Selasa, 14 Juli 2015

Cooking "Freak"

         Sudah dua hari ini saya melakukan "penebusan" dosa terhadap orang-orang di rumah, terutama kakak. Tentu saja bukan berupa sujud mohon ampun, melainkan dengan masakin sahur. Yap..yap..yap.. penebusan yang menyenangkan bagi saya yang seneng kreasi dan seneng icip-icip. Masalah rasa itu urusan belakangan, yang penting berani coba dulu. Lagipula, bagi saya rasa makanan itu mengikuti perasaan  dan suasana hati (deeeuh..gaya euy).

         Yang perlu ditekankan, saya masak bukan karena keadaan yang mepet mau jadi istri orang, kok. Memang saya senang dari dulu. Hanya saja harus sendiri masaknya, biar ga dengar suara sumbang yang mempengaruhi suara hati dengan teriakan, "Kurang tuh bumbunya..", "Jelek banget sih bentuknya...".  Nah, pelajaran bagi diri sendiri, nanti jika ada adik, anak, keponakan, mau bantuin masak, hindari banyak intervensi selayaknya suara-suara sumbang tersebut. Biarkan dulu "si rekan masak" itu tunjukkan kebolehannya dan lakukan apresiasi saja di awal. Jika hasilnya sudah jadi, baru deh kita evaluasi bareng, begitu lebih ademkan?

         Setelah kemarin menghidangkan masakan jenis sayur, yaitu sop jagung campur sosis, hari ini berkreasi dengan dada ayam tepung. Jika masak sop jagung, saya sudah tergolong pakar (hihi, padahal masih nyontek resep) karena sudah lebih dari 2 kali bikin, nah, hari ini mencoba resep dengan saus teriyaki. Baiklah, judul masakannya adalah Katsu Saus Teriyaki. Perdana nih bagi saya, semoga rasanya ga ancur-ancur banget bagi orang rumah walaupun kayaknya tadi keasinan dikit, deh.

Bahan dan bumbu sederhana:

Bawang bombay setengah atau kurang dari itu,
2 siung bawang merah,
1 siung bawang putih,
Cabe rawit,
Merica,
Garam,
Gula,
Saus teriyaki,
Nugget atau Katsu.

Cara bikinnya tinggal iris semua bawang dan cabe, tambahin saus teriyaki dan sedikit air, baru meluncurlah bumbu sejenis garam, gula, dan merica. Aduk. Siram deh ke nugget atau katsu yang sudah digoreng sebelumnya.

Yuk..yuk..mari makan



@ruang
15Jul'15_ 03.57

Selasa, 07 Juli 2015

Sebelum "Hujan" Berhenti

Sekian lama memendam rasa untuk dapat memiliki, sampai akhirnya tertinggallah.

Itulah ungkapan yang tepat bagi saya sekarang. Saat terputar lagi musikalisasi Sapardi Djoko Damono, teringatlah dan terpuncaklah hasrat mempunyai buku sajaknya, walau hanya satu. Padahal, telah lebih dari setahun keinginan itu muncul, yaitu sejak buku kumpulan sajak "Hujan Bulan Juni" dicetak ulang dengan hard cover pula.

Biasanya saya beli buku enaknya di TM Bookstore, Depok. Karena selain didiskon 15% all book, disampulin juga untuk buku seharga di atas dua puluh lima ribu. Kalau sudah ke sana, sayang kalau cuma beli 1 buku, biasanya saya beli lebih dari 2. Nah, itu dia persoalannya, bisa gawat keuangan jika saat-saat ini belanja buku. Terlebih lagi saya keseringan kalap, asal-asal ambil buku yang nampaknya oke.

Jadi, bagaimana ini? Kayaknya mesti menyisihkan uang "dikit" untuk beli buku kumpulan sajak itu. Terpaksa di Gramed, deh.. dan bawa uang ngepas atau pakai kacamata kuda supaya ga naksir beli buka lainnya.

Selayaknya penyakit, kalau lama-lama dipendam bisa menjalarlah racun ke tubuh lainnya. *Haaalah modus aja* Ya Allah, semoga ini bukan berlebih-lebihan atau nafsu semata. Sudah lama kok, ga belanja buku. Karena pasti ga dapat uang lebaran, jika sebelum lebaran belinya lebih bagus. Baiklah, baiklah, "Hai buku, jangan abis dulu yah." :-D



@Ibrahimclass
8Jul'15_ 13.54

Sempet aja ngeblog kala modul masih bolong XP

Senin, 06 Juli 2015

Saya + Dia = Kami


         Kadang, kita kurang bersabar dan banyak harap-harap cemas saat doa kita sepanjang siang dan malam belum menunjukkan keterwujudannya. Namun, ketika kita mulai "lupa" serta berusaha ikhlas atas doa tersebut, tiba-tiba takdir Allah berbicara dan lantas dengan cepat saja kita akan terkaget-kaget tak siap menjemput bentuk wujud pengabulan doa.

Yah.. itulah manusia. Maunya apa sih? hehe

Skenario Allah tak tertandingi. Di antara rasa syukur dan sabar, Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Semoga saya termasuk orang tersebut. Ya, saya dan dia.

