Sabtu, 01 Desember 2012

Menulis (lagi)

Saya memang bukan penulis profesional. Akan tetapi, saya sangat menggemari tulisan dan bercita-cita punya tulisan mandiri. Jika tulisan saya yang tercecer dari beberapa tahun lalu disatukan, mungkin sekarang sudah jadi beberapa jilid buku (tentu saja harus diedit plus-plus dulu sebelumnya, hahai). Menulis itu sebaiknya memang tidak ada tuntutan macam-macam. Kenapa? Ya karena dengan begitu akan memudahkan kita untuk menulis dan tidak menjadikan aktivitas "menulis" sebagai beban. Oleh karena itu, untuk jadi penulis kayaknya harus punya ke-PEDE-an yang tinggi. Menulislah sesuai kemampuan kita, seenaknya kita menyampaikan ide, tanpa harus mengingat rambu-rambu penulisan. Bagi saya inti menulis itu cuma butuh satu sikap, yaitu jujur, selebihnya akan ngikut nantinya. 

Kok saya agak sok tahu tingkat dewa gini ya? Ah, tidak masalah, yang penting saya selalu menikmati tulisan saya seburuk apa pun itu. Ciri-ciri menikmati tulisan sendiri adalah ketika kita baca ulang tulisan kita di kemudian hari, terdengar sayup-sayup hati kecil berkata, "Kok gue bisa nulis kayak begini yah?", atau jika yang kita tulis sebuah karya sastrawi (puisi sih kebanyakan), hati kecil kita akan berkata, "Ini maksudnya apaan siy, kok gue yang bikin aja ga ngerti. Beneran nih, puisi ini gue yang nulis?"

Nah, jadi nulis aja deh dulu dengan kejujuran, resapi tiap huruf yang berbaris rapi membentuk bangunan-bangunan kalimat serta paragraf. Menulislah maka kita ada. Menulislah untuk menciptakan jejak-jejak sejarah hidup kita, walau itu sederhana. 



oleh Fitri Apriliani Lestari
Alumni Prodi Indonesia UI 
yang sekarang hanya karyawan biasa penggemar sastra
_2 Desember 2012

Ketika Kembali

Ternyata...
menjauh darimu tidak memerlukan banyak waktu
pikirku dapat bertahan sejenak untuk menjaga jarak,
malah kudapati hatiku kian menjadi retak.
Mimpi-mimpi, impian, serta harap
lama kelamaan semakin hilang menguap,
seiring adanya diriku di sini menetap.

Segala kehampaan jiwa bukan tanpa sebab
tidakkah kau tahu hanya ada satu jawab,
yaitu: engkau!
Tubuhmu yang tak lagi dapat kudekap
Harum aromamu yang semakin sulit kuhisap
Teduh matamu yang jauhlah 'tuk kutatap

Aku ingin kembali,
telah kusiapkan segenap kekuatan untuk berlari
memeluk erat dirimu dan tak rela kulepas lagi
Aku tahu segalanya itu penuh konsekuensi
karena akulah yang pertama bergegas pergi
lalu sekarang aku pula yang merengek 'tuk kembali
meski kau hujaniku dengan umpatan kecewa serta caci maki,
senyuman sinis, dan juga sejumput rasa benci,
yakinlah aku tetap setia di hadapanmu menanti,
menanti untaian kata yang kau ucap dengan hati-hati
: "Dirimu pergi memang untuk kembali karena akulah yang kau cintai."


2 Desember 2012
_bukan tentang siapa

Aku = Pilihanmu

Pasti kamu menyangka aku berubah ya?
Setelah terbawa emosi sesaat untuk menjauh darimu serta dengan keras kepala berjanji sanggup bertahan tanpa dirimu, lalu sekarang apa?

Tiba-tiba.. menjauh sebentar saja darimu, satu per satu bagianku menghilang.
Dalam beberapa hari aku terbakar, segera ingin berlari seolah dikebiri oleh kenyataan yang jauh dari mimpi.
Sebulan setelah itu, aku merasa mulai terbiasa dan segala hal dapat kuhadapi sempurna.
Bulan berikutnya tantangan semakin tak ternikmati, mencoba sekuat hati berdiri walau jiwaku habis tanpa isi.
Ya, aku bertahan dengan tambalan-tambalan hati yang aku pun tiada dapat mengerti
Mungkin inilah buah dari pengharapan atau azab dari kekecewaan?
Mulailah aku kian tersesat dengan berbagai arti.
Haruskah kutampung sementara semua hasrat agar mampu memperhatikanmu di sini dengan cermat
atau lebih baik kuberlari meluapkan hasrat terdalam 'tuk menggapaimu sampai dapat?

