Minggu, 06 Oktober 2013

Hilangkan Sesal

Ketika tiada baru terasa...

Ungkapan itu adalah suatu hal yang dalam bahasa umumnya kita sebut penyesalan. Ketika dulu sering ketemu dimaki-maki, saat sudah berjauhan dicari-cari. Itulah manusia. Bunyinya mulut mencerca, tapi bunyinya hati mencinta.
        Boleh dikatakan manusia kebanyakan tidak bersyukur dan kurang jujur. Mungkin itu juga penyebab terjadinya penyesalan. Akan tetapi, bisa saja awalnya memang tidak sreg, karena dipaksakan dengan kondisi tersebut, akhirnya terbiasa, lalu merasa ada yang hilang. Tidak salah memang pepatah yang berbunyi ala bisa, karena biasa. 
        Inti dari semua itu adalah sebagai manusia yang terbatas ilmunya, kita harus jauhi sikap takabur dan sombong. Kita tidak patut mendahului takdir Allah. Oleh karena itu, jangan pernah berkata tidak bisa, benci, tidak cocok, dan kata-kata negatif lain. Cukup dijalankan dengan bismillah dan yakin kepada Allah. Nanti Allah yang bukakan jalan.

Sebenarnya menyesal atau tidaknya kita, terletak dari pikiran kita masing-masing. Yang menjadi titik tekan bukan penyesalan itu sendiri, melainkan cara kita menyikapi penyesalan. Sungguh, kitalah yang harus mengatur situasi pikiran dan perasaan kita agar tidak terperosok jatuh  dalam lubang penyesalan.
         Saat kita kehilangan orang yang kita cintai, misalnya salah satu anggota keluarga tutup usia, lalu kita menyesal belum memberikan yang terbaik, lantas bagaimana? Bagaimana cara "melampiaskan" rasa sesal sehingga berganti dengan keberkahan bagi orang tersebut dan bagi kita yang ditinggalkan. Sisi positif itu yang harus kita tanamkan. Rasa sedih dan kehilangan adalah hal yang wajar, itu pasti kita rasakan, tetapi putus asa atas rahmat Allah adalah kebodohan. Bukankah itu makna yang Allah sampaikan terkait, innalillahi wa inna 'ilaihi raaji'un.

wallahu'alam


@ruang
_6 okt'13_ 19.35

Sabtu, 05 Oktober 2013

Sepotong Daster

Entah kenapa ingin sekali menulis tentang sepotong daster. Daster batik yang baru saja kubeli disangka mirip nian dengan pakaian "emak-emak". Aku pun tidak terlalu menggubris karena memang aku menyukai pakaian ini (baca: daster). Tidak biasa aku menginginkan sebuah pakaian seperti saat aku menginginkan daster. Aku merasa harus sekali membeli segera.
        Pakaian ini tidaklah terlihat istimewa bila dipandang oleh manusia pada umumnya. Namun, aku membutuhkannya demi kenyamanan. Nyaman saat melepas lelah dan nyaman pula jika tiba-tiba harus bertemu "orang lain" ketika waktu malam. Coba kalau pakai piyama atau baju tidur two-pieces, bisa ribet pakai rok dll jika tamu datang malam-malam. Daster juga sedikit mengingatkanku arti rumah. Sederhana, nyaman, dan apa adanya. Setidaknya itulah pendapatku.

Mungkin cerita daster ini bukan sekadar kesukaan terhadap benda,melainkan tersirat makna lain yang ingin segera pula kucapai. Daster hanya "sarana" atas pemikiranku yang sederhana. Walau tidak sesederhana masa depan yang kelak kulalui.


@ruang
_5 okt'13_ 23.19

Banyak Jalan Untuk Berjuang

Senang rasanya membaca blog para pemuda-pemudi (teenagers) yang mampu menjadikan blognya sebagai catatan. Catatan training, catatan kuliah, catatan dauroh, catatan kajian, dan catatan lainnya yang diolah dengan runut dan ciamik sehingga pembaca  mendapat pembelajaran pula. Luar biasa!
         Seandainya saya pun dapat seperti itu pula sedari dulu. Ah.. bukan saatnya berandai-andai yah. Saya, anda, dan kita mampu untuk melakukan perubahan tanpa pengandaian. Terlambat itu bukan alasan untuk "angkat-tangan" tanda menyerah dan pasrah pada kenyataan serta merta. Allah Maha Mengetahui niat-niat yang kita usahakan untuk terealisasikan. Keinginan saya pun tidak hanya satu itu, banyak. Jadi, marilah bersungguh-sungguh dalam berjuang. Berjuang dengan cara yang kita kuasai: karya tulis, blog, gambar, organisasi, harta-benda, jiwa raga, dan lainnya. Berjuang untuk memantaskan diri sebagai umat terbaik-Nya.

Dimulai dari diri sendiri, dari yang terkecil, dan mulailah saat ini. Now or never. Bismillah.


