Rabu, 08 April 2015

Cahaya Dunia Itulah Dirimu: Guru (2)

Murid yang cerdas, sholeh, dan kreatif pasti dibentuk oleh guru yang sabar dan luar biasa hebat. Inilah salah satu pengajar favorit saya di sekolah para bintang. Guru yang unik, sangat kreatif, dan eeemmmmm..... saya adalah satu dari sekian banyak fans sang guru ini.

         Di sebuah kelas yang ribut, sang guru memulai dengan sapaan uniknya ditambah ekspresi yang hanya miliknya. Ya, ekspresi itu telah didaftarkan untuknya, hehe . Jika ruang kelas adalah panggung drama, sorotan penonton pasti tertuju pada guru itu. Saya senang sekali melihat kedipan serta binaran matanya yang cling..cling.. seolah memenangkan sepeti emas. Bukan hanya bahasa tubuhnya yang menarik, melainkan segala pelajaran yang diajarkan pun menjadi sangat menarik. Pelajaran sang guru tidak pernah membosankan, tidak ada yang dinamakan pelajaran yang sulit, semua pelajaran serta pembelajaran menjadi sangat mudah. 

         Tahun yang lalu, sang guru mengajarkan pelajaran matematika dan bahasa Inggris, dan mulai terlihatlah keahliannya dalam mengolah media pembelajaran matematika. Menarik, unik! Saya merasakan kebahagiaan sang guru untuk menyiapan media pembelajaran, yang mungkin bagi orang macam saya penyiapan tersebut sangat menyusahkan dan ribet. Namun, baginya, penyiapan itu menyenangkan ;-) LUAR BIASA!

        Cerdas...
         Itulah kesan saya terhadap sang guru. Di dunia ini memang banyak orang cerdas, tetapi orang yang cerdas, sholehah, kreatif, dan baik hati aaah.... sedikit banget dan sang guru itulah salah satu dari yang sedikit itu. Ini hanya sedikit apresiasi saya terhadap sang guru, yang juga termasuk sahabat seperjuangan saya dari jenjang SMA. Saya banyak belajar dan harus terus belajar dari dirinya. Kekonsistenan dan semangatnya berjuang sungguh dahsyat. Dirinya tidak luput dari kesalahan, tapi saya tetap mencintainya.

Ana Uhubbuki Fillah


Sulaiman class


Musa class

@Sulaiman class
9 April 2015_ pkl. 11.22

Minggu, 05 April 2015

Tentang Sebuah Training

Yel-yel "Guru Istimewa":

Kami guru, istimewa...
Lembut namun berwibawa..
Penuh percaya diri,
Kreatif dan semangat..
Kami guru...Istimewa

Guru istimewa.....

YESS..!!!

         Itulah salah satu salam pembuka yang disampaikan trainer saat saya dan ketiga sahabat dari sekolah para bintang mengawali training. Training ini diselenggarakan oleh penggagas sekolah berdasarkan karakter, yaitu Ibu Ratna Megawangi dan Bapak Sofyan Djalil, di gedung IHF, Cimanggis, Depok. Baiklah, training ini memakan banyak waktu, bayangkan 6 hari! Bagi saya itu waktu yang cukup panjang untuk dimanfaatkan dengan mengerjakan RPH apabila kegiatan mengajar telah selesai (padahal belum tentu dikerjakan juga sih :p ).

         Meninggalkan rumah selama sepekan sih, bukan hal yang sulit bagi saya, secara ketika kuliah pun seperti itu. Yang berat saya tinggalkan adalah bintang-bintang Nuh. Tumben sekali kan. Alasannya mudah, sebenarnya rehat dari kegiatan mengajar saya senang banget, jika RPH saya selama sepekan saat saya pergi sudah mantap dan tools pengajaran sudah rapi. Alhamdulillah, sepekan training bertepatan dengan jadwal outbound dan tanggal merah, jadi saya hanya meninggalkan para bintang 3 hari masa sekolah.

         Lalu seberapa pentingkah training tersebut, sampai-sampai sekolah rela ditinggalkan 4 orang wali kelasnya berbarengan selama 3 hari? Pentingkah?. Yeah, penting untuk belajar perkembangan sebuah sekolah yang dari tahun 2000 telah konsisten menjalankan konsep sekolah yang "beda", saya rasa demikian. Beda karena semua berlandaskan karakter, tanpa penilaian angka pada raportnya, dan sukses mengundang sekolah dari seluruh wilayah Indonesia untuk bersama membangun karakter bangsa melalui pendidikan.

