Kamis, 07 Agustus 2014

Asal Mula Kelegaan

Tenang sekali di malam Jumat penuh rahmat ini. Tumben!

Bukan berhubungan dengan hari apa ini sebenarnya, melainkan momen hari esok yang biasanya saya "benci" sekali. Momen apakah itu?

Taraaaaaaaaah....
Back to school with many of tasks administration not finish yet!
Maaf jika penulisan sok bener bahasa Inggris saya keliru.

Datang dari mana sih ketenangan saya itu. Mungkin dari penemuan saya terkait masa depan, passions, harapan, yang semoga saja berkah dari kesakitan saya di dua hari akhir Ramadhan kemarin. Harapan itu bukan terletak di rumah para bintang yang mulai hari Senin akan saya temui memang, namun, saya merasa lebih "plong". Plong karena mengetahui, menyetujui kemudian akan mempertahankan gairah serta aroma masa depan itu.

Jalan kebaikan itu banyak sekali, salah satunya menjadi pendidik di rumah para bintang. Akan tetapi, saya ingin melipatgandakan jalan kebaikan dengan kebermanfaatan, serta gairah kebahagiaan terhadap mimpi saya. Proses menuju mimpi itu masih panjang. Oleh karena itu, saya harus menyelesaikan program, kewajiban, tantangan di tempat saya berkreasi sekarang hingga 2 tahun mendatang. Harus segera selesai dengan sebaik-baiknya dengan niat jihad (kebersungguhan) sebenar-benarnya karena Allah. Sungguh, dengan itulah saya berharap Allah memudahkan serta mempercepat jalan untuk mencapai mimpi yang saya idamkan. 

That's it! Bismillah
Jika tantangan itu mudah dilalui, pasti syurga kehilangan aroma nikmatnya.
Nikmatilah perjalanan, mintalah Allah untuk menguatkan.

Fighting!!!



@ruang
7 Agustus 2014_ 19.04

Jumat, 25 Juli 2014

Ketulusan

Baru saja saya mendapat broadcast via grup WA tentang kegigihan para saksi untuk kemenangan presiden nomor urut 1. Mereka datang dari berbagai provinsi di nusantara, yang awalnya hanya bertugas menyampaikan dokumen terkait hasil pemungutan suara di daerah mereka, ternyata harus berjuang menangani kecurangan selama berhari-hari.

         Bagi saya perjuangan mereka luar biasa, begitu tampak komitmen serta pengorbanan mereka. Seolah-olah perang sudah di depan mata dan tiada lagi alasan untuk mundur. Walaupun, ini memang sebenar-benar perang secara "ideologi kekuasaan". Ketika di 10 malam terakhir Ramadhan, saya dan sebagian teman berenak-enakan ber-i'tikaf, mereka BEKERJA. Ketika sebagian besar rekan telah pulang kampung berkumpul dengan keluarga, mereka tetap BEKERJA. Saya kehilangan bahasa untuk semangat mereka. Tadinya saya pikir yang saat ini sedang berjuang sangat keras hanya saudara-saudari di Gaza, nyatanya saudara-saudari di tanah air pun sedang berjuang keras dalam ranah yang berbeda dengan tujuan yang in sya Allah sama.

         Masya Allah...

         Mereka yang berjuang di tanah air ini, belum mencapai perjuangan sekelas saudara-saudari di Gaza. Jika perjuangan mereka berhasil pun, mereka hanya tetap menjadi rakyat Indonesia biasa, tanpa harta melimpah, jabatan, serta popularitas. Namun, bukan itu nilai yang harus kita ambil. Saya melihat nilai ketulusan dan kedambaan tegaknya keadilan di bumi ini dalam perjuangan mereka.

         Berjuang dengan ketulusan adalah harga mati bagi kita untuk Indonesia dan dunia Islam. Biar Allah saja menjadi satu tujuan.

Wallahu'alam

"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." 

(Q.S. At-Taubah: 20)



@ruang

25 Jul'14_ 16.50


Senin, 21 Juli 2014

PR Besar

Setiap perilaku kita pasti dimintai pertanggungjawaban, sekecil apa pun itu

...... *blank*

Untuk memulai pemaparan saja sudah bingung duluan. Mungkin karena saya sebagai penulis blog merasa banyak perkataan yang tercatat di blog ini masih jauh dari siap untuk dipertanggungjawabkan. Rumit ya, bahasa saya. Intinya lebih banyak kesalahan dan ke"ngasal-an" dalam isi dan kebenaran di blog ini.