@ruang
_5 okt'13_ 20.42

Jumat, 04 Oktober 2013

Semangkuk Kebersamaan

Hari itu adalah hari yang sudah direncanakan oleh kami. Ya, kami, keempat pendidik sekaligus pembelajar di SDIT Al Kawaakib. Hari itu tertulis di kalender adalah Kamis, bertanggal 4 Oktober 2013. Rencana kami adalah menyelesaikan tugas penilaian para bintang sebelum pengambilan rapor mid-semester. Lantas, kebersamaan itu bukan sekadar tugas "kenegaraan" bagi Kawaakib, melainkan tugas "kehidupan" bagi kami. Apa sebenarnya tugas "kehidupan" itu?

Saya mungkin tidak berlebihan menamai kebersamaan kami sebagai tugas "kehidupan" karena di hari itu tercecerlah banyak hikmah. Hikmah yang kami ambil dari kehidupan kami masing-masing yang pasti Allah berikan agar kami belajar. Belajar untuk menjalani kehidupan kami sebagai umat terbaik-Nya. Itulah tugas "kehidupan".

Dari kami berempat, terdapat satu orang pendidik yang membeberkan paling banyak hikmah dari kehidupannya, beliau saya sebut saja di sini ustadzah Yan. Beliau memang paling senior dalam pendidikan dan paling lama tinggal di bumi dibandingkan ketiga lainnya. Kisah beliau tentu tidak akan terpuaskan jika ditulis sekaligus saat ini. Semoga saya mampu berbagi di lembaran lain di kemudian hari, insya Allah. Saya hanya menulis sedikit inti hikmah yang beliau sampaikan, antara lain kebersamaan dengan Allah yang sangat penting, hal-hal seputar rumah tangga, dan keberhati-hatian terhadap nafsu yang dimiliki oleh laki-laki meskipun laki-laki itu sholeh.

Meskipun ustadzah Yan memaparkan banyak, tidak berarti ketiga lainnya hanya diam. Satu per satu bicara seputar hal serta hikmah yang dialaminya, tentu sambil berkutat dengan nilai sang bintang. Ustadzah Sin menceritakan hikmah yang masih terkait nafsu laki-laki, ustadzah Fik berkisah kegemarannya untuk "menerima" dan ke-"anti"-annya dalam menolak, kemudian saya yang tidak perlu dipanggil ustadzah bercuap sedikit tentang yang saya rasakan selama di Kawaakib. Dari cerita serta hikmah yang disampaikan oleh masing-masing kami, kemudian diwarnai tanggapan positif pula, saya merasa inilah ukhuwah. Tidak ada istilah "menggurui" dari kebersamaan itu, walaupun secara formal panggilan kami adalah guru. Sesama guru atau saya lebih suka istilah pendidik, kami saling terbuka menerima input-an hikmah dari sesama kami.

Semoga dengan sikap kami yang terbuka itu, dapat diteruskan oleh para bintang. Ternyata, kami berempat memang sengaja dikumpulkan oleh Allah untuk belajar. Ini adalah awalan, semoga langkah kebersamaan dan pembelajaran terus terukir karena Allah-lah tujuan kita.



@ruang
_5 okt'13_ 06. 03

Jumat, 13 September 2013

Kutipan dari Buku Jalan Cinta Para Pejuang

Entah kenapa aku senang sekali dengan untaian kata di bawah ini.

kecocokan jiwa memang tak selalu sama rumusnya
ada dua sungai besar yang bertemu dan bermuara di laut yang satu; itu kesamaan
ada panas dan dingin yang bertemu untuk mencapai kehangatan; itu keseimbangan
ada hujan lebat berjumpa tanah subur, lalu menumbuhkan taman; itu kegenapan

tapi satu hal tetap sama
mereka cocok karena bersama bertasbih memuji Allah seperti segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, ruku' pada keagunganNya.

(Salim A. Fillah)

Selasa, 03 September 2013

Kawaakib the series (2)

Di antara bintang-bintang itu tiada yang sinarnya mengungguli sinar bintang lainnya. Setiap bintang memiliki ciri khas yang unik. Tiada yang sama persis karena bintang-bintang itu unik sebenar-benarnya. Begitu pula bintang di galaksi Musa, biarlah aku sebut begitu. Sinar di galaksi tersebut sungguh beragam serta tajam, tetapi indah tiada tandingan. Kompleks menjelaskan keindahan galaksi tersebut, bahkan aku pun tercengang saat pertama melihat.
     Dalam hitungan jam ada saja peristiwa "rusuh-ajaib" yang membuatku terheran. Kegemparan adalah keunikan galaksi tersebut. Bintang yang selalu bergejolak untuk saat ini ada tiga: Fattah, Royhan, Abdan. Ketiga bintang itu indah dan akan lebih indah lagi pada waktunya.

@kawaakib
3 Sept'13_ 14.38

Senin, 02 September 2013

Bimbang

Saat pikiran banyak bercabang
Pilihan-pilihan pun kian membentang
Di saat keharusan dan keikhlasan berperang,
Sederhanakanlah hati dengan sabar serta juang
Memang jalan kebaikan ini sungguh panjang
Pastikan diri tercatat sebagai pemenang
Allah ingin kelak di antara kita dan wajah-Nya tiada penghalang

Bismillah.. Aamiin


@ruang
2 Sept'13, 17.55