Kamis, 23 Agustus 2012

Mungkin Harapan

Kau datang ke rumahku tanpa bunga-bunga
Berbekal keberanian dan pinjaman motor tetangga
Kau ungkapkan lamaran kepada ayah bunda

Usia muda tak menjadikanmu putus asa
Demi mewujudkan niat suci nan mulia
Harta melimpah serta rumah mewah memang belum kau punya
Tetapi kutahu bahwa cintamu istimewa

: bukan sekadar cinta yang diperjuangkan Rama dan Sinta
  atau seperti cinta dramatis Remeo- Julia
Bagiku tak berguna pula iri dengan Galih dan Ratna
   yang telah menjalin cinta dari SMA

Karena cintamu itu adalah sebentuk cinta berbeda
Cinta yang tak sebatas untaian perhiasan dunia,
dengan harapan akan terus kita bawa hingga ke surga


22 Agustus 2012 ~FAL

Bukan Curhatan

Ya, Kamu..
Yang selalu mengaku mencintaiku selalu

Kapan kau datang mengetuk pintu rumahku?
bersilaturrahim kepada ayah-ibu
menyampaikan lamaran beserta meminta restu
agar akad nikah segera kita tuju.

Memang belumlah lama kita bertemu
Namun, bukankah hati kita telah menyatu?
Adakah beberapa hal dariku yang membuatmu ragu?

Janganlah karena mahar kau menjadi malu
Tentang rizki hanya Allah Yang Maha Tahu
Tegakah kau membuatku lebih lama menunggu
terdiam selayaknya beberapa waktu lalu
Sungguh, jika kau masih saja tergagu
...
Relakan aku membuka lembaran baru
serta mengubur dalam-dalam janjimu yang palsu



22 Agustus 2012, ~FAL

Tentang Pencarian Nafkah (sesi inti)

Masih haruskah mengedepankan idealistis dengan segenap egoistis dalam meraih rizki Allah?
Akankah berlaku hitung-hitungan akal dalam mengatur titian takdir Yang Maha Kuasa?

...
Suatu sore pada tanggal 13 Juli 2012, hari Jumat tepatnya saat itu, saya lesu sekali keluar dari sebuah mal di wilayah Jakarta Barat. Lesu bukan karena kecapean mengelilingi mal yang besar itu, bukan, melainkan hanya karena sebongkah kekecewaan. Kekecewaan yang berhasil mengubur harapan saya untuk sesegera mungkin dapat bekerja. Hari itu adalah hari pertama saya mengikuti job fair. Dari sanalah saya menyadari bahwa pekerjaan yang ditawarkan dalam job fair hampir 100% membuat saya ogah banget berstatus sebagai karyawan. Tidak heran dari puluhan perusahaan yang membuka lowongan, hanya satu saja yang saya singgahi. SATU saja dengan posisi yang umum, bahkan perusahaannya pun tidak bergerak dalam dunia yang saya ingini. 

Lantas, apakah saya menduga ternyata SATU perusahaan beserta posisi itulah yang saya geluti sampai saat  ini (hampir sebulan lamanya)? Sungguh, saya tidak menduga sejauh itu. Untuk mencapai waktu tiga minggu di perusahaan ini saja saya harus menjalani proses pendewasaan yang tidak mudah. Lebih tepatnya dikatakan proses pengikhlasan dan pengorbanan. 

...
Semenjak mengikuti job fair dan berakhir dengan kekecewaan. Saya mengandalkan pencarian kerja melalui situs lowongan kerja di internet. Tentu saja dengan lingkup spesifikasi yang saya inginkan. Empat sampai lima perusahaan dengan posisi yang diidam-idamkan saya kirimi CV beserta surat lamaran dengan format yang sudah tersedia. Beberapa hari setelah saya kirimkan CV, ponsel saya mendadak banyak panggilan dari nomor tak dikenal, tentu untuk wawancara, tes, dan sebagainya. Betapa bahagianya mengatahui bahwa perusahaan yang pertama kali merespon CV saya adalah perusahaan yang menawarkan posisi sebagai content writer. Perusahaan itu terletak di wilayah sibuk, Senayan. Akan tetapi, setelah saya mengkroscek lebih lanjut, ternyata sudah banyak kasus penipuan yang dialami calon pelamar kerja di perusahan itu. Alhasil, saya pun membatalkan niat untuk mendatangi kantor tersebut, maklum masih cari aman. 

