Kamis, 24 September 2015

Lelakiku Cintaaah

Kepadamu yang tertampan...

Tidak perlu momen khusus untuk menyampaikan pesan
Untukmu yang telah kuberi penuh kepercayaan
Karena terhadapku, hal itu pula yang kau lakukan
Saat pertama kali jumpa, dirimu sudah membuatku terkesan
Berbagai rasa senang dan sedih mewarnai perjalanan
Belumlah panjang memang, tapi kutahu kan banyak tantangan
Semoga mimpi-mimpi besar kita bukan sekadar angan:
   yang hilang ketika cobaan       mengguncang
   yang tertanam malas dan kecewa ketika kertergesa-gesaan menerpa

Cinta...
Aku bahagia karena Allah mempertemukan kita
Syukurku karena Allah menyambungkan ikatan kita
Kini, doakan aku setia bertahan di belakangmu dalam ketaatan
Bersama berjuang meraih keberkahan
Katamu, dengan langkah yang istimewa; bukan yang biasa-biasa saja, agar Allah terpana

Semoga cinta kita diridhai Allah ; -)




@ruangkami
25Sept'15_ 09.44
Jumat berkah indah

Kaum Muslimin . . .

Innalillahi wa innailaihi roji'un..

Begitu banyak tragedi yang menimpa kaum muslimin di dunia saat ini. Tragedi teranyar yang sedang marak-maraknya disorot media internasional adalah tragedi haji di Arab Saudi. Belum lama karena adanya badai, crane jatuh dan menimpa beberapa jamaa'ah haji sampai meninggal. Selang waktu kemudian (baru-baru ini), tragedi Mina menewaskan ratusan jama'ah haji. Dosa kami terlalu banyak, ya Allah.. astaghfirullah.

         Tragedi di Arab terkait haji semoga hanyalah kecelakaan tak disengaja. Adapun selain itu, lebih banyak tragedi penyiksaan terhadap kaum muslimin yang sangat jarang disorot media. Penyiksaan di Suriah, Iraq, Iran, Palestina, dan negeri muslimin lainnya yang jumlah korban jiwanya lebih banyak. Lebih banyak karena telah bertahun-tahun kaum muslimin disiksa oleh penguasa kafir di negara-negara tersebut.

         Saya masih jauh pemahaman tentang itu, tapi saya selalu mencoba membuka penglihatan mata serta hati untuk mengetahui lebih lanjut kondisi umat Islam di dunia. Harus! Karena sesungguhnya sesama umat Islam adalah bersaudara, disaudarakan dengan aqidah. Kelak, di akhirat, kita semua akan ditanyakan tentang kepedulian kita terhadap sesama muslim. Jika memang kondisi umat muslim seperti ini (tertindas), sudah saatnya kita menolong. Menolong dengan strategi dan kemampuan terbaik kita serta doa-doa terkhusus kita bagi keselamatan dan kejayaan umat Islam. Bismillah...




@ruangkami
25Sept'15 _ 07.30

Jumat, 11 September 2015

Komunikasi Efektif versi Parenting

Komunikasi itu penting. Penting pula jika kita memahami makna di balik komunikasi serta cara terbaik dalam mengemasnya, terutama kepada anak. Komunikasi tidak selamanya melulu berhubungan dengan lisan (sebutlah verbal) karena banyak sekali komunikasi non-verbal yang ternyata dibaca oleh anak.

         Saya mulai dari komunikasi yang mainstream atau dikenal baik dengan sebutan cakapan. Anak-anak diciptakan oleh Allah dengan kecerdasan luar biasa. Sedari bayi pun, sang anak memiliki daya tangkap komunikasi yang diberikan dari sang ibunda, misalnya melalui sentuhan atau percakapan. Menurut penuturan ibu Siska, trainer parenting, bayi dari 0-3 tahun harusnya distimulus dengan berbagai kata. Dengan sikap rajin ibu, ayah, dan orang-orang di sekitar bayi dalam berbahasa, secara tidak langsung mempengaruhi struktur otak sang bayi. Masya Allah, keren yaah. Oleh karena itu, pesan bu Siska adalah jangan pernah meninggalkan bayi sendirian dalam keadaan bayi sedang sadar. Sang bayi sebaiknya diajak bicara atau diskusi untuk mengembangkan kecerdasan berbahasa serta menyusunkan struktur otak bayi tersebut. 