Katakan, apa yang kaupilihkan untukku, "'Bertahanlah,' atau 'Kembalilah'"?


2 Desember 2012
_ini bukan tentang siapa

Senin, 26 November 2012

Surat Penyerahan

Yang Tersayang
kamu, si perusak hatiku


Sekian banyak hari telah kulewati bersamamu. Tawa renyah, tangis riuh terekam dalam kebersamaan kita. Surat-surat darimu yang menanyakan keadaanku pun masih tersimpan rapi di laci meja kerjaku. Semua. Semua tentang dirimu tak kan pernah tersilap olehku. 

Selama ini aku pikir dirimu jatuh cinta. Jatuh cinta kepadaku. 

Apa daya, ternyata aku hanya tong sampah kesendirianmu sampai tiba kebersamaanmu dengan yang lain. Ya, dengan yang lain. Bukan denganku. Oleh karena itu, telah habislah ruang untukmu membuang sampah di tong-ku. Kini, petugas kebersihan bergegas mengangkut sampah beserta tongnya (karena telah lusuh) ke tempat pembungan akhir. Selayaknya tong yang tiada daya, maka dia pun menyerah.


aku,


_26 November 2012

Minggu, 25 November 2012

Apalah Arti Sebuah Mimpi

Mimpi sebenarnya berarti apa?
Apa memang benar bunga tidur?
Jadi, intinya segala hal yang kita harapkan tervisualisasikan lewat mimpi, begitu?

Saya sama sekali tidak dapat memahami ke arah mana arti sebuah mimpi. Alasannya jelas, karena saya bukanlah seorang penafsir mimpi. Namun, selama ini mimpi seolah-olah dijadikan pertanda, rujukan, dan jalan keluar. Lalu tiba-tiba ada profesi baru, yaitu "peramal" atau sebutlah "cenayang" dalam hal mimpi. Hati-hati, mungkin kita termasuk orang yang berprofesi sama. Ya, walau mungkin hanya meramal mimpi kita masing-masing.

Bagi saya, mimpi yang akan menjadi kebenaran hanya mimpi para Rasul. Rasul terhandal serta termahir menafsirkan mimpi, cukup Nabi Yusuf. Alangkah lucunya jika saat ini masih terjebak dengan ungkapan-ungkapan terkait mimpi, salah satunya, "Kalau mimpi solat berarti sebentar lagi meninggal". Waduh, hebat banget kesesatan dari tafsiran mimpi tersebut. Masih banyak lagi ungkapan kuno serta menyesatkan terkait tafsir atau arti sebuah mimpi.

Ada pula (katanya) penelitian terbaru yang lebih logis serta ilmiah. Mimpi diartikan sebagai perwujudan perasaan yang tidak tersampaikan. Perasaan itu banyak macam: kangen, cinta, rindu, pengen ketemu, tak sabar berjumpa, *lholholho, sama aja ini semua*. Terhadap (yang katanya) penelitian terbaru tersebut, saya juga tidak percaya. Saya pun sering memimpikan banyak orang yang tidak saya kangeni. Seringkali ketika bangun tidur saya cuma heran, lagi ga mikirin orang itu, orang itu, dan yang itu, kenapa bisa ada di mimpi saya?

Berarti mimpi itu dari manakah berasal? 

_biarkan tanya menggantung di udara

Senin, 26 November 2012

Jumat, 16 November 2012

Rabu, 14 November 2012

SURAT PENGUNDURAN DIRI

Saya menuliskan surat ini tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap Anda. Begitu banyak pembelajaran yang saya dapatkan selama saya berinteraksi dengan Anda. Akan tetapi, saya rasa cukup sampai detik ini saja. Biarlah hubungan kerja sama kita diakhiri secepatnya karena saya harus bergegas pergi. Pergi untuk menegoisasikan hubungan bilateral lain yang lebih istimewa. Tidak, tidak. Bukan karena  menginginkan permata yang tidak Anda berikan dalam kerja sama kita. Bukan pula karena tahta bertaburan kuasa yang pihak lain tawarkan kepada saya.

Beribu alasan mana pun mungkin tiada dapat membuat Anda mengerti. Saya hanya ingin mengakhiri kehidupan lama saya. Saya ingin meggantinya dengan kenyamanan hingga akhir masa. Jadi, tolong jangan hubungi saya lagi. Carilah rekan kerja Anda yang setia. Setia menjadi "budak" Anda.

From: mantan temanmu
To: kemalasan

_15 November 2012/ 1 Muharram 1434 H_