Ada pula perusahaan yang bergerak di bidang periklanan yang menjadi fokus saya setelah melupakan posisi content writer. Perusahaan itu cukup terkenal sehingga saya tidak terlalu memikirkan posisi yang sesuai dengan harapan "idealis". Saya semakin tertantang dengan proses penerimaan final perusahaan tersebut yang tidak mudah. Tes psikotesnya saja sangat menguras pikiran, tangan, ketelitian, dan kecepatan. Mantaplah, Plan A saya adalah perusahaan periklanan tersebut. Namun, setelah seminggu psikotes, panggilan lanjutan tak lagi ada, sedangkan perusahaan SATU temuan dari job fair kian serius. Sangat serius.

Saya kemudian pesimistis diterima di perusahaan periklanan itu. Jadi, saya segera menyiapkan berkas-berkas untuk finalisasi di perusahaan SATU temuan dari job fair, dapatlah dikatakan setengah hati. Akan tetapi, tubuh  ini terlalu busuk untuk sekadar teronggok di dalam rumah. Bismillah.. sebagai batu loncatan pertama saja. Tepat tanggal 31 Juli 2012, dengan membawa berkas lengkap finalisasi, sekitar pukul setengah lima sore, kontrak kerja pun saya tanda tangani. Apakah saya sadar saat itu? Tentu saja sadar, hanya saja saya tidak merasa bahagia selayaknya orang yang pertama kali diterima kerja secara profesional. Saya merasa biasa saja. Mungkin karena saya masih menyimpan rapi keidealisan dalam hati saya. 

Beberapa hari bekerja, saya jenuh. Hati saya selalu berontak, begini katanya, "Bete banget ini kerjaan, aku ga sesuai sama pekerjaan ini, sabtu-minggu ga libur, haduuh." Tiba-tiba perusahaan periklanan yang telah dua minggu mendiamkan saya, meminta saya untuk kembali datang untuk wawancara lanjutan. Ahaa.. senangnya. Ini nih memang jatah saya. Saya berpikir plan A masih dapat terlaksana.

...
Namun, Allah menginginkan lain.
Saya harus menjinakkan keegoisan saya, memberi kelapangan kepada jiwa untuk mengenal arti IKHLAS.
Sampai akhirnya saya tahu bahwa yang saya ikhlaskan dan yang saya korbankan hanyalah sebuah keidealisan yang harus berubah menjadi kebermanfaatan. Proses pendewasaan ini ternyata belumlah seberapa, jadi Allah ingin saya belajar lebih, BELAJAR lebih. 


~Fitri Apriliani Lestari

Minggu, 19 Agustus 2012

TENTANG PENCARIAN NAFKAH (prolog)

Saya masih teringat pernyataan seorang teman kampus beberapa pekan sebelum saya ujian skripsi (baca: sidang). Dia berkata begini kira-kira, "Ngapain cepet-cepet lulus kalo belum jelas rencana setelah lulus!"

Pernyataan itu keluar dari mulutnya setelah dia mengajukan pertanyaan tentang rencana saya setelah lulus. Jawaban saya saat itu  memang tidak memuaskan baginya, terlalu tidak jelas mungkin rencana saya. Kalau boleh berkata jujur sih, agak tidak rela cepat-cepat melepas status mahasiswa. Bagaimana tidak, jadi mahasiswa itu enak, penuh mimpi-mimpi indah nan idealis, serta strata yang paling nyaman menurut saya. Akan tetapi, amat egois jika mau berlama-lama menjadi mahasiswa. Dunia realita telah menunggu. Si Kakak yang membiayai ongkos pun telah berkoar-koar supaya saya cepat lulus. 