         Selama ini seberapa manfaat tulisan sederhana dalam blog ini? Seberapa banyak pencerahan yang tersurat atau tersirat di dalamnya? Eemmm... Masih menjadi PR besar bagi saya. In sya Allah kesadaran tentang pertanggungjawaban tersebut bukan sebagai peberhentian, melainkan pengawalan yang lebih baik.

Tiada tindakan sesederhana apa pun yang lepas dari pengawasan Allah.

Bismillah..

@ruang
21 Juli'14_ 19.17
Di penghujung Ramadhan istimewa

Selasa, 08 Juli 2014

Pemimpin Cerminan Para Bintang

Di antara dua pasang  ketidaksempurnaan, kami harus memilih. Mungkin bukan siapa yang terbaik dari yang baik, bukan pula siapa yang buruk dari yang lebih buruk. Kedua pasang calon harus dipilih dengan berbagai kebutuhan sebuah bangsa saat ini. Semoga bukan pasangan yang mempercepat azab Allah kepada bangsa tercinta ini.

Bismillah..

Saya bukan ahli perpolitikkan yang mengikuti setiap berita politik beserta memberi komentar cerdas bagi perkembangan politik. Bukan. Saya menulis opini ini sebagai apresiasi, apresiasi kepada para "dosen" cilik yang banyak memberi inspirasi bagi kami, pembelajar sekaligus pendidik. Anak didik kami memberi pencerahan terhadap karakter "lurus" yang seharusnya setiap manusia miliki dalam proses pembelajaran yang tidak mudah bagi mereka. Anak didik kami, yang lebih tepat saya namai para bintang, sangat bersemangat untuk berubah menjadi lebih baik karena Allah, meskipun itu butuh waktu bagi mereka.

Pada awal sebuah tahun ajaran baru, kami akui begitu dahsyatnya tingkat keegoisan para bintang. Dalam bermain, mereka berlomba menjadi pemenang dan selalu menganggap curang sang lawan, tak peduli apa pun alasan dari kemenangan itu. Bagi mereka, kemenangan harga mati, tanpa toleransi. Bukan hanya dalam bermain, dalam belajar mereka berlomba selalu terdepan serta terbaik dalam kompetisi pelajaran. Jika temannya lebih unggul, sedihnya bukan kepalang. Ya, begitu keras hati mereka saat itu.

Kompetisi tidak sehat melahirkan prasangka buruk bahwa sang guru memihak atau tidak seimbang dalam penilaian. Kami pun berpikir sedalam-dalamnya untuk menjadikan para bintang lebih bersinar dengan aura positif. Persaingan dalam kebenaran harus ditekankan. Karakter positif dari mereka harus seluasnya dimunculkan. Bagaimanakah?

Satu langkah pertama:
mengenalkan para bintang tentang lapang dada, kebesaran hati

Langkah selanjutnya:
mengulang-ulang kembali di manapun dan dalam kesempatan apapun  tentang lapang dada, kebesaran hati, menerima kemenangan teman dengan gembira dan tidak iri terhadap kebahagiaan teman

Langkah-langkah selanjutnya:
bersabar menahan hawa nafsu untuk berbalik arah dari lapang dada, kebesaran hati, sambil terus berjuang untuk menjadi yang terbaik dengan cara yang baik

Langkah-langkah tersebut belum selesai sampai mereka dewasa dan terus melakukan perbaikan diri hingga tidak perlu merasa berat untuk berlapang dada di kemudian hati. Biarlah para bintang berkembang dalam pengingatan guru dan sesama teman sampai melekatlah hati yang besar dalam diri mereka.

Perlukah saya mengulurkan banyak kata untuk menghubungkan pembelajaran karakter para bintang di atas dengan pemilihan pemimpin Indonesia saat ini?

Singkat saja, para pendidik seperti kami, terutama saya, sungguh tidak rela menjadikan pemimpin angkuh serta sombong sebagai panutan serta nahkoda ketaatan kami.