         Sudah sepatutnya tarbiyah (pendidikan) menjadi landasan pembangunan bangsa. Dimulai dari tarbiyah pulalah dibangunkan mental-mental pejuang. Bagaimana mungkin kita berlepas  dari amanah pertama, sebelum kita menjadi apa-apa, yaitu sebagai da'i atau penyeru atau bahasa kerennya bernama "guru".

         Ini baru pre-prolog mungkin atas berbagai kesan dan pembelajaran selama training sepekan. Semoga saya bisa lebih banyak berbagi atas yang telah saya dapatkan selama training. Dan, ikrar yang saya sungguh harus menyakini diri dengan semantap-mantapnya untuk diucapkan: saya siap belajar menjadi guru istimewa di hadapan Allah (bagi dunia)! In sya Allah.






@ruang
5 Apr'15_ 17.53
Ditemani bunyi geluduk yang bersahut-sahutan

Sabtu, 14 Maret 2015

Ilmu Kami Sebatas Tong, Ampunilah Rabb

Bismillah..

         Tumpukkan ratusan bahkan ribuan buku tiada menghasilkan manfaat jika tiada pernah dibuka, dibaca, dipahamkan, dan diamalkan. Proses meraih ilmu yang bermanfaat ternyata memerlukan waktu yang panjang, pengorbanan yang tidak sedikit, serta peluh yang bercucuran. Itu tidak seberapa jika iming-iming keberkahan yang banyak dari Allah. Saya terinspirasi dari perjuangan beberapa Imam terdahulu, salah duanya adalah Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad, semoga Allah merahmati mereka, yang dikisahkan dalam buku Salim A. Fillah, berjudul "Lapis-Lapis Keberkahan".

         Kedua imam tersebut sungguh luar biasa besar semangat juangnya meraih ilmu guna memahamkan hadits Rasulullah shalalahu 'alaihi wasalam. Ilmu keduanya mendalam, namun sikap mereka sangat merendah, saling menghormati sesama pembelajar. Masya Allah. Sungguh jauh sekali dengan sikap kami saat ini. Kami mungkin pembelajar, pembelajar dadakan, pembelajar cabutan, yang sering mengeluh lelah tak berdaya. Kami merasa banyak kelemahan atau ke-dhaif-an mencari ilmu, tetapi tetap saja sesaat setelah memperoleh ilmu seringkali sedikit banyak muncul arogansi dalam hati, astaghfirullah.

        Ada peribahasa yang cocok bagi kedua imam tersebut, yaitu seperti padi, semakin berisi semakin merunduk. Lalu apalah kami yang tong kosong nyaring bunyinya. Ya Allah, lindungilah kami dari kesombongan, bahkan secelup kesombongan yang tidak pantas kami tunjukkan.




@ruang
14 Maret'15_ 18.38
Book inspiration

Senin, 09 Maret 2015

Cahaya Dunia Itulah Dirimu: Guru (1)

         Bukan bermaksud membanggakan diri sendiri dengan profesi saat ini. Namun, saya menyaksikan sendiri betapa luar biasa para kawan-kawan guru yang sepenuh jiwa raga membimbing murid-murid agar semuanya menjadi bintang kelak. Luar biasa! Saya adalah salah satu saksi hidup sekaligus banyak belajar dari guru-guru "sakti" itu.

         Guru bukanlah profesi bergengsi, bukan pula profesi bergaji tinggi, apalagi sekarang seringkali sudah dianggap "obral" harga diri demi sertifikasi. Aaah.. itulah pengorbanan dan sebentuk konsekuensi atas pekerjaan yang begitu mulia. Para guru hanya manusia biasa yang sebenarnya tidak juga telah berhenti belajar. Jika ditemukan guru yang tugasnya hanya mengabsen siswa, memberi tugas, menilai lembar tugas siswa, dan duduk manis membagikan raport, itu namanya guru biasa, sebut saja guru "permukaan"

         Saat ditakdirkan Allah belajar sebagai guru di sekolah para bintang, saya pun menyadari tugas guru sejati bukan hanya berjudul memberi tugas kepada siswa dan menunggu siswa menyelesaikan tugas. Bukan sama sekali. Pekerjaan ini penuh konsekuensi, diliputi amanah mengerikan jika dilalaikan, dan meletihkan ternyata hiiks..

         Allah...
         Allah ingin kami, para pengajar di sekolah bintang, terus belajar, belajar membentuk generasi Robbani sebagaimana dahulu Rasulullah mengajarkan, membimbing, para sahabat, dari mulai sahabat dewasa sampai para sahabat cilik di waktu itu. Yaah, tugas kami belum seberapa dengan perjuangan Rasulullah dalam membela pendidikan agar seluruh umat Rasulullah merasakan, menikmati, dan mengamalkan Islam melalui pendidikan.