Teman-teman kuliah bahkan pembimbing skripsi pun menyangka rencana saya pascakampus adalah "langsung" menikah. Lelaki malang mana yang mau menikahi saya saat-saat ini? Itu suara batin saya. Bukan, bukan. Bukan pernikahan yang ada di benak jangka pendek saya setelah menjadi sarjana. Cuma terlintas satu rencana, yaitu KERJA! Belum terpikirkan saat itu pekerjaan macam apa yang saya akan tekuni. Idealnya sih di area perbahasaan, entah itu menjadi guru bahasa (seperti yang dianggap para teman atau adik kelas di SMA), editor, tulis-menulis, atau dunia jurnalistik. Namun, saya merasa dunia kerja itu tidak harus seideal dunia kampus, saya pun membuka peluang untuk belajar dunia yang baru. 

Saya sudah pernah berkecimpung di dunia pendidikan. Walaupun hanya sebagai guru bimbel atau privat, saya setidaknya tahu formula pengajaran yang baik itu seperti apa. Lebih banyak sedihnya jadi pengajar bimbel bahasa Indonesia itu. Sakit hati pokoknya. Visi bimbel dengan visi saya sebagai pendidik bahasa dan kebudayaan Indonesia tidak menyatu. Oleh karena itu, mencoba hal baru adalah pilihan yang lebih baik.

Lalu saat ini.. saya menemukan keluarga baru di tempat kerja dengan segala realita kehidupan yang sederhana dan... begitulah. Sebuah pekerjaan yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Pekerjaan yang kembali mempertemukan saya dengan bidang IPA. 

Cinta itu tak terletak pada kesan pertama karena cinta itu adalah proses. Proses pembelajaran untuk mencintai seikhlas hati.


Senin, 2 Syawal 1433 H

Minggu, 22 Juli 2012

Ada Pelajaran Dalam Setiap Pertemuan

Hari ini, Ahad, 22 Juli 2012, beberapa jam lalu, saya dan kelima teman serta satu senior berkunjung ke rumah salah satu guru ketika SMA. Bahasa kerennya silaturrahim. Sebutlah bukan silaturrahim biasa bagi kami karena dilakukan di awal Ramadhan, selain ada misi khusus (mungkin dapat dikatakan begitu).

Janji berkumpul di depan sebuah SMA Negeri pukul 09.30 dan baru sampai di rumah si Pak guru sekitar pukul 10.30. Hampir tiga setengah jam kami berbincang dengan si Pak guru yang memang aktif berbicara (hihi), tapi tidak ada setengah waktu tersebut membicarakan sebuah misi yang kami bawa. Lagi pula agak garing dan kurang etis jika to the point. Pertama-tama si Pak guru menanyakan rumah kami di mana serta pernyataan-pernyataan ringanlah intinya. Kemudian dilajutkan dengan kabar-kabar para guru di sekolah saya : siapa yang pensiun, siapa yang baru, dan siapa yang lainnya.

Pada awal pembicaraan entah kenapa si teman-teman banyak pasifnya (padahal biasanya..), jadilah kakak senior yang menyetir arah pembicaraan. Pokoknya dari segala pembicaraan itu saya memperhatikan banyak nama yang disebut si Pak guru seolah-olah kami kenal dengan nama tersebut, padahal sih tidak. Isi pembicaraan didominasi oleh sistem pendidikan di Indonesia, birokrasi yang merumitkan, dan sedikit banyak berdampak ke kondisi SMA 78 (uuppss..keceplosan). 