          Lalu, apakah cukup sampai dengan anak usia 3 tahun sikap rajin berbahasanya dimunculkan? Ternyata menurut bu Siska, tidak cukup. Anak usia sekolah SD pun (6-12 tahun), ketika ingin tidur sangat penting untuk ditemani orang tua atau orang dewasa lainnya. Hal ini penting untuk menjalin komunikasi yang efektif terhadap anak, terutama bagi ayah ibu yang sama-sama meniti karier sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk anaknya.

         Komunikasi anak di era ini sedikit banyak tercemari oleh perangkat modern. Saat komunikasi tercemar, karakter anak pun sedikit demi sedikit terkikis. Gaya berbahasa anak pun semakin menjurus ke cakapan yang kurang bermanfaat ketika tercemari gadget. Akan lebih baik dan idealnya, anak-anak tidak diberikan gadget sampai usia mereka 9 tahun demi membentuk karakter yang baik. Ajarkan anak bermain dengan alam, kegiatan olahraga, musik, kesenian, kerajinan tangan, puzzle, untuk mengganti keasyikkannya dalan ber-gadget.

         Lantas, bagaimana dengan komunikasi non-verbal? Dalam hal ini sikap orangtua sangat mempengaruhi anak. Anak dapat mempelajari dengan cepat, lalu meniru berbagai sikap orang dewasa, misalnya gaya berjalan, gaya bicara orang yang dekat dengan mereka. Bahkan, saat orangtua memiliki tatapan mata berbeda akan suatu hal, sang anak dapat mengetahuinya. Itulah mengapa tanpa perlu kita berteriak saat marah, anak sudah mengetahui bahwa kita sedang marah hanya dari tatapan mata kita.


Wallahu'alam..
Hanya mampu merangkai cuplikan ucapan trainer parenting istimewa. (Saat training parenting@ SDIT Al-Kawaakib, 5 Sept'15)



@ruang
10 Sept'15_ 20.32
#aaa manah

        

Kamis, 13 Agustus 2015

Perjalanan Dengan Cinta

Bismillah...

Senangnya, akhirnya saya si penduduk setia Jakarta bisa jalan-jalan ke luar kota (lagi), selain Jabodetabek. Ini bukan yang  pertama kali ke luar kota memang, tapi saya yakin ini yang terindah, aamiin, karena inilah debut awal bagi saya di perjalanan kereta bersama suami tercinta selama 9 jam.

         Hari ke-12 bersuami, dan 12 hari sebelumnya belum full bareng-bareng dengan setumpuk agenda masing-masing dari kita. Semoga perjalanan panjang ini bisa memupuk rasa cinta yang lebih dalam lebih indah, serta lebih berkah. Seyogianya, penting dalam hubungan rumah tangga sesekali melakukan perjalanan panjang berdua, terlebih bagi saya yang senang jalan-jalan keliling. Yaaahh, terutama karena kami masih tergolong pasangan baru juga kali ;-P..

         Awalnya kami rasa cocok jika jalannya ke Bandung atau sekitar sana saja, tapi si "cintaah", suami saya, dalam kurang dari 5 hari sebelum perjalanan mengganti usul untuk ke Yogya. Baiklah, jadi deh ke Yogya. We're coming Yogya.....


@Kereta Api Taksata
13Agust'15_ 16.25

Rabu, 22 Juli 2015

Bosan....Lalu Aku?

Bosan?

Di-enjoy-in aja...

         Apakah krisis aktivitas yang menyebabkan timbulnya rasa jenuh atau bosan? Sering kan, kita merasakan bete, sebel, dan bingung mau berbuat apa ketika teman yang kita tunggu tiada tampak batang hidungnya. Yang paling sering kita lakukan saat menunggu adalah bolak-balik melihat gadget atau sebutlah semisal hape, padahal tidak ada notifikasi apa pun, hiiih, bosan, kan?