Betapa sedihnya melabuhkan ketaatan kepada pemimpin yang tidak memiliki hati yang lapang dalam menerima saran-saran kebenaran. Betapa tidak sudinya memilih pemimpin yang hanya besar prasangka atas kecurangan yang belum terbukti benar dan menyibukkan diri meminta perhatian manusia seolah-olah dirinyalah yang paling tersiksa.

Sungguh malu rasanya jika memiliki pemimpin yang tidak punya kebesaran hati dan enggan menyetujui pernyataan benar dari orang lain, hanya dengan sepotong kalimat singkat, " Ya.. Saya setuju usulan itu.."

Hina sekali seorang pemimpin beralibi dengan santai sebuah kritikan dengan ucapan, "Mungkin, anda salah dengar atau salah lihat.."
Seandainya pun sang pengkritik salah dengar atau lihat, ucapan itu tidak dapat dikatakan pantas untuk seorang pemimpin BERHATI BESAR.

Pertanyaan besarnya,
Haruskah kita memilih pemimpin yang nyatanya harus kembali ke sekolah dasar untuk mempelajari karakter positif?

#cukupSATUalasanbagisaya


Rabu, 28 Mei 2014

Sulitkah Untuk Adil?

         Beberapa pekan ini galaksi Musa hanya memiliki saya sebagai pengatur kebijakan tanpa satu pendidik yang harus off sejenak. Para bintang perempuan sudah terbiasa sehari-hari bersama dengan kebijakan dan tata cara "ala" saya dalam peer group. Beda hal dengan para bintang laki-laki yang belum sangat terbiasa. Saya pun menjadi heran, jika menangani para bintang secara keseluruhan ( laki-laki dan perempuan) sikap galak saya lebih terasah.

         Suatu pagi di hari Senin, saya menetapkan kebijakan tegas, terutama terhadap tiga bintang laki-laki. Saat tak berapa lama beberapa bintang laki-laki melakukan pelanggaran kebijakan, otomatis konsekuensi pun langsung saya berlakukan. Reaksi para bintang perempuan, biasa: santai, flat. Hal sebaliknya terjadi di pihak laki-laki. Beberapa dari mereka kaget, mulai menghitung poin masing-masing, siaga atau berhati-hati agar tidak melanggar kebijakan, dan mulai beristighfar meski agak dipaksakan.

         Dalam satu sesi pembelajaran yang mendapat konsekuensi memang hanya pihak laki-laki. Ada beberapa bintang yang sudah mencoba mengerti tentang sebuah konsekuensi, ada yang pura-pura tidak peduli, dan ternyata ada pula dua bintang laki-laki yang kasak kusuk "ngerumpi". Kedua bintang tersebut merasa terdzalimi atas kebijakan yang tidak pernah diberlakukan oleh pendidik peer group mereka. Serpihan pembicaraan mereka terdengar seperti ini:

         "Kalau ada ustadzah X (pendidik peer group laki-laki), pasti kita dibelain deh. Ustadzah Fitri mah, menangin anak-anak perempuan doang, kita ga dibelain."

         Selama kedua bintang itu kasak-kusuk, saya hanya menatap sambil memperhatikan mereka. Akhirnya, setelah "ngerumpi" berdua, salah satu dari mereka buka suara kepada saya dari tempat duduknya.

         "Ustadzah Fitri mah udah ga sayang sama kita lagi," ujar bintang pertama sambil cemberut

        "Iya, sayangnya sama anak perempuan doang," lanjut bintang kedua dengan wajah yang kesal

         Lalu saya menjawab keluhan mereka dengan senyuman simpul saja, tanpa kata. Bingung sekali menjelaskan bahwa tidak ada ketimpangan kasih sayang terhadap mereka, laki-laki atau perempuan. Jika di galaksi Musa yang merasa tidak diperhatikan lebih adalah pihak laki-laki, di galaksi Ibrahim pihak perempuanlah yang pernah mengatakan bahwa saya tidak memperhatikan anak perempuan. Saya pun menyadari sebegitu pekanya perasaan mereka. Mungkin dalam kondisi seperti itulah keadilan itu diuji sejauh mana dia berhasil teraplikasi.

         Cukup banyak pembelajaran atau bahasa kerennya tarbiyah dari Allah yang saya dapatkan melalui bintang-bintang hebat tersebut. Adil bukan semata-mata memperlakukan secara sama, namun memperlakukan SESUAI dengan yang kadar seharusnya. Rumit ya?