Oia, di rumah si Pak guru juga ada istrinya yang menjelang akhir pertemuan intens bergabung dalam pembicaraan kami. Salah satu yang baru saya ketahui adalah si Pak guru dari suku Sunda dan istrinya dari Betawi. Menurut saya hal itu unik. Apakah uniknya? Sang istri berbicara masih medok sekali Betawinya, sedangkan si Pak guru masih cukup kental dengan kesundaannya. Ini berarti satu sama lain tidak saling mendominasi dan menurut saya itu positif banget.

Langsung saya ringkas saja deh pelajaran yang saya tangkap dari pertemuan tadi:
1. Semakin yakin kalau pada dasarnya orang Indonesia itu senang ngobrol secara langsung (face to face). Hal ini juga menandakan keramahan dan keterbukaan orang Indonesia secara umum.
2. Patut digarisbawahi ternyata tidak hanya perempuan yang senang cerita ngarul-ngidul, laki-laki pun juga senang. 
3. Pendidikan di Indonesia sudah terbukti kronis, bahkan gurunya sendiri memilih cepat-cepat pensiun karena pusing memikirkan pendidikan kedepannya.
4. Orangtua itu tetaplah orangtua, sekejam-kejamnya kita menilai mereka, sebenarnya itu bentuk perhatian mereka yang mungkin tidak terterima dengan baik oleh kita. 
5. Jadi guru itu banyak berkahnya karena ilmu jika dibagi tidak akan habis, malah makin bertambah. Kemudian, kita tidak akan menyangka beberapa tahun kemudian murid-murid yang kita diajarkan sudah menjadi "orang". *(Sayangnya, saya tidak mau sekadar menjadi seorang guru, saya mau memiliki sekaligus berkuasa di sekolah, hihi).
6. Pernikahan Sunda-Betawi unik kok... tapi bagi saya kurang menantang, abis kedeketan kalo cuma mudik ke Jawa Barat. *haduuuh (tetep, ngarep lelaki seberang pulau,hoho)

~perjalanan dengan Budi, Ghun, K Fadil, Anun, Lili, dan Dayoh ke rumah Pak O Haswari di wilayah Srengseng.

LELAKI ITU


Lelaki itu…
Seorang lelaki yang sering saya jumpai di dalam mimpi. Entah, kenapa harus dia? Apakah masih terlalu dalam lukaku saat beberapa tahun lalu dia “mempermainkan” hatiku sehingga mimpi itu merupakan perwujudan dari benci… ataukah… rindu? Ya, kenapa harus dia?

Lelaki itu…
Dengan penuh perhatian dia menanyakan sejumlah kabar berita saat kutak mampu melangkahkan kaki ke tempat menimba ilmu. Setiap hari, sepanjang malam, pembicaraan melalui SMS kita lakukan. Kata-kata motivasi, pernyataan penuh hikmah dia sampaikan pula melalui SMS. Aku semakin tidak mengerti dan tidak sadar dengan perasaanku terhadap lelaki itu. Lalu, munculah pertanyaan dalam hati kecilku, apakah dia menyampaikan bentuk perhatian kepada semua teman peremuannya? Jika memang iya, berarti tiada yang spesial dari SMS lelaki itu bagiku. Akan tetapi, jika tidak, mungkinkah dia menaruh perasaan kepadaku? Aahh.. aku sangsi terhadap perasaannya.

Lelaki itu..
Aneh. Jika saling berhadapan langsung tidak pernah salah satu dari kami berani membuka pembicaraan selayaknya saat SMS. Apa-apaan ini semua. Aku pun semakin tidak mengerti. Begitu seringnya kami bercakap-cakap dari urusan umum sampai urusan khusus sampai aku sangat hapal pukul berapa dia akan meng-SMS-ku. Kami tidak pernah saling mengakui hubungan apa yang kami bangun, tapi menurutku hanya sebatas teman saja. Oh.. bukan, dia selalu menamai dirinya adalah sahabat atau saudaraku.  Itu saja. Namun, hatiku ada rasa terhadapnya—rasa yang berbeda—saat   itu.

