Minggu, 05 Mei 2013

Sharing grooming

"Ya, saya seorang muslimah, berjilbab, dan berbeda."

Ada apa dengan sebaris kalimat tersebut? Sebut saja sebuah komitmen ulang atau penegasan. Sebuah ungkapan pembela. Pembela diri dari segala betuk kemaksiatan dan kenistaan yang orang kafir hembuskan terhadap para muslimah.

Ungkapan ini terinspirasi dari sebuah memo yang baru saya baca. Memo yang berisi peraturan baru perusahaan tentang grooming. Saya sadar betul bekerja di perusahaan retail yang mengharuskan karyawannya berinteraksi langsung dengan customer ,para karyawan wajib menjaga penampilan sebaik mungkin. Namun, bagi saya, ada beberapa poin tentang grooming yang berlebihan dan tidak sesuai bagi muslimah "yang berbeda".

Masalah seragam. Sejak masuk ke dalam perusahaan, kami hanya mendapat seragam ala dokter berwarna putih. Untuk muslimah tidak diberikan jilbab berwarna khusus sebagai seragam. Jadi, untuk apa tiba-tiba ada peraturan yang mengharuskan jilbab berwarna putih serta harus memasukkan ujung jilbab ke dalam kemeja. Memasukkan ujung jilbab ke dalam kemeja= memasukkan jilbab ke dalam pakaian, betul demikian?

Hal berikutnya adalah tidak disarankan menggunakan rok panjang karena dapat mengganggu pekejaan. Haaah? Apakah sudah dilakukan survey terhadap hal tersebut. Jika ranah pekerjaan yang bersangkutan adalah polwan lalu lintas atau tentara militer wanita mungkin memang bisa mengganggu. Akan tetapi, pekerjaan di apotek yang seperti apa yang dapat mengganggu jika memakai rok panjang?

Sabtu, 04 Mei 2013

Percikan di Sebuah Masjid

Sepasang sepatu ungu itu hanya sendiri. Ditinggalkan kawan-kawannya yang baru saja pergi. Pasrah ia menahan gempuran panas matahari tanpa teman bicara. Dia tahu yang menyelamatkannya dari kesendiriannya adalah seruan azan Zuhur. Menantilah ia dengan sabarnya.

050513_Masjid At Taqwa

Jumat, 03 Mei 2013

Kisah Fitri di Apotek

Agak alay banget memang judul postingan ini. Maksud hati ingin serupa judul lagu chrisye: Kisah Kasih di Sekolah. Tapi apa daya, nama dan tempat harus disamarkan, hehehe.

Banyak kisah yang saya dapat dari pekerjaan yang sangat "wow" ini. Maklum, ranah pendidikan saya tidak sejalan dengan pekerjaan sekarang. Yang tadinya terdidik "absurd" di kampus, di kerjaan harus seriurd, eh, serius maksudnya. Oleh karena itu, terjadilah banyak kebodohan sederhana yang saya buat di apotek. Kenapa saya sebut kebodohan sederhana? Karena tidak sampai merugikan orang lain, paling saya yang diomel-omelin dikit atau diketawain.

Hal yang umumnya terjadi dan sering sekali adalah salah dengar nama obat. Ini wajar seharusnya, karena pengetahuan saya tentang obat-obatan minim, banget! Bukan hanya itu, jumlah obat yang banyak tentu saja membuat diri ini kerepotan menghapalnya. Waktu saya baru masuk beberapa hari, ada customer yang mencari lacbon (obat diare), eh, saya dengarnya lakban (perekat) terus saya ulang ke bapaknya begini, "Lakban? Ga ada, Pak, coba cari di Indomaret."

Tentu saja si bapak ngomong lebih keras sambil ketawa, "Lacbon mba, bukan lakban."'

Hahaay. Ya sudah pasrah diketawain seisi apotek. Teman saya sampai geli sendiri.

Tidak aneh jika baru masuk masih salah. Nah, tapi, ketika sudah berbulan-bulan kerja di apotek saya masih saja salah-salah dengar, eemm.. Sepertinya memang pendengaran saya perlu perhatian lebih (mau bilang bolot aja disebut butuh perhatian lebih, hehe). Contoh kebolotan saya terjadi hari ini, baru saja, Ibu-ibu datang menyebut nama sebuah obat yang sependengaran saya adalah Tremenza. Tremenza memang tergolong obat batuk tingkat "dewa" yang sudah lama kosong. Langsung saja saya bilang, "Obatnya kosong, Bu."