         Baiklah, kita sebut saja kejadian di atas sebagai kebosanan tipe pertama. Bosan karena krisis kegiatan: bingung mau berbuat apa. Jika masih punya sekantong kesabaran, kita masih berpositif untuk melakukan aktivitas ringan saat menunggu, misal dari yang paling sholeh mengaji, browsing, atau lihat-lihat sekitar sambil merenungkan tentang hidup (berat yaah). Tetapi hal ringan tersebut, jangan harap bisa mudah dilakukan kalau kita sudah sangat kesal menunggu, bad mood duluan. Ada lagi nih bosan tipe selanjutnya.

         Pagi ini sampai pukul 10.00 ada breifing dan beresin berkas-berkas. Setelah itu, rapat. Pukul 12.00 tepat  menuju restoran atau kantin untuk makan, berbaring di musola sejenak, sholat, dan lanjut deh di depan komputer. Tiba-tiba waktu menunjukkan pukul 16.30 saatnya siap-siap pulang dan memasrahkan diri desak-desakan lagi di KRL. Begitu agenda selama 5 hari berturut-turut dan kemudian diulang lagi selama seminggu, sebulan, setahun, dst. Mungkin banyak orang yang merasa bosan, apalagi tanpa promosi jabatan atau kenaikan gaji selama itu pula. Bete deh. Walaupun tidak menutup kemungkinan ada beberapa orang yang cukup menikmati rutinitas tersebut. Bergantung cara tiap individu memanfaatkan waktu senggang dan liburannya, yah. Bagi saya dan orang-orang unik semacam saya, rutinitas seperti itu bisa banget menjemukan.

         Kita sebut saja peristiwa di atas sebagai kebosanan tipe 2. Bosan terhadap rutinitas. Alhamdulillahnya, kantor dengan pekerjaan seperti itu biasanya menyediakan waktu cuti yang lumayan. Setidaknya bisa dimanfaatkan untuk liburan seminggu full tanpa kerjaan kantor. Lagipula, kebosanan tipe ini bisa pinter-pinter disiasati atau diminimalkan bagi kalangan yang kreatif dan mengenal dirinya dengan baik. Kebosanan selanjutnya, mau tahu?

         Tugas ini untuk besok jadi harus kelar; acara ini minggu depan dan dianggarkan biayanya, harus secepat-cepatnya karena sudah ditunggu bendahara. Perlengkapan untuk mengajar besok juga belum. Oiya, muroja'ah di kelas panjang juga yah, untuk besok. Semuanya untuk besok dan HARUS disiapkan segera hari ini. Yaah, ini mah keseharian saya banget, hehehe, berantakan sangat dan terkesan tidak terstruktur pastinya. Mungkin ini dinamakan bukan kebosanan, melainkan kepusingan. Iya, kalau pusingnya seminggu-dua minggu, bolehlah hanya disebut "kepusingan", tapi kalau sepanjang tahun ajaran? Bagi saya, inilah sejenis kebosanan. Bosan terhadap deadline yang selalu bertumpuk, padahal selalu berusaha dikerjakan sejadi-jadinya. Ya Allah, bosan tipe ini bagi orang-orang semacam saya, bisa banget menyebabkan stress atau depresi jika tidak diolah dengan cantik. Lalu, caranya?

         Peristiwa kebosanan yang baru saya ceritakan, dengan disebut kebosanan tingkat dewa, eeeh, kebosanan tipe 3 adalah kebosanan yang saya pun tidak mengerti lagi harus bagaimana ditangani. Jika saya mampu menangani dengan cantik, tentu saya tidak akan bercurhat panjang tentang aktivitas saya tersebut. Satu-satunya cara adalah berpasrah kepada Allah. Menerima dulu bahwa yang kita lakukan murni sebagai bentuk amanah yang Allah berikan kepada manusia untuk memakmurkan bumi-Nya. Berat kan? Sangat! Kalau mau bilang bosen, yaudah silakan pergi dari bumi Allah ini. Hiks..hiiks.., padahal amalan soleh masih jauh dikerjakan.