NB: salut dengan kejujuran bintang Azka dan bintang Royhan di tengah kasuk-kusuk mereka.



@ruang_Rabu, 28 Mei'14
21.55

Senin, 05 Mei 2014

Saat "bapil" Kembali Beraksi

Mencari pilihan vitamin C yang harus diasup tubuh itu bikin bingung juga. Sedari kemarin, saya melahap hampir empat buah jeruk yang ternyata baru saya ketahui kadungan vitamin C-nya lebih sedikit dibandingkan buah kesukaan saya, pepaya. Apa boleh dikata, sejak penyakit "rutinan" saya (semoga jadi yang terakhir) memuncak di hari Jumat kemarin, saya mulai mencari-cari solusi penyembuhan terbaik. Sebelum pemuncakan terjadi, saya berniat mencegah dengan obat warungan yang saya minum malam Jumat dan berakibat "putus" ke sekolah keesokan harinya. Niatnya mencegah ternyata malah memperparah.

Saat pemuncakan terjadi, yang lebih dominan adalah pilek, namun batuk sudah mulai menggerogoti tajam juga sebenarnya. Saya tanpa pikir panjang minum obat bentuk tablet batuk pilek yang kelas apotek, bukan warung lagi. Tidak. Ya, tidak memberi efek. Hari Sabtu pun tiba dan kondisi saya membaik sedikit, tapi masih sangat bergantung pada tissue dan botol air minum. Beberapa teman dari ranah kesehatan, ada pula dokter, menyarankan vitamin C sebagai solusi.

Dasar saya memang masih apotek oriented, pikiran saya tertuju dengan kapsul botolan yang berlabel vitamin C. Saya masih ingat ketika masih bekerja di apotek, saya cukup rutin minum vitamin C botolan macam itu. Saat bapil parah saat itu , saya minum ehinacea plus vitamin C berjudul Imbo*s* bentuk effervescence dan ajaibnya bapil memulih tanpa tunggu hitungan hari. Ajaib ya, mungkin karena harganya wooow juga kali ditambah satu bulan menjelang expired date. Bayangkan, isi 10 tablet di atas seratus ribu harganya, subhanallah aja, memang antara terpaksa dan naluri ingin coba saat itu.

Sampai detik ini saya masih menimbang apakah memang harus beli vitamin C botolan untuk pemulihan atau ke pilihan vitacimin C lain. Yang pasti untuk obat saya jauhi dulu karena saya jenuh mengulang alur sakit "rutinan" ini. Obat itu bukan penyembuh, hanya pemulih sementara terutama bagi saya dengan bapil ini. Saya sudah cukup menghitung berapa kali ke dokter untuk berobat dan mengalami daur ulang yang sama setiap 3 bulan. Saya merasa ada yang harus dibenahi dari sistem imun saya yang tidak bisa dibungkam dengan obat. Drug is not solution anymore for me.

Saya tidak boleh kalah dengan kesakitan ini. Ketidaksabaran untuk sembuh juga mempercepat saya untuk menyerah kembali kepada obat. Pekerjaan sebagai pendidik sekaligus pengajar pun mau tidak mau ada masanya untuk stress. Apa jadinya jika dalam beberapa bulan sakit ini kambuhan lagi saat stress tiba-tiba mendera. Yup, mulai latih kesabaran dengan tekun hidup sehat dengan asupan gizi seimbang. Segala sesuatu yang instan efeknya cenderung mudah hilang, biarkan dulu proses hidup sehat berjalan untuk kini dan nanti.

Muslim yang kuat lebih dicintai Allah dan Rasul dibandingkan muslim yang lemah.

It's fruity time!!!  :")

@ruang, Monday night
05 Mei'14_ 21.15

Rabu, 02 April 2014

Luapan

Bagaimana jika kita punya teman yang berbeda?

Beda sudut pandang, cara berpikir, dan gaya.

Banyak hal yang dapat memecahkan rasa pertemanan ini

Luar biasa bagi orang yang dapat menerima dengan mudah
 

Mungkin keikhlasan, keberterimaan, dan kesabaran
Kita semua harus belajar
Belajar dari perbedaan



@kawaakib
2April'14_ 16.42