Minggu, 20 Oktober 2013

Dunia Surya (Fiksi Bersambung_2)

Sudah pukul 23.11 ketika Surya membuka pagar rumahnya. Rumah terlihat sepi sebagaimana biasa dia pulang shift malam. Hati-hati sampai tak terdengar bunyi, Surya memasuki rumah. Rumah yang mestinya menjadi surga peristirahatan bagi Surya, sudah berubah menjadi tempat kerja kedua semenjak tiga tahun lalu. Beruntung dia pulang saat semua mata di rumah tersebut telah terpejam.
         Badan Surya telah mendarat di tempat tidurnya. Dia mencoba memejamkan mata, mengistirahatkan raganya, tapi tidak dengan otaknya. Otaknya masih berpikir tentang hari esok. Hari seperti hari-hari biasa. Ya, seperti biasa.

Besok harus sampai di toko jam 06.15, lebih pagi dari biasa. Aduuh.. kenapa tiba-tiba barang datang membludak dari gudang hari ini, pas Rio dan Danang libur berbarengan. Berarti besok gua harus masak sebelum Subuh dan ibu udah diurusin sejak kelar masak. Hiduuuup... lu harus bantu gua yaak. Bismillah aja deh.
        

oleh @vtrial, 20 okt'13
17.31

Kamis, 17 Oktober 2013

Kumpulan Manusia dengan Satu Visi

Di antara kami tidak ada jurang curam dalam, tiada pula tembok besar penghalang, tak ditemukan jua ombak penghempas karang. Tidak!

Di tengah kami hanya visi serta mimpi, adapun secercah harap cemas keberhasilan, serta sewujud semangat dalam juang. Ya!

Ketika kumpulan manusia bersatu, memang tidak mudah merangkum pendapat untuk mendapat kata "sepakat" dengan cepat. Itulah gambaran umum kami, para pembelajar di SDIT Al-Kawaakib. Dalam banyak hal kami saling bersilang pendapat. Namun, itulah yang membuat kami kaya. Sebutlah di sekolah ini terbagi dua tim: tim pelaksana dan tim pengolah. Tim pengolah berfungsi menggodok konsep, mendiskusikan, menjadi otak pertama pelaksanaan, dan memfasilitasi kegiatan. Tim pelaksana berfungsi show up terhadap konsep-konsep tim pengolah, ujung tombak keberhasilan dapat dikatakan demikian. Lantas apakah tanpa rintangan kebersamaan kami? Tentu tidak.
         Cemburu pasti ada. Mungkin karena ada hal-hal yang tidak saling kami mengerti. Hal umum yang sering terdengar dikeluhkan adalah jam kehadiran dan tingkat "keletihan". Tim pelaksana kadang merasa berat terhadap jam yang superketat ditambah pula tugas membimbing para bintang dengan ekstra. Mungkin sempat berdesir di dalam hati sebagian orang dari tim pelaksana yang iri terhadap pekerjaan tim pengolah yang lebih ringan. Ini bukan suatu kesengajaan untuk berprasangka, hanya faktor keletihan yang kadang mengusik jiwa sampai terdesirlah kata-kata.
         Perbedaan adalah kekayaan kami. Lapang hati adalah kunci persatuan kami. Sampai saat ini, kesejahteraan umat menjadi mimpi kami untuk selalu kembali menata hati dalam berprasangka baik terhadap saudara-saudari kami. Kita hanya manusia yang memiliki kecenderungan untuk menguasai segala, hingga tanpa sadar sekali-kali kita dikuasai hawa nafsu pribadi.

Wallahu'alam


@ruang
_19 okt'13_ 08.55

Selasa, 15 Oktober 2013

Suara Hati Fanya (Fiksi Bersambung)

Benci aku dengan kehidupan. Hidup yang membawaku mengenal orang-orang pengumbar kebohongan. Jenuh. Jenuh berpura-pura peduli, itulah yang aku lakukan setiap hari. Ingin melangkah jauh pergi, tapi aku hanya mampu bergemul dengan harapan tanpa wujud. Mungkinkah aku beralih sadar untuk mendekap syukur serta pasrah terhadap keadaan saat ini? Jika tidak, entah kapan aku berhasil meloncati kenyataan menuju impian yang sangat ingin kucapai.