Lalu si ibu ingin cek harganya. Ya sudah saya cari sambil ngomong, "Kalo tremenza itu,..."

Nah, si ibu langsung menyela dan bilang, "Promensil, mba, bukan yang mba sebut." Ibunya pun memperlihatkan resepnya ke saya. Astaghfirullah. Kuping saya lagi ngelaba kemana tadi, dari promensil kok jadi tremenza. >_<


4 Mei'13_di apotek

Jumat, 19 April 2013

Sabtu, 06 April 2013

HABITS

Hari ini saya memang berencana beli buku tentang pengembangan karakter di Gramedia, lebih khususnya mengenai karakter anak. Dari beberapa hari yang lalu saya sudah tahu buku apa yang harus saya beli, tapi ternyata tidak ketemu dan saya malah asyik numpang baca buku judul lain. Buku itu masih berhubungan dengan karakter atau sebutlah habits. Saya lupa judul bukunya, tapi penulis buku tersebut bernama Felix Siauw. Mungkin nama itu memang tidak asing lagi, bahkan beberapa teman saya pun menggandrungi beliau. Jadi, saya tidak perlu berpanjang kata mengenai latar belakang tokoh penulis tersebut.

Ada beberapa inti pokok tentang habits yang ingin saya kemukan dari pembacaan gratisan buku penuh makna tersebut. Yang paling teringat di kepala saya adalah dua kata kunci penting: exercise & repeating. Ya, untuk membentuk habits maka berlatihlah kemudian diulang terus-menerus. Dengan begitu akan terbentuklah "diri kita" yang baru.

Segala sesuatu yang baru kita mulai pasti terasa asing, terasa berat, seolah dengan mudah kita menyerah dan berkata tidak mampu. Terlebih lagi yang ingin kita bentuk adalah habits positif, pasti semakin banyak ujian yang tak lelah menghadang. Lantas bagaimana cara kita untuk bertahan dan terus memperjuangkan habits baru itu?
Tidak ada cara lain selain tetap mengerjakan latihan dan pengulangan tersebut sampai alam tak sadar kita yang mengambil alih tugas, walau dalam keadaan terpaksa sekali pun. Contoh mudah adalah solat. Ketika sedari kecil kita disuruh secara paksa untuk solat dan hal itu dilakukan setiap hari oleh orang tua kita, maka apa yang terjadi dengan kita setelah beranjak dewasa? Ya, akhirnya kita terbiasa untuk melakukan solat, tanpa harus lagi diteriaki orang tua.

Di dalam bukunya, Felix Siauw memaparkan cara untuk "meneguhkan" komitmen kita untuk membentuk habits. Hal yang paling dasar adalah senantiasa menanyakan kepada diri kita sendiri mengenai 3 hal dalam hidup ini: What, Why, How.
Selanjutnya tuliskan keinginan "habits" kita dan jangan menargetkan terlalu tinggi, karena kita akan cepat lelah atau bosan. Ingat, kita akan melakukan pengulangan. Felix Siauw menetapkan waktu 30 hari untuk melakukan pengulangan.

Sekian saja, saatnya take action!


_di apotek kala hujan_060413

Kamis, 04 April 2013

TENTANG SAYA VERSI 2

Saya sejak lama tak mengintip blog ini. Sampai lupa percikan kata apa yang sudah saya buat di sini. Ternyata begitu cepat putaran waktu berganti. Meninggalkan seonggok saya yang lama.

Hal terlucu yang ternyata masih tertulis di blog ini ada di bagian "tentang saya". Sekarang saya bukan lagi mahasiswa FIB UI karena sudah lama lulus. Bukan lagi seorang yang sering bolak-balik ke sekolah, walaupun pengen. Namun, saya yang sekarang masih ada kesamaan dengan yang dulu: rapuh!

Meskipun rapuh, harus tetap bermimpi selalu. Rapuh tak selamanya rela terjatuh sampai waktu terus menjauh.

Saya hari ini penuh dualisme. Tidak masalah karena ada yang akan selalu satu. Sang Maha yang tidak pernah berubah: selalu memberi yang dibutuhkan oleh hamba-Nya.


_040413

SEPI

Sudah berapa kali pintu itu diketuk
Berulang, bertubi-tubi

Namun, masih saja sama
Tiada gerak yang hendak siap membuka
Begitu kosongkah?
Atau setidakpedulikah?

_040413