Lelaki itu…
Kurasa merasakan hal yang sama terhadapku. Sayangnya, dia tak mengungkapkannya. Betulkah? Begitu percaya diri aku ini menganggap lelaki itu mempunyai sejumput rasa cinta untukku. Ya, hanya sejumput cinta yang dia ragukan. Mungkin. Tidak pasti dan sampai kapan pun tidak akan kuketahui kebenarannya, kecuali jika dia ternyata jodohku suatu hari nanti. Seandainya dia jodohku sekalipun, mungkin saja dia tidak ingat puluhan malam yang dia habiskan untuk berbincang denganku melalui SMS, saat itu.

Lelaki itu…
Dia berhasil menjadi lelaki pertama yang menggegerkan hatiku dan lelaki pertama yang menyibukkanku untuk membangunkannya salat sebelum waktu subuh. Harus kuakui, aku tidak bangga terhadap itu semua, bahkan sebaliknya, aku merasa malu. Kemudian, pembicaraan kami semakin jarang, entah siapa yang menghentikan, akhirnya pun tiada lagi pembicaraan antara kami. Seolah tiada kenangan apa pun yang membekas. Ya, memang seharusnya tidak ada bekas apa pun juga karena saat ini kami masih berteman. Teman biasa.

Lelaki itu..
Aku yakin dia kini sudah bahagia dengan dunianya. Syukurlah, dia mampu menyimpan pembicaraan lama kami sehingga tak perlu diketahui siapa pun. Aku pun demikian. Sampai suatu ketika, dia menyatakan sesuatu yang menyiratkan pembenaran perasaannya terhadap diriku. Hal itu setelah sekian lama permbicaraan SMS kami terhenti. Namun, sudahlah, toh itu sudah berlangsung cukup lama dari hari ini. Aku yakin, jalan kami berbeda dan tidak saling mempertemukan kedua hati. Dia pun telah sibuk dan bahagia dengan dunianya.  

Lelaki itu..
Kenapa dia yang ada di mimpiku saat ku merasa jatuh? Walau harus kuakui rasaku padanya semakin jauh. Lalu, mengapa lelaki itu?

Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, bersahabat denganmu adalah kesempatan, tapi menjadi saudaramu adalah kebahagiaan, dan melihatmu bahagia adalah kegembiraan yang tiada bernilai!

 
Untuk lelaki itu:
Jika takdir yang mempertemukan kita, takdir pulalah yang memisahkan kita, dan aku sungguh banyak belajar menjaga hati semenjak pembicaraan denganmu itu, Terima kasih, kawan!

2 Ramadhan 1433 H

IQRA


Bismillah..

Ramadhan tahun ini insya Allah saya akan maksimalkan untuk “membaca”. Sungguh sayang seribu sayang apabila kita hanya menjalankan rutinitas tahunan dalam mengisi hari-hari penuh cinta Allah di bulan ini tanpa menangkap hikmah dari apa-apa yang “dituliskan” Allah.

Seperti orang-orang lainnya, bacaan wajib—terutama—di bulan Ramadhan adalah Quran. Namun, sungguh banyak hal yang dapat kita baca dari kehidupan sehari-hari kita. Itulah pentingnya membaca Quran dalam mengarungi “pembacaan” kehidupan, yaitu supaya kita tidak tersesat. Apabila kita sekadar “sok tahu” membaca kehidupan tanpa landasan Quran bersiaplah untuk tersesat dan bertanya-tanya. Begitu pula sebaliknya, jika kita rajin membaca Quran tanpa mau berusaha membaca kehidupan, bersiaplah hidup tanpa amal dan penuh kemubaziran. 

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Quran. Semoga kita menjadi individu yang tidak sekadar mampu membaca huruf-huruf atau lafaz Quran, tetapi juga mampu mengaplikasikan apa yang diturunkan Allah sebagai petunjuk manusia dengan cara “membaca” kehidupan. Lalu apakah bunyi ayat pertama yang diturunkan ke bumi? Iqra’. Bacalah!


2 Ramadhan 1433 H