiban, Serat Manikmaya dan Anehnya Pikiran Manusia” diunduh tanggal 28 September pukul 07.27


*Penulis adalah mahasiswa program studi Indonesia, FIB UI, angkatan 2008

Kamis, 22 September 2011

For The Rest Of my Life

I praise Allah for sending me you my love
You found me home and sail with me
And I`m here with you
Now let me let you know
You`ve opened my heart
I was always thinking that love was wrong
But everything was changed when you came along
OOOOO

And theres a couple words I want to say

Chorus:
For the rest of my life
I`ll be with you I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you.loving you
For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I…I`ll be there for you
I know that deep in my heart

I feel so blessed when I think of you
And I ask Allah to bless all we do
You`re my wife and my friend and my strength
And I pray we`re together in Jannah
Now I find myself so strong
Everything changed when you came along
OOOO
And theres a couple word I want to say

*Repeat Chorus
I know that deep in my heart now that you`re here
Infront of me I strongly feel love
And I have no doubt
And I`m singing loud that
I`ll love you eternally


Repeat Chorus I know that deep in my heart..


Aduuhhh.. Lagu ini so sweetnya..^^

Sabtu, 10 September 2011

Tradisi Lisan Betawi dalam Bens Radio*

oleh Fitri Apriliani Lestari*
0806466241

Dalam setengah abad ini, dunia mengalami perkembangan yang begitu pesat, bahkan telah mempengaruhi perubahan tata nilai dan struktur dalam masyarakat. Perkembangan pesat ini di satu sisi dapat membahayakan perkembangan kebudayaan Indonesia dan di sisi lain dapat memajukan kebudayaan Indonesia. Hal yang dapat membahayakan kebudayaan Indonesia atau kebudayaan nasional apabila seluruh pengaruh kebudayaan asing masuk tanpa adanya penyaringan. Akan tetapi, jika makin banyak orang Indonesia berpikir kritis untuk membentuk kebudayaan nasional yang hendak dikembangkan sejalan dengan perkembangan masyarakat Indonesia dan kemajuan zaman, arus globalisasi akan membawa dampak positif bagi kemajuan kebudayaan nasional.

Salah satu cara efektif untuk mempertahankan kebudayaan nasional di zaman globalisasi ini adalah membentuk wadah industri budaya dan industri kreatif. Industri budaya berfungsi untuk memberi kenyamanan berkaitan dengan emosi, ekspresi, dan mempunyai kecenderungan untuk menarik massa, sedangkan industri kreatif dapat mengembangkan kebutuhan dasar manusia yang mendambakan hiburan. Gabungan antara industri budaya dan industri kreatif harus dikemas dengan baik agar masyarakat dapat merasakan pengaruhnya, yaitu dengan menjadikan teknologi atau media elaktronik sebagai perantara antara sumber hiburan dan penikmat hiburan.

Radio adalah media yang mampu menstimulasi suara dan mengimajinaskan visualisasi faktual melalui kelisanan dan pendengaran. Selain itu, radio dapat menjadi unsur yang mempertahankan kebudayaan nasional. Sampai saat ini, radio yang cukup konsisten dalam mengembangkan kebudayaan nasional adalah Bens Radio. Kebudayaan yang diusung Bens Radio adalah budaya Betawi. Dalam perkembangannya, Bens Radio Jakarta terus berusaha mencoba beradaptasi dengan perubahan karakter pendengar, tuntutan zaman, dan percepatan teknologi, serta gaya hidup masyarakat Betawi dan masyarakat Jakarta pada umumnya. Terbukti program acaranya selalu dikemas dengan cara-cara kreatif yang berkaitan dengan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang.

Bens Radio secara tidak langsung telah melestarikan dan mempertahankan kebudayaan tradisi lisan Betawi. Motto yang dipakai oleh Bens Radio, Betawi Punye Gaye Selera Siape Aje, adalah salah satu bukti keinginan yang besar untuk mempertahankan kebudayaan Betawi dalam masa penyiaran. Sapaan yang digunakan penyiar Bens Radio adalah bahasa Betawi, yaitu Abang, None, Ncang, Ncing, Nyak, Babeh. Hal ini pun menjadi nilai tambah Bens Radio dalam mempertahankan tradisi lisan Betawi.

