Sabtu, 23 November 2013

Dad and My Friends

Entah sudah ketiga atau keempat kalinya saat melewati rumah seorang teman laki-laki seangkatan SMA, papa pasti ada saja pertanyaan. Pertanyaannya pun pernah sekali tidak bisa saya jawab. Tanggapan papa setelah saya jawab dari beberapa kali pertanyaannya juga hampir sama (karena pertanyaannya pun sama). Biasanya setelah tanya jawab mengenai teman laki-laki itu, akhirnya melebar ke teman-teman angkatan SMA lainnya. Tentunya teman perempuan semua. Maklum, teman-teman "selingkaran kecil" saat SMA.
         Ya, dari semua teman SMA, yang papa kenal laki-laki cuma satu, Yoga, yang rumahnya persis di pinggir jalan raya. Itu pun pernah namanya terbolak-balik menjadi Yogo, atau apalah disebutnya saya lupa. Saya sedikit meluruskan papa saya kenal dengan satu laki-laki itu bukan karena sengaja dikhususkan, bukan. Berhubung saya ke tempat lembaga Qur'an melewati rumahnya dan hari itu keluarganya ditimpa musibah, saya pun takziah ke rumah Yoga dan papalah yang nanyain ke orang tentang si Yoga ini. Bahkan, papa pun tidak pernah bertemu langsung dengan si Yoga. Tetapi setiap lewatin rumahnya, tetap ada aja pertanyaan.
         Dengan teman anaknya yang bahkan dia tidak kenal bentuk dan rupanya sekalipun, dia tetap tanyakan. Terlebih lagi dengan teman saya yang selalu muncul serta selalu saya ceritakan berulang kali. Papa sangat tahu betul siapa teman-teman saya, berikut juga rumahnya. Bagaimana tidak tahu jika dari SMA setia mengantar anaknya keliling rumah teman.
         Papa selalu tahu sejak SMA saya seringkali pulang bareng Erni. Pernah sekali ketika banjir papa juga tahu saya menginap di rumah Fika. Sudah mengenal jelas rute rumah Dayoh yang rumit. Papa juga pernah bertemu abinya Shabrina dan mengingat tempat menjemput saya ketika main ke rumah Lili. Luar biasa, nama-nama yang saya sebutkan sudah tidak asing lagi. Bahkan ketika Erni menikah dua pekan lalu, papa pasti ikut jika saja tetangga dekat tidak menjadikannya panitia walimahan anaknya.
         Dari SMA saya tidak bisa menyembunyikan tempat saya mengaji dari papa. Papa serba tahu tentang itu. Dari rumah mentor pertama sampai yang sekarang,papa tahu letak rumahnya. Segigih apapun saya tidak ingin diantar, tetap papa pasti usahakan bisa antar dan akhirnya saya jadi keenakan sendiri. Papa itu memang sosok bapak perfeksionis dan perhatian sejati. Saya senang bisa sering berdiskusi sekaligus jadi "tempat sampah" baginya. Papa tuuhh... All the best that i have.
        

@ruang
24 Nov'13_ 14.29

Tidak ada komentar:

Posting Komentar