         Saya merasa sangat bersyukur kepada Allah telah berkesempatan mencicipi pendidikan Islam walaupun sebagian besar bukan berasal  dari sekolah formal. Rasa terima kasih kepada para guru-guru yang dengan pengorbanannya telah memberikan upaya optimal agar pendidikan terus berlanjut. Dengan pendidikan itulah Islam senantiasa tersebar hingga saat ini. Saya sangat berharap serta meminta pertolongan Allah agar kami diberi kekuatan untuk melanjutkan amanah pendidikan sehingga tugas kami sebagai manusia pun terjalani: khalifah fil 'ardh. Aamiin




NB: I have so many favorite teacher-learners at "Stars" school. Someday i will pick them in my blog. In sya Allah. ;-)





@Kawaakib, Nuh class
10 Maret'15  11:07

Minggu, 01 Februari 2015

Waktu

                                         Waktu mungkin akan semakin lari menjauhi, tidak masalah jikalau berkah telah menaungi.

Banyak orang yang terperangkap dengan waktu. Sering pula menyalahkan waktu dan terlebih sering menyesali atas waktu; tentu menyesali lebih baik daripada menyalahkan. Bukankah manusia telah dikenal dengan keterburu-buruannya? Dan ketidakpusannya? Sebenarnya kita harus bersyukur karena masih diberikan nikmat kepekaan hati dalam menyikapi waktu. Dengan kata lain, kita telah sadar bahwa waktu kita terbatas dan patut untuk dimanfaatkan dengan kualitas super; super beramal, super mencari nafkah, super menjadi pribadi yang dilabelkan "khalifah" di hadapan Allah.

         "Demi masa"

Allah penguasa langit, bumi, beserta isinya bersumpah atas masa (waktu) tertuang dalam Qur'an surat Al-'Ashr. Luar biasa, kita harus terus berupaya belajar memanajemen diri kita atas waktu, waktu yang Allah berikan untuk kita siasati sebagai khalifah di bumi-Nya. Waktu yang akan disia-siakan oleh manusia dan tersebutlah akan kerugian manusia itu.

Semoga saya, anda, dan kita bisa saling mengingatkan dalam kesabaran dan kebenaran. Siapkah diri untuk menjadi pribadi beruntung dengan bersyukur atas waktu yang telah Allah sediakan untuk kita,

Wallahu'alam




@ruang
1 Feb'15_ 20.52
di saat-saat puncak musim hujan versi BMKG

Senin, 05 Januari 2015

Kerja...Kerja... Ayo Kita Kerja!

Bakat itu akan terkalahkan dengan kerja keras

Mungkin tahun demi tahun telah membuat kita tahu bakat atau keterampilan kita ada di bidang tertentu. Namun, ada pula sebagian orang yang masih berbiarkan begitu saja bakatnya alias tidak mau mencari tahu atau mengasah kemampuan dirinya sendiri, padahal telah berpuluhan tahun dia hidup. Seringkali saya merasa ingin bisa ini, ingin bisa itu (kayak lagu doraemon), pernah juga merasa iri sambil berkata dalam hati, "Kok dia hebat banget sih, bisa begitu, pengen juga deh". Maklum saya cuma manusia biasa yang penuh rasa keinginan dan sifat jelek, salah satunya iri.

         Bangkit! Saya selalu mencoba menanamkan semangat, Allah Maha Melihat USAHA kita, bukan hasil! Jika kita menginginkan sesuatu, raihlah itu dengan usaha optimal serta maksimal. Tidak ada waktu untuk menangisi, mengiri-i, apalagi menyumpahi orang lain. Meskipun, mungkin saja apa yang kita inginkan sangat jauh dari bakat kita, wallahu'alam, toh kita akan bersama dengan apa-apa yang kita cintai, bukan yang kita kuasai/miliki. Saya pun terus melatih diri agar senantiasa berani mencintai apa yang saya ingin capai.

         Kita harus lebih cepat dari sebagian orang yang belum sadar makna kerja keras dan indahnya perjuangan. Tak perlu hiraukan rasa malas dan kenyamanan penuh rasa santai yang sengaja diciptakan setan berkepala hitam. Musuh terbesar kita bukanlah orang-orang yang ada di seberang lautan sana, melainakan sosok yang terlihat saat kita bercermin, yaitu diri kita sendiri. Bismillah, keep fighting!




@ruang
6 Janu'15_ 05.59 saat harus ke sekolah
        

Sabtu, 03 Januari 2015

It's New Me!