Bens Radio sebagai media penyiaran swasta pasti juga memikirkan aspek komersial sehingga harus diakui semakin banyaknya penyiaran lagu pop disertai pengurangan kesenian Betawi. Pengelola Bens Radio pun menyadari arus globalisasi tidak dapat ditolak. Masyarakat harus membuka diri terhadap globalisasi agar dapat bersaing dan terus berkembang. Menurutnya, bahkan globalisasi harus diadopsi.

Salah satu hal yang miris bagi saya adalah penyiaran kesenian Betawi di Bens Radio hanya mendapatkan porsi 10% setiap minggunya. Menurut saya, hal ini terjadi karena Bens Radio menganggap kesenian Betawi yang umumnya diterima oleh masyarakat atau pendengar hanya kesenian atau lagu-lagu yang dibawakan oleh Benyamin S. (Alm.). Tentu saja hal ini masih bersifat wajar karena Benyamin S. adalah pendiri Bens Radio. Akan tetapi, ada satu keheranan saya, yaitu dengan terbatasnya porsi kesenian Betawi yang disiarkan, mengapa Bens Radio menempatkan penyiaran kesenian Betawi bukan pada waktu utama/Prime Time? Seharusnya Bens Radio menyiarkan format kesenian Betawi pada waktu utama, sedangkan sampai saat ini waktu utama sebagian besar diisi oleh lagu-lagu pop.




Rujukan:
Silalahi, Harry Tjan. 1993. “Pancasila sebagai Filter dan Dasar Budaya Indonesia”. Kongres Kebudayaan 1991: Warisan Budaya: Penyaringan dan Pemeliharaan I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


*Tulisan untuk tugas akhir semester (lima), Pengantar Metodologi Penelitian Kebudayaan
*Penulis adalah mahasiswa FIB UI Prodi Indonesia angkatan 2008

Rabu, 07 September 2011

Sudah Kroniskah "PEnyakit" Ini?

Lagi, SMS masuk pukul 18.23, tanggal 7 Sepember 2011.

Sampai tulisan ini selesai, SMS itu belum kubalas, bahkan tidak niat kubalas dan itu bukan SMS pertama yang tak terbalas sejak 2 Syawal 1432 H. Akan tetapi, ada pula satu, dua SMS yang masuk ke inbox ponselku dan kubalas, itu pun tanpa hasrat. Biasanya hal ini terjadi saat aku sedang “berpenyakit”, tetapi kali ini berbeda, dan berbeda itu dapat saja maksudnya “penyakit” yang kualami sudah kronis, entahlah. Aku yakin sekronis apa pun sebuah penyakit, pasti bisa sembuh, sayangnya aku tak ingin dan masih tak bisa sembuh saat ini.

Sejak tanggal 18 Ramadhan 1432 H terdapat perbedaan, dapat dikatakan saat itulah asal mula “penyakit”-ku kronis. Hari dan tanggal yang tak mungkin akan mudah kulupa, Kamis, 18 Agustus 2011. Tanggal itu cukup bersejarah karena itulah kali ketiga aku harus bolak-balik ke rumah sakit, rumah sakit yang sama selama ketiga kalinya. Aku ke rumah sakit tentu saja bukan karena “penyakit”-ku, lagipula sejak kapan “penyakit” ini terdeteksi oleh alat-alat kedokteran. Lalu, apakah yang menjadikan berbeda? Pertama, ini sudah ketiga kalinya, yang ke-TIGA, sehingga kondisi si Sakit (mamaque) makin parah daripada yang pertama dan kedua. Perbedaan kedua adalah kali ketiga ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, ya..RAMADHAN, menuju 10 malam terakhir Ramadhan tepatnya. Yang ketiga, baru kali inilah masalah administrasi sangat-sangat ribet. Tiga perbedaan yang mampu menciptakan emosi kesedihan dan ternyata dapat memancing aura “penyakit”-ku.