Fanya merebahkan diri sambil meletakkan kepalanya di atas rumput, bawah pohon. Saat raga jatuh terkulai ke tanah, pikirannya jauh mengangkasa.



oleh @vtrial, 15okt'13
20.43

Lengkap-sempurna

Pelengkap itu dapat dikatakan pula penyempurna. Jika dalam momen lebaran "harus" ada ketupat, pasti tidak lengkap tanpa ada sayurnya. Seumpama kendaraan bermotor, pasti tidak dapat bergerak tanpa bensin. Apabila dua hal tersebut tidak menyatu, bukan hanya kurang, melainkan tiada daya. Dalam materi pelajaran ekonomi tingkat SMP, terdapat istilah benda subsitusi dan komplementer. Pelengkap adalah benda komplementer. Perlu ditegaskan lagi, ini adalah sebuah pelengkap, bukan sekadar penghias.

@ruang
_15 okt'13_ 20.16

Minggu, 13 Oktober 2013

Maaf

Lisan ini banyak berkilah
   meski sadar diri penuh salah

Sungguh maksud hati ingin berbenah
   namun apatah semangat mudah goyah

Bila memang kata jadi sebab amarah pecah
     maaf nian jangan caci ini lidah

Semua paham jikalau dapat bersatu arah
    tentu tak kita kenal bahwa berbeda itu indah





@ruang
26 Jan'14_ 20.51

Selasa, 08 Oktober 2013

Hantaman Mental Sang Bintang

Akhirnya bintang itu bisa menangis pula. Dari sekian bintang laki-laki hanya dialah yang belum pernah terlihat menangis di galaksi Musa. Jika para bintang lainnya menangis karena ada "senggolan" fisik dengan bintang laki-laki lain, bintang satu ini berbeda. Usut punya usut dia menangis karena DISALAHKAN oleh salah satu bintang perempuan dalam suatu permainan yang bernama "kotak pos". Bukankah itu hal yang unik? Saat bintang lain sebagian besar menangis karena "hantaman" fisik, bintang ini menangis karena "hantaman" mental. "Hantaman" mental ini pun bukan diberikan oleh sang pendidik, melainkan oleh temannya sendiri. Memang mungkin begitulah warna bintang Azka.




@ruang
_9 Okt'13_ 05.43

Senin, 07 Oktober 2013

Sebuah Evaluasi Saja

Saya mengajar dua galaksi (baca:  kelas) hari ini dan di kedua galaksi itu pula ada seorang  bintang (baca:murid) yang menangis. Astaghfirullah. Ada apa pula ini? Di galaksi Musa bintang Hani yang menangis, sedangkan di galaksi Ibrahim yang menangis adalah bintang Naufal. Sungguh, saya tidak bermaksud buruk, terlebih lagi materi yang disampaikan adalah cara berdoa.
         Jika saya ambil benang merah, metode pengajaran saya mungkin yang belum cocok dengan kedua bintang tersebut. Saya membagi satu galaksi menjadi empat kumpulan lalu tiap kumpulan menebak pertanyaan dari saya, yah semacam kuis. Tentu saja dalam sebuah kuis ada yang menang dan kalah, dan ketika tim bintang Naufal sudah tertinggal jauh poinnya dari yang lain, menagislah dia. Sebutlah putus asa.
         Berbeda dengan yang dialami bintang Hani. Di galaksi Musa setiap bintang mengungkapkan jawaban secara individu, namun jika benar satu tim yang mendapatka poin. Saya baru menyadari bahwa di galaksi Musa, suara individu mewakili tim, sedangkan di galaki Ibrahim semua kolektif, disuarakan bersama. Kembali ke permasalahan bintang Hani, ternyata bintang Hani menangis karena ketika teman-teman di timnya dibantu oleh saya, sementara dia tidak. Astaghfirullah. Padahal saya tidak bermaksud membeda-bedakan. Saya selalu memperlakukan para bintang itu sama, sewajarnya. Namun, bagaimana pun saya pun seringkali lupa, khilaf. Semoga hal ini dapat menjadi pembelajaran bagi saya.
Aamiin.


@ruang
_7 okt'13_ 19.40