Izinkan saya mengenalkan seorang "dia" yang sebutlah takdir sekaligus kejutan dari Allah.

"dia":

Bukan lelaki tersholeh dari yang sholeh
Bukan lelaki tertampan dari yang tampan
Bukan lelaki terpintar dari yang pintar
Bukan lelaki terkaya dari yang kaya

Lagipula ini juga bukan pemilihan award atau seperti ajang semisal Mister Universe (-.-")


Jika pun lelaki ini bukan ter-wow, tetapi lelaki inilah yang dikirimkan Allah khusus untuk saya. Dikirimkan secara spesial sebagai satu-satunya yang kelak tempat berlabuhnya semua ketaatan saya, selama Allah dan Rasulullah acuannya.


Dengan izin Allah, bersama dialah mitsaqan ghalizha kan terikrar.


Doa dari teman-teman di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini sangat berarti bagi kami.
Bismillah..


aris-fitri.nikahkreatif.com




Dia yang Tak Tahu Siapa

Siapa... siapa yang tiba-tiba mengetuk masuk tanpa isyarat?
Mengenalnya cukup jauh, tapi terkadang terasa dekat.
Hanya berbekal taat yang menjadi pengikat hasrat.
Dengannya, apakah pantas aku menjadi pakaian yang tepat?

Dia terbang cepat..
Menyusuri gelombang angin dan di hatiku kini ia mendarat.




@masjid yg besar tapi sunyi
6 Juli'15_ 14.10
Cukup Allah yang menjaga

Selasa, 30 Juni 2015

Noda Hati

Terima kasih telah memberiku air mata baru.
Di setiap ucap yang kau baluri semangat tapi selalu berakhir semu.
Berikan, berikan lagi semua strategi yang kau anggap jitu.
Mungkin harus kulapisi hati dengan kesabaran agar tak lagi beku.
Yang kau sarankan selalu benar, hanya diriku yang banyak keliru.

Di satu titik: hati ini terus membenarkan dan mematuhimu.
Namun, tak kuasa kudengar cinta berteriak, "Palsu..".
Saat gerak dan tulus tiada menyatu,
Yakinlah, itu semua hanya karena khilafku.



@ruang
2Juli'15_ 21.56

Saat Lelaki Cemburu

Kiranya hanya wanita yang punya sepenuh rasa cemburu yang menggelora.
Ternyata, lelaki pun memiliki rasa yang
sama, bahkan mungkin lebih membara.

         Seorang istri yang marah saat melihat sang suami dikagumi wanita lain sudah sering aku dengar kisahnya. Namun, kali ini berbeda, baru kulihat seorang istri menangis karena sang suami begitu amat cemburu terhadap lelaki lain sampai sang suami pun selalu "mencecar" si istri agar menjaga diri lebih baik lagi. Subhanallah. Sebagai seorang perempuan yang jarang dikagumi, aku merasa sikap sang suami berlebihan. Karena, selama ini toh istrinya tidak pernah terlihat berdekatan dengan lelaki yang dimaksud. Sang suami hanya merasa khawatir melihat sikap lelaki tersebut yang cukup ramah, menyenangkan, dan komunikatif, akan membuat si istri jatuh cinta. Dalam hati aku ingin berkata, "Helloow, emang lelaki itu bakalan menjerat semua hati para perempuan sekitar dan juga bakal suka dengan istrinya, apa?."

         Selidik punya selidik, ternyata modus kekhawatiran sang suami ini telah sampai ke pembicaraan para puncak manajemen. Luar biasa yah. Begitulah kejamnya suatu prasangka. Apabila terus ditiupi rasa was-was oleh syaitan, bisa melahirkan fitnah. Serem. Ya Allah, ampuni kami atas hal-hal yang tak sengaja menimbulkan prasangka bagi orang lain. Kenapa bisa yah, sang suami dari rekan saya itu sebegitu cemburunya? Apa mungkin perasaan itu bentuk adaptasi karena selama ini si istri tidak bekerja dalam lingkup profesional? Atau memang itu sikap bawaan sang suami saking cintanya yang berlebihan dan rasa memiliki yang kelewatan terhadap si istri?  Biarlah hanya dia dan Allah yang punya jawaban. Aku ingin sekali berpendapat lebih banyak, tetapi ada pula kekhawatiran jika nanti suamiku kelak ternyata seposesif itu, bagaimana yah? Jadi, keep calm dulu deh. Cobaan rumah tangga masing-masing dari kita, kan, unik.
Tetap bersyukur, bersabar, dan berhusnudzon sama Allah aja yah, wahai istri dan suami. *aduh, gaya beuut eike ;-D*



@ruang
30Jun'15_ 19.20

Minggu, 28 Juni 2015

Untitled deh...

Bismillah...

Sulit menerima kenyataan bahwa besok adalah "senin". Kenapa harus kembali hari senin? Bukan, bukan karena hari itu hari yang buruk. Ini hanya karena bertepatan dengan situasi yang entah kenapa aku merasa semakin benci untuk saat ini.

Jenuh. Jenuh melihat layar laptop secara bergantian dengan buku pelajaran. Merancang hal-hal yang dipaksakan baru dengan isi kepala yang lama.