Ya, sejak tanggal bersejarah itulah……:

• Mulai banyak orang yang menanyakan, “Udah semester berapa?”, setelah kujawab, banyak doa bertaburan seperti, “Moga cepet lulus.” Alhamdulillah.. memang beginilah nasib anak bontot, sebagai satu-satunya anak yang masih tanggungan orangtua, ditanya-tanyain.

• Makin kenal seutuh-utuhnya tiap anggota keluarga, dan tersadar bahwa kami baru beramal jama’I sangat erat ketika ada suatu kasus. Tahun 2007, tepatnya 2 Februari (ini pun tanggal yang tak mudah dilupa), saat banjir di rumah, kami pun mantap banget amal jama’i-nya. Oia, di kedua waktu tersebut juga harus merelakan tidak ikut agenda keislaman SMA, KRENASI (3 Feb’07,acara Muharram) dan STARF (21 Agst’11, acara bukber , bulan RAMADHAN).

• Tidur makin sembarangan tempat, tidak tentu, dan terburu-buru. Maksudnya tidur terburu-buru adalah tidak nyadar tidur saking capenya dan bangun dengan kaget.

• Mulai kepikiran hal yang sebelumnya males dipikirin dan itu aneh banget pikirannya, apakah itu? Bahkan sekarang nulisnya pun eeerrrr banget, tetapi makin ngerasa butuh, ya baiklah, emang butuh, yaitu pasangan hidup. Penyebabnya bisa saja karena lingkungan. Biasanya sehari-hari hidup di lingkungan mahasiswa yang “ideal” atau idealis itu, terus semenjak tanggal tersebut lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, kemudian kedatangan tetangga, sanak saudara, dan itulah kehidupan sesungguhnya yang jauh dari “ideal”.
Pikiran-pikiran aneh mulai dari kisah Siti Nurbaya-Datuk Maringgih-tanpa Samsul Bahri, terus kalo ke suatu tempat atau kemana pun itu entah kenapa berpikir “Jangan-jangan bakal ketemu jodoh gw nih di sini,” Astaghfirullah… dan pernah ngebatin “Kalau saat ini (ketika ngebatin, bukan sekarang) ada yang ngelamar, langsung diterima aja yang penting dia laki-laki.” Astaghfirullah… emang error system banget kayaknya pas mikir seperti itu. Klimaks dari pikiran aneh ini, yaitu saat pulang ke rumah dan para pria menggotong mama keluar dari mobil. Papa dan kakak iparku yang berukuran cukup mini harus mengangkat mama, iya sih dibantuin tetangga juga, tetapi yang muda cuma kakak iparku satu itu,kasihan banget kan .. Sudahlah, jangan aku perpanjang lagi poin terakhir ini, aku yakin ketika kembali berinteraksi dengan anak kampus atau anak sekolah kebuang habislah pikiran aneh itu. Masalah rezeki, salah satunya jodoh, memang termasuk dalam zona wallahu’alam, jadi nikmati saja.


Kejadian yang tak mudah untuk dilupakan ini masih menyisakan sesuatu yang menyedihkan dan yang paling menyedihkan adalah aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada RAMADHAN. JIka RAMADHAN dapat berbicara, mungkin dia akan menanyakan di mana keberadaanku di 10 malam terakhir. Mungkin dia akan menyayangkan ketidakberadaanku di masjid-masjid ketika itu atau paling mungkin adalah dia tidak sudi mengucapkan sepatah kata pun bagi orang-orang yang tertinggal sepertiku, tentu saja karena dia tidak peduli. Walaupun Ramadhan tidak peduli, tetapi Allah sangat peduli. Perhatian Allah sangat luar biasa, Allah memberi cermin yang besar agar dapat kulihat jelas hikmah. Ramadhan 1432 H berlalu terlalu cepat, meski begitu aku merasakan sangat, esensi Ramadhan sesungguhnya, yaitu MENAHAN DIRI. Esensi inilah yang terus kucoba pertahankan dan akan ku gunakan untuk sedikit demi sedikit menghilangkan kekronisan “penyakit”-ku..semoga cepat sembuh