         Benarkah hanya saya yang merasakan kebosanan tipe 3 ini? Saya yakin tidak. Pasti banyak teman-teman senasib saya di belahan bumi sana yang juga pernah merasakan hal serupa. Lantas? Yakinkan diri sendiri bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar kesanggupan si hamba tersebut. Ketika Allah ingin menaikkan "harga" serta "kualitas" hamba yang dicintai-Nya, tidak mungkin dengan cara-cara standar.

Bismillah, yuk berhusnudzhan sama Allah. Dibawa asyik aja semua peristiwa yang telah diqadarkan Allah. Jadikanlah itu sebagai bentuk syukur kepada Allah dan tanda bahwa kita sedang dilatih bersabar dengan hal itu.

Ya ampun, beneran saya ngomong begini? Padahal sayalah orang yang paling lemah dan tertatih dalam mempelajari itu. Tidak masalah deh, semoga jadi doa aja.
Wallahu'alam...




@ruang
23Jul'15_ 10.49
Sambil merenungi kebosanan tipe 3


Selasa, 21 Juli 2015

Lebaran Hampir Lewat

H+5

Semoga belum terlambat mengucapkan berbagai doa dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di bulan-bulan berikutnya. Bulan Syawal 1436 H diharapkan menjadi saksi kesungguhan kita dalam beramal sholeh di hadapan Allah, hanya karena Allah, bukan semata menyandarkan diri pada Ramadhan dan setelahnya amnesia.

         Jika pungguk merindukan bulan
         Bukan berarti cinta tak bersambut
         Sadar diri punya banyak kesalahan
         Dimaafkan, ya, kawan berhati lembut

Taqabballahu minna wa minkum
Mohon maaf yah, wahai Ramadhan...

     

~Fitri A.L
@ruang
10.44

Selasa, 14 Juli 2015

Cooking "Freak"

         Sudah dua hari ini saya melakukan "penebusan" dosa terhadap orang-orang di rumah, terutama kakak. Tentu saja bukan berupa sujud mohon ampun, melainkan dengan masakin sahur. Yap..yap..yap.. penebusan yang menyenangkan bagi saya yang seneng kreasi dan seneng icip-icip. Masalah rasa itu urusan belakangan, yang penting berani coba dulu. Lagipula, bagi saya rasa makanan itu mengikuti perasaan  dan suasana hati (deeeuh..gaya euy).

         Yang perlu ditekankan, saya masak bukan karena keadaan yang mepet mau jadi istri orang, kok. Memang saya senang dari dulu. Hanya saja harus sendiri masaknya, biar ga dengar suara sumbang yang mempengaruhi suara hati dengan teriakan, "Kurang tuh bumbunya..", "Jelek banget sih bentuknya...".  Nah, pelajaran bagi diri sendiri, nanti jika ada adik, anak, keponakan, mau bantuin masak, hindari banyak intervensi selayaknya suara-suara sumbang tersebut. Biarkan dulu "si rekan masak" itu tunjukkan kebolehannya dan lakukan apresiasi saja di awal. Jika hasilnya sudah jadi, baru deh kita evaluasi bareng, begitu lebih ademkan?

         Setelah kemarin menghidangkan masakan jenis sayur, yaitu sop jagung campur sosis, hari ini berkreasi dengan dada ayam tepung. Jika masak sop jagung, saya sudah tergolong pakar (hihi, padahal masih nyontek resep) karena sudah lebih dari 2 kali bikin, nah, hari ini mencoba resep dengan saus teriyaki. Baiklah, judul masakannya adalah Katsu Saus Teriyaki. Perdana nih bagi saya, semoga rasanya ga ancur-ancur banget bagi orang rumah walaupun kayaknya tadi keasinan dikit, deh.

Bahan dan bumbu sederhana:

Bawang bombay setengah atau kurang dari itu,
2 siung bawang merah,
1 siung bawang putih,
Cabe rawit,
Merica,
Garam,
Gula,
Saus teriyaki,
Nugget atau Katsu.

Cara bikinnya tinggal iris semua bawang dan cabe, tambahin saus teriyaki dan sedikit air, baru meluncurlah bumbu sejenis garam, gula, dan merica. Aduk. Siram deh ke nugget atau katsu yang sudah digoreng sebelumnya.

Yuk..yuk..mari makan



@ruang
15Jul'15_ 03.57