Saya sepertinya harus buat akun blog baru untuk menulis serpihan perasaan saya terhadap profesi saya saat ini (pengajar/guru), khususnya di tempat mengajar sekarang. Berjuta perasaan saya pikir perlu di-share, entah itu terhadap para dosen cilik saya, rekan kerja yang makin beragam sikapnya, dan sekelumit kisah yang cukup membuat otak saya terisi kerumitan. Kenapa harus bikin baru? Karena ada sedikit kecemasan jika tulisan saya akan membuat kehebohan, secara kepsek, wakepsek, dan beberapa rekan sudah tahu alamat blog saya yang ini. Mending jika kehebohannya positif, kalau ketahuan ada yang "tidak seharusnya" ditulis dan digrebek nantinya bagaimana? Aduh agak berlebihan, tapi mungkin terjadi juga.
 
        Kecemasan saya bukan tanpa alasan, pernah suatu ketika dalam fit and propper test  (semoga ejaannya betul) kepsek berpesan di akhir tanya jawab tersebut begini, "Saya harap pembicaraan ini hanya kita (saya,beserta jajaran manajemen) yang tahu, jangan sampai teman yang lain juga tahu, apalagi tulis di BLOG," begitulah ujar pak kepsek dengan redaksional berbeda dikit. Saya sih bukan ke-ge er-an blog saya dibaca kepsek, cuman itu berarti kepsek tahu saya cukup aktif nge-blog. Itu baru satu, belum lagi rekan sekaligus teman pulang kerja bareng yang cukup sering baca blog ini dan agak memantau saya, hehehe. Saya sih tidah khawatir beliau akan lapor jika ada kejanggalan atas isi blog ini, cuman rada gimana gitu. Rekan kerja yang lainnya juga pernah memberi saran untuk lebih hati-hati dalam nge-blog apalagi menceritakan sekolah. Kalau bisa disamarkan nama yang bersangkutan untuk lebih aman dan menjaga perasaan, begitu kata beliau. Wuuuihh, kebebasan saya jadi lebih terbatas yaah. Lagipula, selama ini saya tidak merasa ada yang mengandung penghinaan, unsur SARA atau hal buruk lain dari isi blog ini, hanya saja saya harus lebih ekstra ketat lagi nih mulai sekarang, bahasa kerennya bermain cantik, asyiiiiiik. 

         Dugaan saya pun saya bakal kurang aktif  nge-blog dari tahun sebelumnya, terjadi penurunan signifikan bagi saya di tahun 2014, terutama pas masuk tahun ajaran ganjil kemarin, lebih berasa capek ngajarnya, huhuhu. Semoga itu hanya dugaan yang tidak benar. Saya ingin lebih banyak menyalurkan pendapat saya di tahun ini: 2015. Terus terang satu semester kemarin (Juli-Des'14) adalah momen yang terpuruk bagi saya, momen tersedih saya ketika mengajar di K****K*B, so many things i want to share, but no time, no passion about blog or write at all. Ketika satu semester itu berlalu, ada sedikit harapan saya bisa lebih menjadi saya, artinya bisa lebih happy dari sebelumnya, lebih passionate dari sebelumnya, dan lebih disayang Allah... Aamiin *yang terakhir beneran harapan penuuuh*

         Semester ini saya sadar telah mengawalinya dengan buruk secara administrasi sekolah. Kenapa? RPP untuk 5 buku, belum 1 pun kelar tuntas, padahal tinggal besok, tinggal beberapa jam lagi saya sudah masuk kelas lagi, tapi... Aapaaaa? Belum selesai. Hebatnya saya tidak mengalami ketegangan seperti sebelumnya, kenapa ya, aneh banget ini. Saya pun bingung. Ya Allah, ampuni hamba. Penurunan kerja secara administrasi bukan berarti saya "habis", malah sebaliknya, saya senang telah mengakhiri akhir semester dengan puas baca, puas meluapkan tawa, dan semoga barokah yaah. Saya berpikir keras, ternyata kehidupan saya kacau jika semua hal ditumpuk seperti semester kemarin, saya merasa kurang bebas berekspresi saking tertekan dengan pikiran saya bahwa saya tidak mampu mengajar, tertekan dengan perasaan khawatir terhadap ini-itu. Cukup! Sekarang saatnya saya mulai banyak lagi membaca: baca Qur'an lebih khusyuk, baca novel biar syaraf tidak terganggu, baca buku lintas ilmu agar makin terpacu, terakhir banyak bertafakur dengan nge-blog jika perlu, hihihi.




@ruang
4 Janu'15_ saat azan dzuhur berkumandang

*this my first note in 2015 :-)